Rupiah Terus Terperosok Mendekati Rp17.000, Bakal Tembus Level Krismon 1998?

AKURAT.CO Rupiah siang ini terpantau terus melemah mendekati level krisis moneter (krismon) 1998 sebesar Rp17.000.
Hingga pukul 11.40 WIB, rupiah terjun 54 poin (0,32%) ke Rp16.738,5 berdasarkan data Bloomberg.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menaksir jika rupiah tembus Rp16.800, maka di Oktober rupiah sangat mungkin tembus Rp17.000. "Baik secara eksternal dan internal semua sentimen mendukung depresiasi rupiah," ujarnya.
Dari eksternal, ketegangan geopolitik di Eripa terus memas usai Trump pada selasa menyampaikan nada yang lebih agresif ke Rusia dalam pidatonya di PBB. Trump juga mengingatkan negara Eropa untuk tak terus membeli minyak ke Rusia, sembari sanksi baru disiapkan washington yang menargetkan aliran energi.
"Meski belum ada langkah segera yang diumumkan Trump, retorika ini meningkatkan risiko geopolitik di pasar, dengan kekhawatiran sanksi lebih keras bisa mengganggu ekspor Rusia dan memicu tindakan balasan dari Rusia," ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Ambruk 77 Poin ke Rp16.687 Ulah Purbaya Atau Trump?
Ukarian di satu sisi dengan bantuan persenjataan dari NATO dan AS terus meningkatkan serangan pesawat nirawak ke instansi energi Rusia, kilang minyak dan terminal ekspor mereka.
"Sejak awal Ukraina ingin 4 wilayah yakni Donetsk, Luhansk, Kherson dan Crimea dikembalikan, ini jadi prasyarat utama genjatan senjata tapi dengan retorika terbaru Trump, akan sangat sulit dilakukan dan membuat ketegangan terbaru sehingga indeks dolar atau DXY menguat signifikan mendekati level 97,850 semalam," paparnya.
Dari sisi internal, penolakan Menkeu Purbaya terhadap rencana pemberian kembali Tax Amnesty tak direspons positif oleh pasar.
"Tax Amensty ini sangat diinginkan pasar dan dalam kondisi seperti ini harusnya dilakukan. Di era Presiden Jokowi 3 kali dijalankan dan disambut pasar. Menkeu menolak karena dikhawatirkan akan ada kong kalikong, rupaya pasar merespons ini dan pasar modal mengalami capital outflow sehingga rupiah terdepresiasi," kata Ibrahim.
Sementara intervensi BI di pasar NDF atau internasional saat ini tak begitu efektif lantaran spekulasi di pasar internasional begitu kuat. "Di era Menkeu Purbaya ini pasar bergeming karena spekulasi di pasar internasional begitu kuat sehingga intervensi BI ini jadi sia-sia," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







