Ancaman Tarif Trump Tekan Rupiah dan Industri Ekspor Indonesia

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (15/7/2025). Rupiah tercatat turun 0,10% atau dari Rp16.250 menjadi Rp16.266 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Asusabi mengungkapkan, dari faktor eksternal, pelemahan rupiah terjadi akibat ancaman tarif baru AS kepada Uni Eropa dan Meksiko.
Sebab, sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan mengenakan tarif sekunder sebesar 100% terhadap Rusia jika Presiden Vladimir Putin tidak mencapai kesepakatan dalam 50 hari untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Baca Juga: Pasar Menanti Data Pengangguran AS, Rupiah Nanjak 33 Poin ke Rp16.224
"Meskipun ancaman tarif baru-baru ini tidak berdampak besar pada pergerakan pasar secara keseluruhan, para pedagang mempertimbangkan apakah AS benar-benar akan mengenakan tarif tinggi pada negara-negara yang terus berdagang dengan Rusia serta menahan diri untuk tidak memasang taruhan besar di tengah ketidakpastian," terang Ibrahim dalam keterangan resminya.
Ia menilai, pasar saat ini juga tengah berfokus pada data inflasi indeks harga konsumen AS untuk bulan Juni akan dirilis pada hari ini dan diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang dampak ekonomi dari tarif Trump.
"Ketua The Fed, Jerome Powell, mengatakan ia memperkirakan tarif akan mendorong inflasi lebih tinggi pada musim panas ini, yang kemungkinan akan membuat bank sentral menunda kebijakan moneternya hingga akhir tahun," tutur Ibrahim.
Selain itu, lanjutnya, ekonomi Tiongkok juga bertumbuh 5,2% year-on-year pada kuartal kedua tahun 2025, sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 5,1%, didukung oleh ekspor yang tangguh dan stimulus pemerintah. Pertumbuhan yang kuat ini mencerminkan dampak terbatas dari perang dagang AS, karena tarif yang tinggi hanya berlaku.
Baca Juga: CSR PT Kristalin Berikan Uang dan Mobil ke Warga Papua: Total Bantuan Mencapai Ratusan Juta Rupiah
Sementara dari sisi internal, Ibrahim berpendapat, kebijakan tarif 32% oleh presiden AS Donald Trump untuk produk impor dari Indonesia bakal memberikan goncangan besar bagi industri yang berorientasi ekspor. Salah satunya adalah industri furnitur. Kebijakan Trump tersebut berpotensi akan menyebabkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Penyebab terjadinya PHK karena industri furnitur Indonesia bakal mengalami penurunan yang tajam akibat naiknya harga produk di pasar AS, nilainya berkisar 20-35%. Misalnya produk kursi kayu yang normalnya dijual ke buyer AS seharga US$ 100 per unit, dengan tarif ini harganya bisa naik jadi US$ 120-135 per unit.
Tingginya harga produk furnitur Indonesia akan menyebabkan kurangnya minat masyarakat AS untuk membeli. Akibatnya, pesanan turun, kapasitas produksi dikurangi, dan beban biaya tetap harus ditanggung.
"Ketika produk Indonesia kehilangan konsumen, maka produksi di dalam negeri seret, akibatnya pengerjaan untuk permintaan pun jauh menurun," tegas Ibrahim.
Ia menambahkan, meski demikian pelaku usaha tetap optimistis dan waspada serta akan mengerahkan semua jalur diplomasi, kolaborasi dengan Kementerian terkait, dan mencari solusi bisnis bersama anggota agar dampak PHK massal bisa dihindari.
Salah satu caranya mempercepat relokasi produksi atau diversifikasi produk ke segmen yang bernilai tambah lebih tinggi dan tidak terlalu sensitif pada perang tarif, misalnya produk customized, produk luxury, atau produk berbahan baku berkelanjutan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Koordinator Airlangga Hartarto mengungkapkan Indonesia mendapatkan penundaan penerapan tarif resiprokal AS sebesar 32%. Hal ini diperoleh usai melakukan negosiasi dengan US Secretariat of Commerce Howard Lutnik dan United States Representative Jamieson Greer, pada 9 Juli 2025 lalu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









