Akurat

5 Fenomena Panic Buying di Indonesia, Terbaru Antrean Emas Galeri 24 Pegadaian

Yosi Winosa | 15 April 2025, 14:17 WIB
5 Fenomena Panic Buying di Indonesia, Terbaru Antrean Emas Galeri 24 Pegadaian

AKURAT.CO Fenomena panic buying atau memborong (membeli barang secara berlebihan) akibat ketakutan akan kelangkaan atau kenaikan harga, bukan hal baru di Indonesia.

Panic buying bukan hanya memicu kelangkaan barang, tetapi juga menimbulkan kekacauan distribusi, spekulasi harga, hingga keresahan sosial.

Mengutip Investopedia, Selasa (15/4/2025), dari perspektif makroekonomi, aksi panic buying mengurangi suplai dan menciptakan permintaan yang lebih tinggi, sehingga menyebabkan inflasi harga yang lebih tinggi.

Baca Juga: Euforia Investasi Emas Usai Lebaran, Transaksi Deposito Emas Pegadaian Tembus Hampir 1 Ton

Di tingkat mikro (misalnya di pasar finansial), rasa takut ketinggalan (FOMO) atau pembelian yang dipicu oleh tekanan jual dapat memperburuk aksi beli panik, menjadi apa yang disebut dengan melt-up. Ketakutan akan kekurangan barang adalah alasan potensial lain untuk panic buying.

Terkini adalah fenomena melonjaknya harga emas dunia melonjak akibat ketegangan geopolitik dan pelemahan nilai tukar pada awal April 2025.

Masyarakat Indonesia justru berbondong-bondong membeli logam mulia (LM). Antrean panjang di gerai Butik Emas Logam Mulia Antam di berbagai daerah, termasuk juga di Galeri 24 Milik Pegadaian. Akibatnya stok antam cetakan kecil (0,5–5 gram) habis dalam hitungan jam.

Masyarakat mengaku, khususnya kelas menengah dan atas, berbondong-bondong membeli emas batangan Antam sebagai bentuk perlindungan kekayaan. Bahkan platform e-commerce sempat kewalahan melayani pembelian emas digital.

Ini dia 5 peristiwa panic buying di Indonesia:

1. Stok Masker hingga Obat Akibat Covid-19 (2020)

Panic buying terbesar dalam beberapa tahun terakhir terjadi pada awal 2020, saat pandemi Covid-19 pertama kali diumumkan masuk ke Tanah Air. Dalam hitungan jam setelah konferensi pers pemerintah, warga langsung menyerbu supermarket dan apotek.

Barang yang diborong di antaranya masker, hand sanitizer, alkohol, beras, mi instan, tisu toilet, hingga vitamin. Dampaknya harga masker melonjak hingga 10 kali lipat, hand sanitizer dan disinfektan menjadi barang langka. Bahkan beberapa toko membatasi jumlah pembelian per orang.

2. Minyak Goreng Langka (2021–2022)

Panic buying kembali terjadi pada akhir 2021 hingga awal 2022, kali ini dipicu oleh kelangkaan minyak goreng, salah satu kebutuhan dapur utama masyarakat. Penyebabnya adalah ketidakseimbangan antara harga CPO dunia yang naik dan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) pemerintah, serta permainan spekulan.

Hal ini berdampak pada antrean panjang di minimarket, bahkan sejak subuh. Maraknya aksi “borong lalu jual kembali” dengan harga tinggi di platform daring. Sejumlah ritel melakukan pembatasan pembelian 1-2 liter per orang.

Akibat dari fenomena tersebut, lahirlah MinyaKita dari pemerintah sebagai langkah stabilisasi harga minyak goreng di pasar.

3. BBM (2022 - 2023)

Panic buying BBM kerap terjadi saat isu kenaikan harga BBM bersubsidi mencuat. SPBU diserbu masyarakat dengan kendaraan pribadi dan jeriken dalam waktu singkat.

Contohnya terjadi pada Agustus 2022 dan September 2023, menjelang pengumuman kenaikan harga Pertalite dan Solar. Dampak Kemacetan di sekitar SPBU, SPBU kehabisan stok dan penimbunan oleh oknum dan penjualan ilegal.

4. Obat dan Vitamin (Varian Delta Covid-19, 2021)

Gelombang kedua Covid-19 di Indonesia yang dipicu varian Delta membuat masyarakat panik, terutama setelah rumah sakit penuh dan angka kematian meningkat drastis.

Barang yang diborong diantaranya paracetamol, vitamin C dan D, obat flu, oximeter, antibiotik seperti azithromycin. Dampaknya terjadi lonjakan harga obat hingga ratusan persen. Langkanya pasokan vitamin dan suplemen di apotek. Banyak warga kesulitan mendapat obat untuk isolasi mandiri.

5. Beras (2023)

Panic buying beras sering terjadi menjelang Ramadan atau ketika pemerintah mengumumkan rencana impor bahan pokok. Ketakutan akan kenaikan harga membuat warga borong stok meski tidak ada krisis nyata. Contohnya pada awal 2023 ketika pemerintah menyebutkan rencana impor beras akibat cuaca ekstrem yang mengganggu produksi.

Alhasil, lahirlah Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) pada tahun 2023 yang diluncurkan oleh Pemerintah c.q Perum Bulog yang bertujuan untuk menstabilkan pasokan dan harga beras di pasar.

Panic buying dalam suatu perekonomian dapat terjadi karena berbagai alasan, yang masing-masing dapat berdampak berbeda pada perekonomian dan dukungan kebijakan moneternya.

Pembelian dalam jumlah besar dapat didorong oleh permintaan akan produk baru yang sangat diminati konsumen. Jenis permintaan yang tinggi ini bisa baik untuk perekonomian sekaligus menyebabkan inflasi harga.

Sebaliknya, dalam beberapa situasi ekonomi, panic buying dapat didorong oleh pasokan yang sangat rendah yang dapat menaikkan harga dan juga menyebabkan pergeseran ke arah alternatif baru.

Beberapa situasi panic buying mungkin juga hanya terjadi dalam jangka pendek, seperti tingginya permintaan akan barang yang berkaitan dengan kondisi cuaca atau bencana termasuk perang yang dapat memiliki implikasi ekonomi tersendiri. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa