Fixed Cap: Opsi Skema Bunga KPR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

AKURAT.CO Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi suku bunga acuan Bank Indonesia, masyarakat yang ingin membeli rumah dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) semakin selektif dalam memilih jenis bunga yang ditawarkan bank.
Salah satu opsi yang kini menjadi sorotan adalah bunga fixed cap sebuah skema bunga bertahap yang menawarkan kepastian dan perlindungan terhadap lonjakan bunga di masa depan.
Dikutip dari berbagai laman sumber, Minggu (25/5/2025), Bunga fixed cap adalah kombinasi antara bunga tetap (fixed) dan bunga mengambang (floating) yang memiliki batas maksimum (cap).
Dalam praktiknya, nasabah akan menikmati bunga tetap selama beberapa tahun awal masa pinjaman, kemudian dilanjutkan dengan bunga mengambang yang tidak melebihi angka tertentu.
Baca Juga: KPR Ditolak Bank? Simak Penyebab dan Cara Menghindarinya
Misalnya, bank menerapkan bunga tetap 4,18% untuk dua tahun pertama, lalu maksimal 7,18% untuk tiga tahun berikutnya. Setelah periode tersebut, barulah suku bunga mengikuti pasar tanpa batasan.
Skema ini berbeda dengan bunga floating murni yang bisa naik drastis mengikuti BI Rate atau kondisi pasar, maupun bunga flat yang umumnya digunakan dalam kredit jangka pendek seperti cicilan kendaraan bermotor.
Menurut praktisi perbankan dan pengamat properti, skema fixed cap menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin mendapatkan kepastian angsuran di awal namun tetap siap menghadapi perubahan pasar di kemudian hari. Keunggulan skema ini terletak pada perlindungan saat masa transisi dari bunga tetap ke bunga pasar.
Namun, seperti skema pembiayaan lainnya, bunga fixed cap juga memiliki sisi yang perlu diwaspadai. Setelah masa cap berakhir, nasabah sepenuhnya tunduk pada bunga pasar. Jika tren suku bunga sedang naik seperti saat ini, beban cicilan bisa melonjak.
Baca Juga: BTN Kian Efisien, 20 Persen Proses KPR Beralih ke Bale
Oleh karena itu, penting bagi calon debitur untuk mempertimbangkan jangka waktu KPR, rencana keuangan jangka panjang, serta stabilitas pendapatan pribadi sebelum memilih skema ini.
Dalam era tingginya literasi digital, edukasi tentang jenis bunga KPR menjadi sangat penting. Sayangnya, tidak semua nasabah memahami perbedaan antara fixed, floating, flat, dan fixed cap secara utuh. Banyak yang hanya tergiur promosi bunga rendah di awal, tanpa menyadari potensi lonjakan bunga di masa depan.
Tidak ada skema bunga KPR yang sepenuhnya ideal untuk semua orang. Masyarakat perlu menyesuaikan pilihan dengan kondisi keuangannya. Bagi mereka yang menginginkan kestabilan cicilan di masa awal, namun tetap terbuka terhadap perubahan pasar, fixed cap bisa menjadi jalan tengah yang logis.
Namun jika seseorang memiliki profil risiko rendah dan ingin kepastian hingga akhir masa tenor, maka bunga tetap atau flat bisa jadi lebih sesuai, meski umumnya nilainya lebih tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










