Akurat

Hati-hati Saham dengan Harga Terlalu Tinggi (Overvalued)

M. Rahman | 3 September 2024, 17:02 WIB
Hati-hati Saham dengan Harga Terlalu Tinggi (Overvalued)

AKURAT.CO Belum lama ini, pasar saham Indonesia dihebohkan dengan berita pemecatan 5 karyawan divisi penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terlibat gratifikasi IPO.

Usut-punya usut, oknum karyawan tersebut membantu memuluskan penerimaan calon emiten untuk dapat listing dan diperdagangkan sahamnya di bursa dan praktik ini telah berjalan beberapa tahun.

Adapun nilai uang imbalan berkisar ratusan juta sampai satu miliaran rupiah per emiten. Melalui praktek terorganisir ini, bahkan para oknum tersebut kabarnya membentuk suatu perusahaan jasa penasehat yang pada saat dilakukan pemerikasaan ditemukan sejumlah akumulasi dana sekitar Rp20 miliar.

Sontak, warganet dibuat geram dengan praktik ilegal tersebut. Pasalnya banyak ditemukan saham-saham yang baru-baru IPO berperforma buruk atau dikenal dengan istilah saham gocap.

"Sudah sering jadi isi chat antar traders beberapa tahun ini: kira-kira dapet berapa M ya buat lolosin emiten sampah?", unggah akun @jen_l4u. "Wkwk. Udah nggak usah IPO lagi sebelum diauditin, pada ngaco. Dari yang baru-baru aja kayak ISEA, SOLA, CGAS, BAIK, ATLA, saya yakin ada yang etrlibat gratifikasi juga," unggah akun @_fireshare.

Baca Juga: Bingung Pilih Strategi Investasi Saham IPO? Simak 3 Temuan Stockbit Untuk Maksimalkan Cuan

Nah meski yang akan dibahas kali ini agak berbeda dengan fenomena saham IPO gorengan (hasil corenering/ insider trading) yang penuh aroma gratifikasi tersebut, namun investor juga berlu mewaspadai fenomena saham yang harganya terus melambung hingga ke level terlalu tinggi atau dikenal saham overvalued.

Istilah "terlalu tinggi" atau overvalued merujuk pada saham yang harga pasarnya jauh di atas nilai intrinsiknya. Buat kamu yang belum tahu, nilai intrinsik adalah nilai sebenarnya dari suatu perusahaan berdasarkan analisis fundamental yang meliputi penilaian terhadap berbagai faktor mendasar, seperti pendapatan, aset, dan potensi pertumbuhan masa depan.

Investor biasanya menghindari saham overvalued karena harganya jauh di atas nilai intrinsik. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua saham overvalued harus dihindari atau dianggap tidak layak investasi.

Mengutip laporan Stockbit, beberapa perusahaan dengan saham overvalued mungkin memiliki performa yang sangat baik, dengan tingkat pertumbuhan pendapatan di atas rata-rata industri. Dalam kasus seperti ini, saham-saham tersebut masih bisa menjadi pilihan investasi yang menarik, terutama jika perusahaan memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang kuat.

Pertanda Saham Overvalued

1. Nilai P/E Ratio Sangat Tinggi

Salah satu indikator utama harga saham yang terlalu tinggi adalah nilai rasio harga-laba (price-to-earnings ratio atau P/E ratio) yang sangat tinggi jauh melebihi rata-rata industri. Semakin tinggi P/E ratio, semakin mahal harga saham tersebut dibandingkan dengan laba per saham yang dihasilkan perusahaan.

2. Valuasi Perusahaan Jauh di atas Rata-Rata Industri

Selain melihat rasio P/E, kamu juga dapat membandingkan valuasi atau kapitalisasi pasar suatu perusahaan dengan rata-rata industri. Jika nilainya jauh lebih tinggi secara signifikan, kemungkinan harga sahamnya terlalu tinggi. Kamu bisa pakai fitur Comparison di Stockbit untuk membandingkan valuasi suatu saham dengan saham yang sejenis dan rata-rata industrinya.

3. Pergerakan Harga Sangat Cepat

Jika harga saham suatu perusahaan naik dengan sangat cepat dalam waktu singkat, tanpa disertai dengan peningkatan kinerja fundamental yang signifikan, hal ini dapat menjadi tanda bahwa harga saham tersebut terlalu tinggi.

