Pasar Keuangan Dibuka Kembali, Investor Siap Hadapi Pekan Padat Sentimen

AKURAT.CO Usai libur panjang tiga hari, pasar keuangan Indonesia akan kembali dibuka pada Senin (21/4/2025). Tidak seperti pekan sebelumnya yang hanya memiliki empat hari perdagangan, pekan ini aktivitas pasar akan kembali normal selama lima hari penuh.
Momentum ini menjadi kesempatan bagi investor untuk lebih aktif bertransaksi, meski tantangan dan potensi volatilitas pasar diperkirakan akan meningkat tajam.
Pada perdagangan terakhir Kamis (17/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,60% ke level 6.438,27. Secara mingguan, IHSG melonjak 2,81%.
Baca Juga: IHSG Masih Akan Bergerak Terbatas, Saham Emiten Emas Patut Diburu
Namun, berbeda dengan IHSG, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS stagnan di Rp16.820 per dolar. Dalam sepekan, rupiah justru melemah 0,18%.
Pekan Padat Data Ekonomi Domestik dan Global
Dikutip dari berbagai sumber, Senin (21/4/2025), pekan depan diprediksi akan menjadi periode yang krusial bagi pasar keuangan. Sejumlah data dan kebijakan penting dijadwalkan dirilis, baik dari dalam negeri maupun global, yang akan memengaruhi arah pasar:
1. Rilis Neraca Dagang RI (Senin, 21 April 2025)
Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2025, termasuk data ekspor dan impor.
Konsensus pasar memproyeksikan surplus sebesar USD2,63 miliar lebih rendah dibandingkan Februari (USD3,12 miliar). Hal ini sejalan dengan penurunan harga batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia.
2. Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia (Rabu, 23 April 2025)
Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya. Pasar menanti apakah BI akan memangkas suku bunga setelah sebelumnya menahannya di 5,75% pada Maret 2025.
BI menyatakan fokus tetap pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi, namun tekanan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu alasan kuat untuk membuka ruang pelonggaran.
Baca Juga: IHSG Diteropong Terkurung di Kisaran 6.500 dalam Jangka Pendek
Selain suku bunga, BI juga terus mendorong insentif likuiditas makroprudensial (KLM) dan penguatan sistem pembayaran, utamanya untuk mendukung pembiayaan UMKM dan sektor-sektor prioritas dalam program Asta Cita pemerintah.
3. Rilis Uang Beredar Maret 2025 (Jumat, 25 April 2025)
Bank Indonesia juga akan merilis data uang beredar dalam arti luas (M2). Pada Februari 2025, M2 tumbuh 5,7% yoy menjadi Rp9.239,9 triliun, naik dari pertumbuhan Januari (5,5%). Pertumbuhan ini ditopang oleh penyaluran kredit yang stabil di 9% dan peningkatan aktiva luar negeri bersih.
4. Suku Bunga China (Senin, 21 April 2025)
Dari global, Bank Sentral China (PBoC) akan mengumumkan keputusan suku bunga pinjaman utama (LPR). Survei Reuters memperkirakan suku bunga satu tahun dan lima tahun tetap dipertahankan. Namun, tekanan geopolitik dan perang dagang dengan Amerika Serikat membuat pasar mengantisipasi kemungkinan stimulus tambahan.
5. Pertemuan IMF-WBG (21–26 April 2025)
Washington, D.C. akan menjadi pusat perhatian dunia karena menjadi tuan rumah Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia 2025. Forum ini akan membahas isu ekonomi global, stabilitas keuangan, pengentasan kemiskinan, hingga pembiayaan infrastruktur. Dampaknya terhadap sentimen pasar akan bergantung pada hasil diskusi soal arah kebijakan ekonomi dunia dan respons terhadap perlambatan global.
6. PMI Manufaktur dan Jasa AS (Rabu, 23 April 2025)
Data PMI Manufaktur Global AS S&P juga akan dirilis. PMI Maret lalu berada di 50,2, menunjukkan ekspansi minimal.
Fokus pasar tertuju pada inflasi harga input dan output, serta dampaknya terhadap kebijakan The Fed. Tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama di tengah pelemahan produksi dan stagnasi lapangan kerja.
Dengan sejumlah data penting yang akan dirilis, IHSG dan rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif sepanjang pekan.
Sentimen positif dari surplus perdagangan masih bisa menopang IHSG, namun kekhawatiran terhadap suku bunga global, perang dagang, dan kebijakan suku bunga domestik bisa menjadi pemberat.
Sementara itu, pergerakan rupiah masih akan bergantung pada keputusan Bank Indonesia dan sentimen eksternal, termasuk arah kebijakan The Fed dan keputusan suku bunga China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










