Dikutip dari Bloomberg, Minggu (20/7/2025), pengamat pasar modal dari Panin Sekuritas, Reydi Octa, menilai bahwa meskipun kedua faktor ini sama-sama memengaruhi sentimen pasar, pelonggaran moneter dari BI cenderung menjadi penggerak utama IHSG dalam jangka pendek.
"Penurunan suku bunga BI biasanya lebih berdampak signifikan karena momen ini sangat dinanti oleh investor," ujarnya.
Menurut Reydi, pemangkasan suku bunga acuan kerap kali mendorong lonjakan harga saham karena meningkatkan likuiditas dan kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik.
Dampak ini dinilai lebih cepat terasa dibandingkan dengan tekanan bertahap akibat tarif ekspor yang dikenakan oleh AS.
Namun, ia mengingatkan bahwa kombinasi antara tekanan eksternal dan pelonggaran domestik menciptakan ruang bagi investor untuk mengakumulasi saham secara selektif.
Tidak semua sektor akan menikmati sentimen positif secara merata. Beberapa sektor justru akan menghadapi tekanan ganda.
Sektor yang dinilai paling mendapatkan manfaat dari penurunan suku bunga antara lain adalah perbankan, properti, dan ritel. Dalam kondisi seperti ini, permintaan terhadap kredit dan konsumsi domestik biasanya meningkat, yang mendorong kinerja saham di sektor-sektor tersebut.
“Permintaan kredit naik, KPR menjadi lebih terjangkau, dan daya beli masyarakat menguat. Ini menguntungkan sektor UMKM, properti, dan konsumsi rumah tangga,” terang Reydi.
Namun sebaliknya, sektor manufaktur yang berorientasi ekspor seperti tekstil, otomotif, dan elektronik justru berada di bawah tekanan akibat tarif 19% dari Amerika Serikat. Emiten yang tergolong padat karya seperti produsen kabel dan semikonduktor juga dinilai rentan.
“Ketergantungan mereka terhadap pasar ekspor ke AS sangat tinggi, sehingga kebijakan tarif ini bisa menekan volume penjualan dan margin keuntungan,” tambah Reydi.
Beberapa sektor bahkan menghadapi sentimen campuran. Sektor otomotif, tekstil, dan crude palm oil (CPO), misalnya, akan mengalami tekanan dari sisi ekspor, namun juga bisa mendapatkan dorongan dari meningkatnya permintaan dalam negeri berkat pelonggaran BI Rate.
Kondisi ini menuntut strategi investasi yang lebih selektif dan berbasis analisis fundamental mendalam. Reydi menyarankan agar investor fokus pada emiten dengan struktur biaya yang efisien dan pangsa pasar domestik yang kuat untuk menghadapi ketidakpastian global.
“Jangan hanya melihat sektornya, tapi analisislah perusahaannya. Pilih emiten yang punya daya tahan kuat di pasar dalam negeri, serta efisien dalam biaya operasional,” tukasnya.