Dana Asing Rp10,15 Triliun Kabur dari RI Picu IHSG Ambruk hingga Trading Halt

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan hampir 4,9%, anjlok ke level 6.154 dari sebelumnya di 6.600-an. Penurunan drastis ini dipicu oleh berbagai faktor global dan domestik yang membuat pasar modal Indonesia tertekan.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa arus modal asing yang terus keluar dari pasar modal Indonesia (capital outflow) turut memicu situasi ini. Investor global lebih memilih menarik dananya dan mengalihkan investasi ke negara lain yang dianggap lebih stabil.
Berdasarkan data setelmen BI, hingga pekan kedua Maret 2029 atau 10-13 Maret 2025 lalu, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp10,15 triliun, terdiri dari jual neto Rp1,92 triliun di pasar saham, Rp5,25 triliun di pasar SBN, dan Rp2,97 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Investor khawatir terhadap stabilitas ekonomi dan ancaman resesi global, sehingga mereka lebih memilih tempat yang lebih aman," ujarnya.
Baca Juga: BEI Terapkan Trading Halt Usai IHSG Longsor 5 Persen Lebih
Selain itu, perang dagang menjadi salah satu penyebab utama IHSG melemah. "Pasca Trump terpilih sebagai presiden, ia langsung berkoar-koar mengenai perang dagang, terutama terhadap negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS seperti China, Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko," imbuh Ibrahim.
Faktor domestik juga tak kalah berpengaruh. Defisit anggaran yang terus melebar menjadi perhatian serius, terutama setelah diumumkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Jika tidak segera diatasi, defisit ini berpotensi semakin besar hingga akhir tahun, menambah tekanan bagi ekonomi nasional.
Fluktuasi nilai tukar rupiah juga menjadi momok bagi pasar. Dampak perang dagang yang semakin intensif membuat rupiah melemah signifikan. "Banyak yang memperkirakan rupiah bisa menyentuh Rp16.900 per USD pada akhir tahun jika kondisi global tidak membaik," ungkap Ibrahim.
Selain itu, sentimen negatif di pasar global turut menyeret IHSG ke zona merah. Saham-saham teknologi di Amerika, Eropa, dan Asia mengalami koreksi tajam, memicu efek domino ke pasar modal Indonesia. Investor semakin waspada dengan ketidakpastian yang terjadi di berbagai negara.
Kondisi semakin diperburuk oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. Serangan Israel terhadap Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 121 orang memicu kekhawatiran perang terbuka antara Hamas dan Israel. Situasi ini semakin memperkuat dolar AS, membuat investor lebih memilih aset safe haven seperti emas dan obligasi AS.
Dalam kondisi IHSG yang terus merosot, Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki hak untuk melakukan penghentian perdagangan demi melindungi investor. "Jika indeks turun lebih dari 5 persen dalam sehari, BEI bisa melakukan trading halt untuk menghindari kepanikan yang lebih besar," tegas Ibrahim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










