Pasar Bergejolak Imbas Tarif Trump, Intip 4 Tips Investasi dari Manulife

AKURAT.CO Kondisi pasar global belakangan ini memang bikin pusing. Bagaimana tidak, Amerika Serikat baru saja mengumumkan perubahan tarif yang langsung bikin efek domino ke seluruh dunia.
Tapi jangan buru-buru panik. Di balik setiap gejolak, selalu ada celah untuk peluang. Nah, buat kamu yang lagi mikir-mikir soal investasi, yuk kenali dulu dinamika yang sedang terjadi biar nggak salah langkah.
Menurut Deputy Head of Multi-Asset Solutions Asia dan Senior Portfolio Manager Manulife, Marc Franklin, perubahan tarif yang dilakukan AS menciptakan lanskap baru di pasar global. "AS tampaknya sedang serius mengarahkan ekonominya ke arah reindustrialisasi. Imbasnya? Dunia perdagangan berubah total," ujar Marc dalam keterangannya, Selasa (15/4/2025).
Negara-negara seperti China kemungkinan harus lebih fokus pada pertumbuhan konsumsi dalam negeri mereka ketimbang ekspor.
Buat investor, ini adalah sinyal penting. Sektor manufaktur dan jasa domestik AS bisa jadi ladang cuan baru karena berpotensi mendapat keuntungan dari arah baru kebijakan ini. Di sisi lain, kalau China merespons dengan menggencarkan stimulus ekonomi, bisa jadi sektor konsumennya bakal menggeliat dan memberikan peluang investasi baru.
Baca Juga: Euforia Investasi Emas Usai Lebaran, Transaksi Deposito Emas Pegadaian Tembus Hampir 1 Ton
Lalu bagaimana sebaiknya investor bersikap? Berikut 4 tips yang diberikan Manulife.
1. Diversifikasi Aset
Tidak hanya tarif, tantangan lain datang dari geopolitik dan penyesuaian model ekonomi negara-negara di ASEAN. Misalnya, Vietnam dan Thailand harus putar otak karena celah ekspor mereka mulai terjepit. Sementara itu, India malah kelihatan lebih stabil karena lebih banyak mengandalkan permintaan domestik.
Lalu bagaimana solusinya? Yaitu dengan diversifikasi portofolio. Tidak hanya fokus di satu negara atau sektor, tapi mulai lirik negara-negara dengan daya beli lokal yang kuat seperti India. Ini bisa bantu portofolio kamu lebih tahan banting terhadap risiko geopolitik.
2. Selektif Membeli Saat Harga Diskon
Ada kabar baik buat kamu yang suka "belanja" saat diskon. Beberapa aset, terutama saham-saham teknologi kapitalisasi besar di AS dan instrumen kredit di negara maju, sedang mengalami reset valuasi. Artinya, valuasinya lagi turun ke titik yang lebih wajar bahkan mungkin terlalu rendah.
Jika kamu jeli, ini adalah waktu yang pas buat masuk dan ambil posisi strategis. Namun juga tidak boleh sembarangan. Perlu analisis mendalam dan tetap fleksibel dalam menyusun strategi. Pantau terus spread kredit dan penilaian pasar biar tidak ketinggalan momen.
3. Pertimbangkan Saham Wall Street
Meski beberapa investor asing mungkin mulai cabut dari pasar AS karena kebijakan yang cenderung bias ke dalam negeri, investor ritel domestik masih setia. Pasar tenaga kerja yang solid jadi salah satu penopangnya.
Kalau valuasi saham AS turun ke rata-rata jangka panjangnya, peluang bisa terbuka lebar. Baik investor lokal maupun internasional bisa memanfaatkan momen ini untuk masuk. Namun yang harus diingat, jangan hanya berfokus ke AS. Diversifikasi tetap jadi kunci untuk meminimalkan risiko.
4. Marathon, Bukan Sprint
Buat kamu yang tidak suka ambil risiko besar, strategi jangka panjang bisa jadi pilihan paling aman. Di tengah ketidakpastian seperti sekarang, menyimpan sebagian dana dalam bentuk kas bisa jadi jurus jitu. Ketika pasar jatuh, kamu punya amunisi untuk beli saat harga rendah.
Namun juga harus di ingat, jangan kejar-kejar waktu pasar. Fokus pada portofolio yang terdiversifikasi dan punya manajemen risiko yang kuat. Jangan terpancing berita-berita sensasional jangka pendek.
Justru dengan tetap tenang dan konsisten, kamu bisa lebih siap menyambut peluang besar di masa depan. Intinya, perubahan tarif AS memang bikin dunia investasi agak goyang. Namun bukan berarti kita harus takut.
Dengan strategi yang tepat mulai dari diversifikasi, evaluasi sektor potensial, hingga membangun portofolio tahan banting, kamu tetap bisa cuan di tengah gejolak yang tidak pasti seperti saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










