Siapa Pemilik Bitcoin Terbesar di Dunia Tahun 2025? Ini Daftarnya

AKURAT.CO Pasar kripto global kembali bergolak pada Juli 2025 setelah sebuah pergerakan tak terduga mengejutkan para pengamat dan investor. Sebanyak 20.000 Bitcoin (BTC), setara dengan lebih dari USD2,1 miliar, dipindahkan dari dua dompet yang tidak aktif sejak 2011.
ini memicu banyak spekulasi, terlebih karena aset digital tersebut tidak dikirim ke bursa, melainkan ke alamat baru yang belum diketahui identitas pemiliknya. Fenomena ini terjadi di tengah terus meningkatnya arus masuk harian ke Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin serta menyusutnya cadangan BTC di bursa, yang menunjukkan tren akumulasi jangka panjang oleh investor institusional maupun individu.
Peristiwa ini pun kembali mengangkat pertanyaan lama yang selalu menarik untuk dibahas, yaitu siapa sebenarnya pemilik Bitcoin terbanyak di dunia pada tahun 2025?
Meski identitas pemilik dompet terbesar di blockchain masih didominasi oleh anonim, sejumlah nama besar, baik individu, perusahaan, maupun bursa aset kripto telah berhasil dikenali sebagai pemegang kekayaan BTC yang luar biasa besar.
Baca Juga: Bitcoin Masih Dominan di Media Sosial, Ethereum dan Solana Menyusul
Dikutip dari beberapa sumber, Selasa (22/7/2025), berikut nama-nama yang tercatat memiliki Bitcoin terbanyak di dunia.
Di posisi puncak, tak ada nama lain selain Satoshi Nakamoto, pencipta Bitcoin yang misterius dan hingga kini belum diketahui identitas aslinya. Berdasarkan data blockchain, dompet yang dikaitkan dengan Satoshi diperkirakan menyimpan antara 968.000 hingga 1,1 juta BTC.
Dompet ini belum pernah disentuh sejak 2010, menjadikannya sebagai “raksasa tidur” yang jika suatu hari aktif kembali, berpotensi mengguncang pasar kripto secara global.
Selain Satoshi, terdapat nama Winklevoss Twins, si kembar identik Cameron dan Tyler, yang dikenal sebagai pendiri bursa kripto Gemini. Mereka diperkirakan memiliki sekitar 70.000 BTC, dan telah lama menjadi pendukung vokal Bitcoin sebagai alternatif sistem keuangan tradisional.
Di urutan berikutnya, Tim Draper, seorang kapitalis ventura dan investor awal Bitcoin, tercatat memiliki sekitar 30.000 BTC. Draper membeli aset tersebut pada 2014 melalui lelang yang diadakan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat setelah menyita BTC dari pasar gelap Silk Road. Ia dikenal optimis dengan Bitcoin, bahkan pernah memprediksi harga BTC akan menembus USD250.000.
Baca Juga: Trump Sahkan GENIUS Act, Harga Bitcoin dan Altcoin Kompak Terkoreksi
Michael Saylor, pendiri dan ketua eksekutif Strategy (dulu MicroStrategy), juga tercatat sebagai pemilik besar Bitcoin. Selain akumulasi perusahaannya, Saylor secara pribadi memiliki sekitar 17.732 BTC.
Total kekayaan BTC yang dikuasainya, baik secara individu maupun perusahaan, mencapai level luar biasa dan menjadikannya salah satu “raksasa digital” di era kripto modern.
Selain tokoh-tokoh publik, ada juga alamat dompet misterius seperti 1FeexV6bAHb8ybZjqQMjJrcCrHGW9sb6uF, yang menyimpan sekitar 79.957 BTC. Dompet ini diduga berasal dari aktivitas eksploitasi bursa pada masa awal, dan saat ini telah dibekukan. Meskipun tidak aktif, dompet ini tetap menjadi salah satu pemegang BTC terbesar sepanjang sejarah.
