Akurat

Marak Konglomerat RI Buru USDT, Ini Alasannya

M. Rahman | 15 Mei 2025, 15:53 WIB
Marak Konglomerat RI Buru USDT, Ini Alasannya

AKURAT.CO Terjadi pergeseran aset oleh kalangan konglomerat dan individu kaya atau High Net Worth Individual (HNWI) di Indonesia menuju stablecoin seperti Tether (USDT) pada kuartal I-2025, berdasarkan laporan Channel News Asia.

Nilai aset yang dipindahkan ke berbagai instrumen, termasuk USDT, mencapai ratusan juta dolar AS sejak Prabowo Subianto menjabat presiden pada Oktober 2024 hingga April 2025.

Tren ini dipicu kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal dan stabilitas ekonomi domestik, sekaligus keinginan untuk memanfaatkan anonimitas dan efisiensi transaksi lintas batas melalui USDT.

Seperti diketahui, stablecoin adalah jenis mata uang kripto yang dirancang untuk memiliki nilai stabil, berbeda dengan aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum yang dikenal volatil.

Tether (USDT) adalah pionir stablecoin yang dirancang agar selalu setara 1:1 dengan dolar AS, dengan tujuan utama menghindari fluktuasi harga ekstrem di pasar kripto.

Baca Juga: Hapus Biaya Perdagangan di Pasar USDT, Upbit Indonesia Berupaya Beri Layanan Terbaik bagi Pengguna

Sejak diluncurkan pada tahun 2014 (awalnya bernama RealCoin), USDT kini menjadi stablecoin dengan kapitalisasi pasar terbesar, mendominasi volume perdagangan di bursa kripto global pada Maret 2024 dengan kapitalisasi hampir USD99 miliar.

Berbeda dengan dolar yang diatur Federal Reserve, USDT berada di bawah yurisdiksi swasta Tether Ltd. Walaupun sempat menghadapi kritik terkait transparansi, Tether telah bekerja sama dengan firma akuntan dan menerbitkan memorandum yang menyatakan dukungan penuh cadangan dolar AS.

Dalam ekosistem DeFi, USDT menjadi jaminan yang banyak dipakai, sehingga platform terdesentralisasi juga menekankan audit cadangan sebagai bentuk perlindungan.

Jaga Paritas dengan Dolar AS

Ada 4 mekanisme yang membuat Tether (USDT) cenderung mempertahankan patokan USD1. Pertama, cadangan aset (1:1 Reserves). Tether Limited, perusahaan penerbit USDT, mengklaim memegang cadangan berupa uang tunai, setara kas, obligasi, pinjaman, komoditas, dan token digital senilai minimal satu dolar AS untuk setiap USDT yang beredar. Dengan demikian, secara teori setiap pemegang USDT dapat menukarkan tokennya dengan USD1 secara langsung.

Kedua, intervensi pasar terbuka. Saat harga USDT di pasar spot turun di bawah USD1, Tether Ltd. dapat membeli kembali tokennya untuk mengangkat harga. Sebaliknya, jika harga melampaui USD1, mereka menerbitkan dan menjual USDT baru. Langkah ini mirip dengan kebijakan bank sentral untuk menjaga stabilitas mata uang fiat.

Ketiga, arbitrase oleh pelaku pasar. Keberadaan pelaku arbitrase sangat penting. Ketika USDT diperdagangkan di bawah USD1, arbitrase mendorong pembelian USDT murah dan penukaran ke dolar AS di platform resmi, menghasilkan keuntungan sekaligus menekan harga agar kembali ke patokan. Sebaliknya, selisih kecil di atas USD1 memicu penjualan, yang menurunkan harga.

Terakhir, kepercayaan dan adopsi luas. Stabilitas nilai USDT juga bergantung pada kepercayaan pasar terhadap Tether Ltd. serta penggunaan yang masif di berbagai bursa, dompet kripto, dan aplikasi DeFi. Permintaan konstan dari trading, pinjaman, dan remitansi menambah tekanan untuk menjaga harga tetap stabil.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa