Akurat

Kakeibo, Metode Menabung Orang Jepang Yang Efektif

Hefriday | 7 Juni 2025, 16:06 WIB
Kakeibo, Metode Menabung Orang Jepang Yang Efektif

AKURAT.CO Di tengah ketidakpastian ekonomi global, stabilitas keuangan menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang dicari banyak orang.

Salah satu langkah sederhana namun berdampak besar untuk mencapainya adalah dengan membiasakan diri menabung.

Tidak hanya sekadar menyisihkan uang, menabung juga membutuhkan strategi dan kedisiplinan. Salah satu metode yang patut dicoba datang dari Jepang, yaitu kakeibo.

Dikutip dari beberapa sumber, Sabtu (7/6/2025), Kakeibo (dibaca: kah-keh-boh) adalah filosofi pengelolaan keuangan yang telah lama diterapkan oleh masyarakat Jepang, khususnya para ibu rumah tangga.

Metode ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1904 oleh jurnalis wanita Jepang, Motoko Hani, bukan 1994 sebagaimana sering disalahartikan.

Baca Juga: Konsumerisme Masyarakat Indonesia dan Gaya Hidup Kakeibo Warga Jepang

Namun, popularitas kakeibo kembali meningkat setelah Fumiko Chiba menerbitkan buku Kakeibo yaitu The Japanese Art of Saving Money pada 2017.

Berbeda dari metode pencatatan keuangan modern yang berbasis digital seperti aplikasi atau Excel, kakeibo justru menekankan pada pencatatan manual. Pengguna metode ini dianjurkan untuk menulis dengan tangan, menggunakan pena dan buku catatan. 

Tujuannya bukan sekadar mencatat, tetapi juga menciptakan ruang refleksi, sehingga pengguna dapat menyadari pola belanja dan emosi yang menyertainya.

Salah satu keunikan kakeibo adalah adanya proses bertanya kepada diri sendiri sebelum membeli sesuatu.
 
Beberapa pertanyaan penting yang diajukan antara lain: Apakah saya bisa hidup tanpa barang ini? Apakah saya benar-benar membutuhkannya? Apa kondisi emosi saya saat ini? dan Apakah pembelian ini dipicu oleh kebutuhan atau hanya keinginan sesaat?

Tidak berhenti sampai di situ, kakeibo juga mengajarkan cara menabung secara efektif dengan beberapa langkah praktis.
 
Langkah pertama adalah mencatat semua pemasukan di awal bulan. Ini termasuk gaji tetap maupun penghasilan tambahan. Proses mencatat ini dianggap krusial untuk membangun kesadaran akan kondisi keuangan pribadi.

Setelah mengetahui total pemasukan, metode kakeibo menyarankan untuk langsung menyisihkan dana tabungan sebelum mengalokasikan uang ke pos pengeluaran lain.
 
Ada empat kategori pengeluaran dalam kakeibo yaitu kebutuhan pokok (survival), kebutuhan sekunder (optional), kebutuhan budaya (culture), dan pengeluaran tak terduga (extra). Dengan membagi seperti ini, keuangan menjadi lebih tertata.

Salah satu prinsip utama kakeibo yang juga menarik adalah aturan "tunggu 24 jam" sebelum membeli barang.
 
Ini bertujuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan impulsif. Jika setelah 24 jam Anda masih merasa perlu membeli barang tersebut dan keuangan memungkinkan, barulah pembelian bisa dilakukan.

Tips lain yang diajarkan kakeibo adalah rutin mengecek saldo rekening. Langkah ini sederhana tapi sangat efektif untuk mengontrol pengeluaran. Dengan mengetahui sisa uang yang dimiliki, seseorang cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Trik menarik lainnya adalah menempelkan catatan pengingat di dompet, seperti "Apakah kamu benar-benar membutuhkan barang ini?". Pesan ini akan menjadi pengingat saat seseorang tergoda untuk berbelanja, khususnya dalam suasana hati yang tidak stabil.

Terakhir, kakeibo menganjurkan penggunaan uang tunai dalam bertransaksi. Sebab, pembayaran digital sering kali membuat kita tidak sadar berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan.
 
Dengan uang tunai, kita lebih mudah mengontrol pengeluaran karena melihat uang secara fisik.

Metode kakeibo bukan sekadar teknik mengatur uang, melainkan pendekatan filosofis untuk membangun hubungan yang sehat antara diri sendiri dan keuangan.
 
Di tengah arus belanja konsumtif dan gaya hidup instan, kakeibo hadir sebagai pengingat untuk kembali pada prinsip kesadaran dan kendali diri dalam mengelola keuangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa