Diburu Asing, Saham BBCA Nanjak 2,37 Persen di Sesi I
Hefriday | 21 Mei 2025, 13:28 WIB

AKURAT.CO Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan tren penguatan yang signifikan dalam sesi pertama perdagangan Rabu (21/5/2025). Pada pukul 11.07 WIB, saham emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut tercatat naik 2,37% ke level Rp 9.700 per saham.
Volume transaksi saham BBCA tergolong aktif, dengan nilai mencapai Rp699 miliar dari perputaran sebanyak 72,3 juta lembar saham. Aktivitas perdagangan juga tercermin dalam frekuensi transaksi yang mencapai 15.888 kali.
Data dari Stokbit menunjukan investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp115,9 miliar untuk saham ini.
Dalam satu bulan terakhir, saham BBCA tercatat mengalami kenaikan yang cukup tajam, yakni sebesar 16,87%. Tidak hanya itu, asing juga mengoleksi saham BBCA dengan total net buy mencapai Rp1,9 triliun sepanjang periode tersebut.
Hal ini menandakan kepercayaan investor terhadap fundamental dan prospek jangka panjang bank ini masih sangat kuat.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai bahwa valuasi saham BBCA saat ini berada pada posisi menarik. Saham bank ini diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) forward sebesar 3,8 kali, atau setara dengan minus 1,5 standar deviasi dari rata-rata lima tahun terakhir.
Dengan valuasi ini, saham BBCA dipandang sedang berada pada titik undervalued secara historis.
Konsensus analis juga memperkuat sentimen positif terhadap BBCA. Rata-rata rekomendasi yang diberikan adalah "buy", dengan target harga di kisaran Rp 11.287 per saham. Ini berarti masih terdapat potensi kenaikan harga sekitar 16% dari posisi saat ini.
Dari sisi kinerja keuangan, BCA membukukan laba bersih konsolidasi (bank only) sebesar Rp4,5 triliun pada April 2025. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 8,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan terkoreksi 33% secara bulanan (month-on-month/mom).
Meski begitu, secara kumulatif sepanjang Januari hingga April 2025, laba bersih BCA mencapai Rp20,2 triliun atau naik 17% yoy.
Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, menyebutkan bahwa jika laba bersih BCA tidak menghitung kontribusi dividen dari anak usaha, pertumbuhannya tercatat sebesar 9,6% yoy. Angka ini masih berada di atas estimasi konsensus analis untuk tahun 2025 yang sebesar 6,3% yoy.
Edi menilai bahwa kinerja BCA selama empat bulan pertama tahun ini tergolong "mixed" atau beragam.
Di satu sisi, pertumbuhan tahunan menunjukkan hasil yang baik, namun tekanan pada laba bulanan menandakan adanya dinamika bisnis yang patut dicermati lebih lanjut, seperti potensi tekanan margin atau beban operasional yang meningkat.
Meskipun terdapat penurunan laba bulanan, sentimen pasar terhadap BBCA tetap positif. Hal ini tercermin dari derasnya arus masuk modal asing dan tren kenaikan harga saham dalam beberapa pekan terakhir.
Investor cenderung fokus pada prospek jangka menengah dan panjang, serta stabilitas keuangan yang dimiliki oleh BCA sebagai bank swasta terbesar di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










