Kang Dedi Mulyadi Semprot Manajemen BJBR Saat RUPST

AKURAT.CO Suasana Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank BJB pada Rabu (16/4/2025), mendadak tegang ketika Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, melontarkan kritik tajam terhadap manajemen bank pembangunan daerah itu.
Dalam video berdurasi 1 menit 24 detik yang diunggah di platform X oleh akun @Chachachenz, Kang Dedi menyuarakan keresahan publik atas integritas lembaga keuangan daerah yang sempat tercoreng oleh kasus korupsi.
Momen itu menjadi sorotan setelah Kang Dedi mengungkapkan kekhawatiran bahwa keberhasilan kinerja keuangan Bank BJB tidak boleh menutupi pentingnya tata kelola yang bersih dan transparan.
“Jangan sampai masyarakat hanya melihat angka-angka positif, tapi lupa bahwa etika dan integritas adalah fondasi utama,” ucap Kang Dedi yang dikutip dari video tersebut, Kamis (17/4/2025).
Kritik tersebut muncul menyusul kasus hukum yang menjerat mantan Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi. Ia diduga terlibat dalam penyalahgunaan wewenang yang merugikan institusi dan menurunkan kepercayaan publik.
Baca Juga: KPK Periksa Kepala Humas dan Marcom Bank BJB
Bank BJB juga terseret kasus korupsi pengadaan iklan yang juga melibatkan nama kondang seperti Ridwan Kamil, dimana dari anggaran Rp409 miliar hanya terealisasi Rp100 miliar.
Kang Dedi menegaskan bahwa lembaga keuangan seperti Bank BJB tidak cukup hanya menunjukkan profitabilitas mereka juga harus menjunjung tinggi akuntabilitas.
"Jadi kalau semisal dividen dipindahin angkanya itu takut mengganggu kinerja perusahaan, jangan juga dong bonusnya (direksi dan komisaris) naik, jangan juga biaya operasionalnya naik," tukasnya disambut gemuruh peserta RUPST.
Kang Dedi pun menyoroti ketidakefisienan BJBR yang tercermin dari tingginya rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 90%. Ke depan, BOPO BJBR diharapkan bisa ditekan ke 50% layaknya BCA misalnya yang bisa mencapai 45%.
"Ya kan sudah tahu, seluruh karyawan Bank Jabar (BJBR) sudah sadar belum? Anda kinerjanya buruk hari ini. Kalo kinerjanya buruk jadi punishment, bukan dikasih bonus. Jadi jangan cerita kinerja buruk karena kelakuan di internalnya, tapi bonus angger (tetap). Enggak adil. Biaya operasional angger, kesejahteraan angger, enggak boleh dong. Jangan kelakuannya yang salah dibebankan ke kita. Objektif saja," paparnya lagi.
Kritikan Kang Dedi pun langsung viral di media sosial. Banyak warganet mengapresiasi keberaniannya menyuarakan keresahan masyarakat terhadap potensi penyelewengan dalam pengelolaan dana publik.
Rombak Direksi dan Komisaris
Menanggapi tekanan tersebut, manajemen Bank BJB segera mengumumkan perombakan besar di jajaran pengurus.
Yusuf Saadudin, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Konsumer dan Ritel sekaligus pelaksana tugas Dirut, resmi diangkat sebagai Direktur Utama menggantikan Yuddy Renaldi.
Pengangkatan ini disambut harapan baru bagi perbaikan reputasi dan tata kelola perusahaan.
Tak hanya di level direksi, Dewan Komisaris pun ikut mengalami penyegaran.
Nama-nama populer seperti pengusaha nasional Wowiek Prasantyo (Mardigu) ditunjuk sebagai Komisaris Utama Independen, sementara tokoh publik Helmy Yahya didapuk sebagai Komisaris Independen.
Keduanya diharapkan memberi pengawasan strategis yang lebih tajam terhadap arah kebijakan manajemen.
Tebar Dividen Tunai
Di sisi keuangan, Bank BJB tetap menunjukkan performa solid dengan laba bersih Rp1,37 triliun sepanjang 2024. Dari jumlah tersebut, perseroan membagikan 65,5% nya atau sebesar Rp896,95 miliar sebagai dividen tunai setara Rp85,25 per saham, dengan dividend yield mencapai 9,72%.
RUPST juga menyetujui pembaruan Recovery Plan sebagai bagian dari mitigasi risiko jangka panjang, serta restrukturisasi organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan adaptasi terhadap dinamika pasar.
Transformasi ini diyakini menjadi langkah krusial dalam memperkuat daya saing Bank BJB sebagai bank daerah terbesar di Indonesia.
Bank BJB sendiri mencatat total aset sebesar Rp219,9 triliun, menjadikannya salah satu pemain utama dalam industri perbankan nasional.
Namun dengan sorotan publik yang semakin tajam, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mencetak laba, melainkan membangun kembali kepercayaan yang sempat goyah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










