Akurat

Rupiah Melemah ke Rp16.591 Tertekan Sikap Hawkish The Fed

Hefriday | 6 Oktober 2025, 13:45 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.591 Tertekan Sikap Hawkish The Fed

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tergelincir pada perdagangan Senin (6/10/2025) siang.

Pelemahan ini terjadi setelah munculnya pernyataan dari sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) yang bernada hawkish, atau cenderung mendukung kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Dikutip dari Bloomberg, Senin (6/10/2025), rupiah di pasar spot exchange melemah 28 poin atau 0,17% ke posisi Rp16.591 per USD. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat naik 0,30% menjadi 98,01, menunjukkan penguatan mata uang Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Baca Juga: Rupiah Menguat 3 Hari Beruntun, Naik 30 Poin ke Rp16.634,5

Sebelumnya, rupiah sempat dibuka menguat tipis 1 poin ke level Rp16.562 per USD. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama akibat tekanan sentimen global. Adapun pada akhir pekan lalu, Jumat (3/10/2025), rupiah sempat ditutup menguat 43 poin di posisi Rp16.555 per USD.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini merupakan reaksi pasar terhadap komentar dari dua pejabat The Fed, yakni Lorie K. Logan dan Philip Jefferson.

Keduanya menilai bahwa bank sentral AS perlu berhati-hati dalam menurunkan suku bunga acuan mengingat inflasi yang masih tinggi dan ketidakpastian kebijakan ekonomi domestik AS.

“Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Akibatnya, dolar AS kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” ujar Lukman.

Philip Jefferson mengatakan bahwa inflasi di Amerika Serikat masih jauh dari target The Fed, sementara sejumlah kebijakan ekonomi seperti tarif perdagangan masih menambah ketidakpastian.

Baca Juga: Rupiah Nanjak Lagi 15 Poin ke Rp16.664,5

Dari sisi lain, Logan menyoroti kuatnya konsumsi dan investasi bisnis yang berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.

Kedua pejabat tersebut menegaskan perlunya pendekatan hati-hati dalam kebijakan moneter agar langkah penurunan suku bunga tidak menimbulkan lonjakan inflasi baru.

Meski pernyataan mereka tidak secara langsung mengubah prospek Fed Funds Rate (FFR), pasar menilai komentar itu cukup untuk memperkuat posisi dolar dalam jangka pendek.

Sementara itu, lembaga pemeringkat internasional S&P Global memperkirakan The Fed masih akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) sebelum akhir tahun 2025.

Pelonggaran kebijakan moneter itu kemungkinan berlanjut pada tahun 2026 dengan pemangkasan tambahan sebesar 50 bps, seiring harapan inflasi yang mulai melandai.

Meski begitu, Lukman menilai faktor penutupan sementara pemerintahan AS (government shutdown) tidak terlalu menimbulkan kekhawatiran di pasar.

Dirinya menyebut, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, situasi tersebut biasanya tidak berlangsung lama dan cenderung tidak memberikan dampak besar terhadap fundamental ekonomi AS.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp16.500 hingga Rp16.650 per USD dalam waktu dekat.

Sentimen eksternal yang masih dominan membuat rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas, terutama jika data ekonomi AS berikutnya kembali menunjukkan kekuatan di sektor tenaga kerja dan konsumsi.

Para pelaku pasar kini menantikan sinyal lanjutan dari The Fed dan data ekonomi global yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi