Bos LPS Sebut Ekonomi RI Justru dalam Fase Ekspansif, Ini Buktinya
Hefriday | 8 April 2025, 17:30 WIB

AKURAT.CO Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang dalam tren positif.
Bahkan, menurut dia, sinyal-sinyal pemulihan ekonomi sudah mulai tampak jelas sejak awal 2025.
Purbaya menjelaskan bahwa pihaknya punya semacam “bola kristal” untuk melihat arah ekonomi nasional ke depan. Maksudnya adalah indeks ekonomi terdepan (leading economic index) yang dikembangkan oleh LPS.
“Indeks ini memproyeksikan kondisi ekonomi Indonesia 6 sampai 12 bulan ke depan. Dan biasanya, ya, ini nggak pernah salah,” ungkap Purbaya dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI, Selasa (8/4/2025).
Dirinya juga menjelaskan bahwa setelah anjlok akibat pandemi pada 2020, ekonomi Indonesia kini memasuki fase kebangkitan.
“Artinya dari sekarang, Maret sampai tahun depan, ekonomi kita akan terus ekspansi,” ujarnya.
Menurutnya, banyak yang keliru menilai kalau ekonomi Indonesia akan kembali terpuruk seperti tahun 1997–1998.
Purbaya menilai, secara historis, tekanan ekonomi besar memang terjadi sekitar 10 tahun sekali. Setelah krisis 1998, Indonesia kembali diuji pada 2008 dan terakhir di 2020.
“Kalau saya plot, 98 jatuh, 2008 jatuh, 2020 jatuh. Tapi sekarang? Masih naik kencang ke atas. Jadi pandangan yang bilang kita mau kayak 98 lagi, itu salah kaprah. Mereka mungkin enggak ngerti data,” tegasnya.
Purbaya juga membandingkan data-data ekonomi dengan pergerakan pasar modal. Menurutnya, grafik leading index dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) biasanya bergerak seirama. Tapi sekarang, IHSG justru terlihat ‘melempem’.
“Kalau indeks leading kita naik dan IHSG malah turun, artinya pasar lagi overreacting. IHSG sekarang ada di bawah fundamentalnya. Jadi kalau bapak-bapak suka main saham, jangan lupa, sekarang good time to buy,” kata Purbaya.
Ia juga menyebut indikator lain seperti penjualan mobil yang kembali naik, konsumsi semen yang mulai tumbuh lagi, dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tembus di atas 100 sebagai tanda bahwa masyarakat mulai optimistis terhadap kondisi ekonomi.
"IKK kita Februari kemarin naik di atas 100. Itu artinya masyarakat merasa aman dan yakin sama kondisi ekonomi mereka. Otomatis ya mereka mulai belanja lagi," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa selama permintaan domestik tetap kuat dengan konsumsi rumah tangga dan investasi yang mendominasi porsi ekonomi maka dampak dari gejolak global bisa ditekan.
“Kalau ekonomi global kacau, ya nggak usah panik. Selama permintaan domestik dijaga, kita aman-aman aja kok,” ujarnya.
Purbaya juga menyinggung tentang situasi global termasuk perang tarif antara AS dan sejumlah negara Asia. Menurut dia, posisi Indonesia justru diuntungkan dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat terhadap produk dari Vietnam, Kamboja, hingga China.
“Kalau dilihat, negara-negara pesaing kita kena tarif lebih tinggi dari Indonesia. Ini diam-diam sebenarnya kayak ‘bantuan’ dari Trump buat kita. Harusnya pasar tahu ini, dan bisa kita manfaatkan buat tingkatin daya saing ekspor kita,” tambahnya.
Dengan data-data tersebut, Purbaya menyimpulkan bahwa arah ekonomi Indonesia sedang mengarah ke jalur yang lebih baik.
“Intinya sih, kita jangan keburu takut. Ekonomi Indonesia sekarang lagi bottoming out dan siap ekspansi. Jadi ini saatnya percaya diri,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










