Akurat

Apa Itu Amortisasi? Pengertian, Contoh, dan Cara Menghitungnya

Eko Krisyanto | 25 Agustus 2025, 23:06 WIB
Apa Itu Amortisasi? Pengertian, Contoh, dan Cara Menghitungnya
 
AKURAT.CO Apakah Anda pernah mendengar istilah amortisasi? Dalam dunia bisnis dan keuangan, kata ini seringkali muncul, terutama saat membicarakan aset perusahaan atau pinjaman. Seringkali disamakan dengan depresiasi, padahal keduanya memiliki peran dan fungsi yang berbeda.
 
Memahami amortisasi sangat penting karena merupakan proses kunci dalam akuntansi yang mempengaruhi laporan keuangan.
 
 
Sederhananya, amortisasi adalah cara untuk “menyusutkan” nilai aset tidak berwujud atau melunasi utang secara bertahap.
 
Tujuannya adalah untuk mencerminkan nilai aset yang sebenarnya seiring waktu dan memberikan gambaran keuangan yang lebih akurat.

Pengertian Amortisasi

Amortisasi adalah proses akuntansi yang digunakan untuk:

1. Mengurangi nilai aset tak berwujud

Aset tak berwujud adalah aset yang tidak memiliki bentuk fisik, seperti hak paten, hak cipta, merek dagang, atau lisensi.
 
Amortisasi dilakukan dengan membagi biaya aset tersebut secara merata selama masa manfaatnya.

2. Melunasi utang atau pinjaman secara bertahap

Ini adalah jenis amortisasi yang paling sering kita temui, seperti pembayaran cicilan KPR atau kredit kendaraan.
 
Setiap cicilan yang Anda bayar akan mengurangi pokok pinjaman dan bunga secara bersamaan, hingga pinjaman lunas.

Perbedaan Amortisasi dan Depresiasi

Meskipun keduanya sama-sama mencatat penurunan nilai aset, amortisasi dan depresiasi diterapkan pada jenis aset yang berbeda:
 
Amortisasi untuk aset tidak berwujud (intangible assets). Contohnya: hak paten, lisensi, atau biaya pengembangan perangkat lunak.
 
Depresiasi untuk aset berwujud (tangible assets). Contohnya: gedung, mesin produksi, kendaraan, atau peralatan kantor.
 
Singkatnya, amortisasi berlaku untuk hal yang tidak bisa Anda sentuh, sementara depresiasi berlaku untuk hal yang bisa Anda sentuh.

Contoh Amortisasi dalam Dunia Nyata

Untuk mempermudah pemahaman, berikut dua contoh kasus sederhana:

1. Amortisasi Utang Ketika Membeli Rumah dengan KPR Senilai Rp500 juta

Setiap bulan, Anda membayar cicilan yang terdiri dari sebagian pokok pinjaman dan bunga. Proses dimana pokok pinjaman Anda berkurang setiap kali Anda membayar cicilan itulah yang disebut amortisasi utang.
 
Seiring waktu, porsi pembayaran pokok akan meningkat, sementara porsi bunga akan menurun.

2. Amortisasi Aset Tak Berwujud

Sebuah perusahaan membeli hak paten senilai Rp 120 juta yang berlaku selama 10 tahun.
 
Agar pencatatan akuntansi akurat, biaya tersebut tidak langsung dibebankan di tahun pertama. Sebaliknya, biaya tersebut akan diamortisasi setiap tahun dengan rincian Rp120.000.000 / 10 tahun = Rp12.000.000 per tahun. Setiap tahun, perusahaan akan mencatat Rp12 juta sebagai beban amortisasi.
 
Baca Juga: Kurator Jual Murah Aset Danamon di kepailitan SPA, Siapa Untung?

Metode Perhitungan Amortisasi

Untuk memahami cara kerja amortisasi, kita bisa mengelompokkan aset-aset yang dapat diamortisasi dan metode yang digunakan untuk menghitungnya. Meskipun mungkin terdengar rumit, konsepnya cukup mudah jika dijelaskan dengan sederhana. Ada dua pendekatan utama untuk menghitung amortisasi: Metode Garis Lurus (Straight-Line Method) dan Metode Saldo Menurun (Declining-Balance Method).

Metode Garis Lurus

Metode ini adalah yang paling sering digunakan karena perhitungannya paling sederhana. Cara kerjanya adalah dengan membebankan biaya amortisasi yang sama setiap tahunnya selama masa manfaat aset.
 
Jadi, biaya yang dialokasikan merata dari tahun ke tahun. Ini sangat cocok untuk aset yang nilainya menurun secara konsisten seiring waktu.

Rumus Perhitungannya 

Amortisasi Tahunan = (Biaya Awal Aset – Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat
 
Contoh Sederhana:
 
Sebuah perusahaan membeli lisensi perangkat lunak seharga Rp 100.000.000 dengan masa manfaat 5 tahun dan tidak memiliki nilai sisa.
 
Biaya amortisasi per tahun = (Rp 100.000.000 - Rp 0) / 5 tahun = Rp 20.000.000 per tahun.
 
Setiap tahun, perusahaan akan mencatat biaya amortisasi sebesar Rp 20.000.000.

Metode Saldo Menurun

Metode ini memberikan beban amortisasi yang lebih besar di awal masa manfaat aset, dan menurun seiring berjalannya waktu. Pendekatan ini lebih cocok untuk aset yang nilainya menurun dengan cepat di tahun-tahun pertama, seperti paten yang mungkin akan segera digantikan oleh teknologi baru.
 
Rumus Perhitungannya
 
Amortisasi = Saldo Awal x Persentase Tetap
 
Contoh Sederhana
 
Sebuah perusahaan membeli hak paten seharga Rp 50.000.000 dengan masa manfaat 5 tahun dan tarif amortisasi 20% (tarif tetap).
 
Tahun 1: Biaya Amortisasi = Rp 50.000.000 × 20% = Rp 10.000.000 Nilai Buku Akhir Tahun 1 = Rp 50.000.000 - Rp 10.000.000 = Rp 40.000.000
Tahun 2: Biaya Amortisasi = Rp 40.000.000 × 20% = Rp 8.000.000
 Nilai Buku Akhir Tahun 2 = Rp 40.000.000 - Rp 8.000.000 = Rp 32.000.000
 
Tahun 3, 4, 5, dan seterusnya: Perhitungan akan terus dilakukan dengan cara yang sama.
 
Itulah pengertian amortisasi dan depresiasi dan cara menghitungnya secara sederhana, dengan memahami cara kerja amortisasi, Anda bisa lebih teliti dalam melihat laporan keuangan dan perencanaan pinjaman, memastikan Anda tahu persis ke mana uang Anda pergi.
 
Bayu Aji Pamungkas (Magang)
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R