Ray Dalio Jadi Dewan Penasihat Danantara, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Demi Ermansyah | 24 Maret 2025, 16:42 WIB

AKURAT.CO Ray Dalio, investor kawakan dunia yang mendirikan Bridgewater Associates, kini resmi bergabung sebagai Dewan Penasihat Danantara (Daya Anagata Nusantara) Indonesia. Dengan kekayaan mencapai USD16,2 miliar per Maret 2025.
Mengacu kepada hasil data Bloomberg Billionaires Index, nampaknya Dalio bukanlah sekadar pebisnis biasa. Dirinya merupakan salah satu pemikir ekonomi global yang telah membuktikan strategi investasinya di berbagai kondisi pasar.
Namun, apa sebenarnya peran Dalio di Danantara? Seberapa besar dampaknya bagi transformasi ekonomi Indonesia?
Angin Segar bagi Iklim Investasi?
Indonesia tengah menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat. Dari fluktuasi harga komoditas hingga ketidakpastian geopolitik, para investor baik lokal maupun asing cenderung berhati-hati sebelum menanamkan modalnya.
Melihat situasi tersebut, hadirnya Dalio sebagai penasihat strategis bisa menjadi sinyal positif bagi dunia investasi di Tanah Air.
Mengutip dari laman Forbes, Dalio dikenal dengan pendekatan analisis makro global yang tajam, terutama dalam membaca siklus ekonomi.
Strateginya yang dikenal sebagai All Weather Portfolio telah membantu banyak investor dalam menghadapi perubahan kondisi pasar.
Apabila pendekatan ini diterapkan dalam kebijakan ekonomi Indonesia, bukan tidak mungkin negara ini bisa lebih siap menghadapi ketidakpastian global.
Selain itu, dikutip dari laman Bloomberg, rekam jejak Dalio dalam menjalin hubungan dengan berbagai bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral China (PBOC), bisa menjadi keuntungan bagi Indonesia.
Oleh karena itu, dengan hadirnya Dalio mama ada kemungkinan potensi bagi Indonesia untuk lebih diperhitungkan dalam kancah ekonomi global dan menarik lebih banyak investor internasional.
Transformasi Ekonomi, Deregulasi dan Digitalisasi
Salah satu fokus utama yang akan dikawal oleh Danantara adalah deregulasi dan digitalisasi. Hal ini sejalan dengan pandangan Dalio yang menekankan pentingnya efisiensi dalam pemerintahan dan ekonomi.
Dalam beberapa kesempatan, Dalio menyebut bahwa birokrasi yang terlalu rumit sering kali menjadi penghambat investasi.
Seperti halnya Indonesia, masalah tersebut acapkali dikeluhkan oleh para pelaku usaha. Dengan masuknya Dalio ke dalam jajaran penasihat ekonomi, ada harapan bahwa regulasi bisa lebih disederhanakan dan investasi bisa lebih lancar.
Tak hanya itu, digitalisasi juga menjadi salah satu agenda utama. Pemerintah berencana meluncurkan infrastruktur digital publik, termasuk program Government Technology (GovTech) yang akan diperkenalkan pada 17 Agustus 2025.
Hal tersebut pun diamini oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut B. Pandjaitan, dimana dirinya melalui akun instagram pribadinya menjelaskan bahwa komitmen pemerintah dalam melakukan deregulasi untuk menciptakan iklim investasi yang lebih sehat.
Penyederhanaan aturan dinilai sebagai langkah krusial untuk menarik lebih banyak investor.
"Birokrasi yang rumit sering menjadi penghambat bagi masyarakat yang ingin bekerja dan berusaha. Oleh karena itu, deregulasi menjadi prioritas utama," jelasnya belum lama ini.
Selain deregulasi, pemerintah juga mendorong digitalisasi dalam berbagai sektor, termasuk pengembangan infrastruktur digital publik.
Salah satu fokus utama adalah penerapan digitalisasi pemerintahan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi, yang dijadwalkan meluncur pada 17 Agustus 2025.
Seluruh masukan dari investor dalam diskusi ini akan disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Oleh karena itu, Luhut berharap kebijakan yang dibuat pemerintah bisa lebih tepat sasaran dan didukung oleh sinergi yang kuat antara pemerintah dan pelaku pasar.
"Regulasi yang lebih sederhana, kebijakan yang tepat sasaran, serta sinergi yang baik akan membuat ekonomi Indonesia lebih kuat dan kompetitif," katanya.
Melihat respon positif tersebut ditambah dengan pengalaman Dalio dalam strategi investasi berbasis data, implementasi program ini tentunya, hal tersebut bisa lebih terarah dan efektif.
Berdampak bagi UMKM dan Sektor Riil?
Salah satu aspek yang menarik dari keterlibatan Dalio adalah dampaknya bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang digarap oleh pemerintah tidak hanya bertujuan meningkatkan gizi anak-anak, tetapi juga menciptakan hingga 1,9 juta lapangan kerja serta memperkuat ekosistem petani, peternak, dan UMKM lokal.
Dikutip dari Business insider, Dalio sendiri merupakan pendukung ekonomi berbasis komunitas dan percaya bahwa pertumbuhan ekonomi harus melibatkan banyak sektor.
Apabila dirinya turut serta dalam perencanaan dan implementasi strategi ekonomi Indonesia, UMKM bisa mendapatkan akses lebih besar terhadap investasi dan pembiayaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