Namun, dominasi kepemilikan Bitcoin di tahun 2025 tidak hanya datang dari individu. Sejumlah bursa kripto besar dunia kini menjadi pemegang BTC terbanyak melalui dompet “dingin” (cold wallet) yang digunakan untuk menjaga cadangan likuiditas dan keamanan dana pengguna.
Binance, bursa kripto terbesar di dunia, saat ini menguasai dompet dingin dengan kepemilikan sekitar 248.600 BTC, atau sekitar 1,25% dari total suplai Bitcoin yang beredar. Nilai BTC tersebut kini melebihi USD26 miliar.
Menurut pelacak blockchain seperti Glassnode dan BitInfoCharts, dompet ini sangat jarang digunakan untuk transaksi, mengindikasikan penggunaannya untuk penyimpanan jangka panjang, bukan aktivitas perdagangan.
Di belakangnya, Robinhood memiliki dompet dingin berisi sekitar 140.600 BTC, dengan nilai pasar sekitar USD15 miliar. Transaksi dari dompet ini juga tergolong minimal, yang mencerminkan aliran dana dari para pengguna aplikasi, bukan aktivitas internal perusahaan.
Bitfinex, bursa kripto yang telah lama berkecimpung di pasar, juga menyimpan sekitar 130.010 BTC. Meskipun sempat mengalami penurunan dari angka puncak 156.000 BTC, Bitfinex tetap menjadi salah satu pemegang BTC terbesar.
Selain itu, ada juga dompet Binance kedua dengan cadangan sebesar 115.000 BTC, serta dompet yang dikelola oleh pemerintah Amerika Serikat berisi sekitar 94.600 BTC hasil pemulihan dari peretasan Bitfinex beberapa tahun lalu.
Di luar entitas bursa, dominasi Bitcoin juga terlihat dari perusahaan publik. Strategy (sebelumnya MicroStrategy) menjadi perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar.
Hingga pertengahan 2025, Strategy telah mengumpulkan sekitar 597.325 BTC, dengan total pembelanjaan lebih dari USD42,4 miliar. Ini berarti sekitar 92,5% dari total aset perusahaan berbentuk Bitcoin.
Rata-rata harga beli mereka tercatat di angka USD70.982 per BTC, mencerminkan strategi jangka panjang dan keyakinan kuat terhadap nilai masa depan aset digital tersebut.
Tidak hanya Strategy, sejumlah perusahaan besar lainnya juga tercatat memegang Bitcoin sebagai bagian dari neraca keuangan mereka. Data terbaru menyebutkan bahwa ada sekitar 130 perusahaan publik yang memegang sekitar 693.000 BTC secara kolektif, setara dengan 3,3% dari total suplai Bitcoin yang beredar.
Tesla, yang dipimpin Elon Musk, dilaporkan masih memegang 11.509 BTC. Perusahaan fintech Block memiliki sekitar 8.584 BTC, sementara GameStop dan Semler Scientific masing-masing menyimpan 4.710 dan 4.449 BTC.
Satu nama yang cukup mengejutkan adalah Metaplanet, perusahaan yang bukan dari sektor teknologi, namun berhasil mengakumulasi 15.555 BTC hingga Juli 2025. Mereka bahkan menargetkan kepemilikan 210.000 BTC pada tahun 2027, menjadikannya salah satu proyek ambisius dalam lanskap investasi kripto global.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Bitcoin bukan lagi sekadar aset digital yang diperdagangkan oleh penggemar teknologi, melainkan telah menjadi bagian integral dari strategi keuangan perusahaan besar dan pelaku institusi. Dengan pergerakan besar dari dompet “tidur”, meningkatnya permintaan dari ETF, serta akumulasi agresif oleh korporasi dan bursa, lanskap kepemilikan Bitcoin tahun 2025 semakin kompleks dan kompetitif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










