Saham MERI Jadi Top Losers Saat IHSG Cetak Rekor Tertinggi

AKURAT.CO Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja impresif dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang tahun 2025, sejumlah saham justru mengalami penurunan tajam selama sepekan perdagangan terakhir, 21–25 Juli 2025.
Saham PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERI) tercatat sebagai yang paling merosot, dengan koreksi harga mencapai 37,7%.
Dikutip dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (27/7/2025), menunjukkan bahwa IHSG berhasil menanjak 3,17% ke level 7.543,5 dari sebelumnya 7.311,9 pada pekan sebelumnya.
Kenaikan ini membawa IHSG mencetak rekor tertinggi baru sepanjang tahun berjalan, mengindikasikan sentimen pasar yang tengah positif secara umum.
Seiring dengan kenaikan indeks, kapitalisasi pasar juga menembus rekor tertinggi yakni sebesar
Rp 13.519 triliun, naik 3,37% dari Rp13.079 triliun pada akhir pekan sebelumnya.
Baca Juga: IHSG Cetak Rekor Tertinggi 2025, Investor Kian Optimistis
Hal ini turut memperkuat sinyal bahwa bursa saham Tanah Air sedang berada dalam tren penguatan.
Namun di tengah euforia pasar, tidak semua saham mampu mengikuti arus penguatan. Sejumlah emiten justru mengalami penurunan signifikan dan menimbulkan kerugian besar bagi para investor.
Saham MERI, misalnya, anjlok dari harga Rp565 menjadi Rp 352 dalam waktu lima hari perdagangan.
Selain MERI, saham PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) juga mencatatkan pelemahan drastis sebesar 32,72% menjadi Rp730. Penurunan harga yang cukup tajam ini menjadi sorotan mengingat sektor pariwisata sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca-pandemi.
Daftar saham yang masuk kategori top losers lainnya mencakup PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) yang turun 24,79% ke harga Rp440 dan PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) yang melemah 24,58% ke level Rp181.
Kedua emiten ini juga berasal dari sektor jasa dan konsumsi, sektor yang kinerjanya cukup fluktuatif tergantung daya beli masyarakat.
Penurunan juga dialami oleh saham PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) yang jatuh 24,19% ke harga Rp 1.880 serta PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG) yang tergerus 23,61% ke Rp550.
Sektor logistik dan transportasi yang sebelumnya cukup diuntungkan oleh pertumbuhan e-commerce, tampaknya mengalami tekanan akibat koreksi sentimen pasar.
Tidak ketinggalan, saham PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) merosot 19,64% menjadi hanya Rp90. Saham ini sebelumnya sempat menarik perhatian investor ritel karena potensi teknologi finansialnya, namun nyatanya belum mampu menahan tekanan jual dalam pekan ini.
Sementara itu, saham PT Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) juga kehilangan 18,48% nilainya dan kini diperdagangkan di kisaran Rp75.
Penurunan turut dialami oleh saham PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) sebesar 14,7% ke level Rp1.480 serta PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH) yang melemah 13,55% ke harga Rp1.340.
Meskipun IHSG secara keseluruhan berada dalam jalur penguatan, fenomena saham-saham yang menjadi top losers ini menunjukkan bahwa investor tetap perlu berhati-hati dalam memilih saham, terutama bagi mereka yang berorientasi pada jangka pendek.
Pergerakan harga yang ekstrem dalam waktu singkat dapat membawa potensi kerugian yang besar, bahkan saat pasar sedang naik.
Sebagai catatan, pada perdagangan Jumat (25/7/2025), investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp233,39 miliar. Dengan begitu, sepanjang tahun berjalan 2025, net sell asing telah mencapai Rp59,63 triliun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