Penyebab Saham Overvalued

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan harga saham menjadi overvalued atau terlalu tinggi, antara lain:

1. Pertumbuhan Perusahaan yang Pesat

Salah satu faktor utama yang dapat menyebabkan harga saham terlalu tinggi adalah pertumbuhan perusahaan yang sangat pesat. Ketika sebuah perusahaan mengalami ekspansi yang agresif, meningkatkan penjualan, dan menghasilkan laba yang tinggi, investor cenderung bersemangat untuk membeli sahamnya. Permintaan yang tinggi terhadap saham tersebut dapat mendorong harganya melonjak secara signifikan.

2. Sentimen Positif Pasar

Selain pertumbuhan perusahaan, sentimen positif pasar juga dapat menjadi faktor penyebab harga saham terlalu tinggi. Ketika investor dan masyarakat luas memiliki persepsi yang sangat optimistis terhadap prospek suatu perusahaan, mereka akan semakin bernafsu untuk membeli sahamnya. Hal ini dapat menyebabkan harga saham terdorong naik hingga jauh melampaui nilai intrinsik-nya.

3. Spekulasi Berlebihan

Dalam beberapa kasus, harga saham yang terlalu tinggi dapat disebabkan oleh spekulasi berlebihan dari investor. Investor mungkin membeli saham dengan harapan dapat menjualnya kembali pada harga yang lebih tinggi dalam jangka pendek, tanpa mempertimbangkan fundamental perusahaan secara mendalam. Perilaku spekulatif semacam ini dapat mendistorsi harga saham di pasar.

Dampak Saham Overvalued

1. Penurunan Imbal Hasil Investasi

Ketika harga saham terlalu tinggi, imbal hasil (return) yang diterima investor cenderung akan menurun. Meskipun harga saham naik, tetapi kenaikan tersebut biasanya tidak sebanding dengan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor. Hal ini dapat menyebabkan investor merasa kecewa dan enggan untuk berinvestasi lebih lanjut.

2. Risiko Bubble Ekonomi

Harga saham yang terlalu tinggi juga dapat memicu terbentuknya bubble ekonomi, yaitu situasi di mana harga aset (seperti saham) jauh melebihi nilai fundamentalnya. Bubble semacam ini pada akhirnya akan pecah, menyebabkan koreksi harga yang sangat tajam dan dapat menimbulkan krisis ekonomi yang lebih luas.

3. Kesulitan Bagi Perusahaan

Bagi perusahaan yang sahamnya terlalu mahal, hal ini dapat menjadi tantangan tersendiri. Misalnya, perusahaan akan kesulitan untuk menarik investor baru karena harga sahamnya dianggap terlalu tinggi. Selain itu, perusahaan juga dapat mengalami kesulitan dalam melakukan akuisisi atau merger dengan perusahaan lain.

Strategi Menghadapi Saham Overvalued

Sebagai investor, menghadapi harga saham yang terlalu tinggi bisa menjadi tantangan tersendiri. Ketika valuasi saham sudah melampaui nilai fundamentalnya, kita perlu berhati-hati dan mempertimbangkan beberapa strategi.

Berikut ini beberapa strategi yang bisa diterapkan, antara lain:

1. Analisis Mendalam

Lakukan analisis mendalam untuk menilai apakah harga tinggi tersebut masih didukung oleh prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan. Jika tidak, mungkin lebih bijak untuk menahan diri dari membeli saham tersebut dan mencari alternatif investasi lain yang lebih menarik.

2. Dollar Cost Averaging

Dollar-cost averaging adalah strategi investasi di mana investor membeli sejumlah saham secara teratur dengan jumlah uang yang tetap. Strategi ini dapat membantu investor meminimalkan risiko membeli saham di harga puncak.

3. Diversifikasi Portofolio

Menghadapi harga saham yang terlalu tinggi juga dapat diatasi dengan menerapkan prinsip diversifikasi dalam portofolio investasi. Dengan berinvestasi pada berbagai jenis aset, investor dapat memitigasi risiko yang timbul akibat membeli saham tertentu dengan harga yang terlalu mahal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa