Akurat

Trump Umumkan Jeda Tarif hingga 90 Hari, IHSG Nanjak 5 Persen

Hefriday | 10 April 2025, 12:56 WIB
Trump Umumkan Jeda Tarif hingga 90 Hari, IHSG Nanjak 5 Persen

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau 5,02% atau 299,87 poin ke 6.267,86 pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (10/4/2025) siang.

Salah satu sentimen penggerak IHSG adalah jeda tiga bulan penuh atau sekitar 90 hari Trump pada semua tarif impor tinggi yang ditetapkan ke berbagai negara, tak terkecuali Indonesia yang terkena tarif 32%.

Meski demikian, Trump justru mematok tarif lebih tinggi buat China, yang akan dinaikkan menjadi 125% dari 104% setelah China mengumumkan tarif pembalasan tambahan terhadap AS pada Rabu pagi.

Yang jelas saat ini semua negara selain China yang dikenakan tarif impor oleh Trump akan mengalami penurunan ke tarif universal sebesar 10%.

Baca Juga: IHSG Tahan Guncangan Global, Ekonomi RI Masih Kuat Meski Dihantam Tarif Trump

BEI Siaga

Direktur Pengembangan otoritas pasar modal atau BEI, Jeffrey Hendrik, memastikan pihaknya sudah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk meredam kepanikan di pasar.
 
Seperti diketahui,  IHSG sempat anjlok signifikan pada Selasa (8/4/2025), yakni turun 596,33 poin atau 9,16% ke level 5.914,28. Salah satu pemicu utamanya adalah tarif resiprokal dari AS sebesar 32% yang menyasar ekspor Indonesia.
 
Sigap, BEI langsung mengatur ulang sistem trading halt dan batas Auto Rejection Bawah (ARB) untuk mengantisipasi gejolak yang berlebihan di pasar. Penyesuaian ini mulai berlaku sejak 8 April 2025.
 
Tak hanya itu, BEI juga memberikan lampu hijau untuk perusahaan publik melakukan buyback saham tanpa perlu menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kebijakan ini dirilis sejak 19 Maret 2025 sebagai tameng menghadapi tekanan jual yang tinggi.
 
Sementara itu, rencana penerapan perdagangan short selling juga ikut ditunda. Tujuannya jelas, agar tekanan terhadap saham-saham yang sudah tertekan tak makin parah.
 
"Kita sama-sama memantau perkembangan di pasar global seperti apa. Kalau nanti dirasa atau disepakati diperlukan penyesuaian-penyesuaian lain, kenapa tidak?" kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (10/4/2025).
 
Saat ini, salah satu penyesuaian yang sedang dikaji serius adalah membuka kode broker dan domisili investor dalam sistem perdagangan online. Langkah ini diharapkan bisa memberikan transparansi lebih bagi investor ritel agar mereka tidak gampang panik.
 
“Itu termasuk yang sedang kita diskusikan intensif dengan OJK, supaya bisa memberikan informasi tambahan kepada investor,” jelas Jeffrey.
 
 
BEI pun menegaskan tetap terbuka untuk melakukan penyesuaian lebih lanjut jika situasi memburuk. “Kalau dirasa diperlukan penyesuaian, kita sangat terbuka. Apapun yang perlu kita lakukan, bisa kita lakukan,” tegas Jeffrey.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa