Akurat

Pengertian Goodwill dalam Laporan Keuangan dan Contohnya

Eko Krisyanto | 12 September 2025, 18:30 WIB
Pengertian Goodwill dalam Laporan Keuangan dan Contohnya

AKURAT.CO Dalam praktik bisnis dan akuntansi, goodwill dipahami sebagai nilai tambah yang dimiliki sebuah perusahaan di luar aset fisik maupun finansial yang tercatat dalam neraca. Unsur ini meliputi reputasi yang baik, hubungan pelanggan yang terjaga, kekuatan merek, serta berbagai faktor nonmateri lain yang mampu meningkatkan nilai perusahaan.

Goodwill juga sering dikaitkan dengan kepercayaan dan loyalitas pelanggan. Kehadirannya memberi pengaruh besar pada citra perusahaan dan menjadi pembeda dari para pesaing di industri yang sama.

Istilah goodwill biasanya muncul ketika terjadi akuisisi atau penggabungan perusahaan. Jika sebuah perusahaan dibeli dengan harga yang lebih tinggi daripada nilai buku aset bersihnya, selisih tersebut disebut goodwill. Nilai ini menunjukkan adanya keyakinan bahwa perusahaan yang diakuisisi memiliki potensi dan keunggulan lebih besar dibandingkan yang tercatat dalam laporan keuangan.

Peran goodwill sangat penting karena mampu menciptakan nilai tambah jangka panjang, memperkuat daya saing, dan memberikan keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi.

Baca Juga: Kementerian ESDM Raih Opini WTP atas Laporan Keuangan Tahun 2024

Contoh Goodwill dalam Dunia Bisnis

Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh nyata penerapan goodwill dalam praktik bisnis:

1. Akuisisi Facebook terhadap Instagram

Pada tahun 2012, Facebook membeli Instagram dengan nilai sekitar US$ 1 miliar. Saat itu, nilai wajar aset bersih Instagram jauh lebih rendah dibandingkan harga akuisisi. Selisih harga tersebut dicatat sebagai goodwill, yang mencerminkan kekuatan merek Instagram, jumlah pengguna yang terus bertambah, serta potensi pertumbuhan besar di masa depan.

2. Akuisisi Amazon terhadap Whole Foods

Pada tahun 2017, Amazon mengakuisisi jaringan supermarket Whole Foods dengan nilai sekitar US$ 13,7 miliar. Nilai aset bersih Whole Foods, termasuk aset tetap dan persediaan, tercatat jauh lebih kecil dibandingkan harga akuisisinya. Selisih ini diakui sebagai goodwill, yang menggambarkan reputasi Whole Foods sebagai pelopor produk makanan organik serta tingkat loyalitas pelanggan yang tinggi.

Kedua contoh di atas menunjukkan bahwa nilai sebuah perusahaan tidak hanya ditentukan oleh aset yang tercatat di neraca.

Baca Juga: Amazon dan Meta Sumbang Masing-masing Rp15 Miliar untuk Pelantikan Donald Trump

Goodwill, seperti reputasi, kepercayaan pelanggan, dan kekuatan merek, sering kali menjadi alasan utama sebuah perusahaan dihargai lebih tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R