Akurat

Intip Menu Saham di Pekan HUT ke-79 Kemerdekaan RI

Silvia Nur Fajri | 12 Agustus 2024, 13:29 WIB
Intip Menu Saham di Pekan HUT ke-79 Kemerdekaan RI

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan kecil sebesar -0,76% atau -51 poin selama satu pekan terakhir (5-9 Agustus 2024), meskipun net buy asing tercatat mencapai Rp602,1 miliar. Penurunan IHSG ini terutama disebabkan oleh dua sektor yang mengalami penurunan signifikan, yaitu IDX BASIC yang turun -3,11% dan IDX ENERGY yang terkoreksi -2,19%.

Namun, IHSG hanya mengalami penurunan tipis berkat kontribusi dua sektor yang mengalami kenaikan, yakni IDX PROPERTY yang tumbuh +1,44% dan IDX HEALTH yang naik +0,72%.

 "Pada periode jangka menengah, IHSG berpotensi membentuk pola bullish yang dikenal sebagai inverted head & shoulders, setelah terjadi penolakan pada area support di level 6.998–7.024. IHSG kemungkinan akan menguji kembali resistance di level 7.348–7.380," ungkap Imam Gunadi, Equity Analis dari Indo Premier Sekuritas (IPOT) dalam keteranganya Senin (12/8/2024).

Baca Juga: IHSG Hari Ini Ditaksir Melemah ke 6.949-7.026

Kemudian, Imam menjelaskan bahwa IHSG saat ini diperdagangkan di atas EMA5, dan jika bertahan di level tersebut, IHSG berpotensi menguji resistance terdekat di level 7.300 dengan support di level 7.200.

Selanjutnya, ia juga menyebutkan beberapa faktor yang memengaruhi perdagangan dalam seminggu terakhir. Pertama adalah kebijakan Bank of Japan (BoJ) yang secara mengejutkan menaikkan suku bunganya sebesar 15 basis poin dari 0,1% menjadi 0,25% pada akhir Juli 2024.

"Kenaikan suku bunga ini telah memberikan efek domino bagi ekonomi Jepang. Misalnya, penguatan JPY dapat memengaruhi sektor pariwisata Jepang dengan biaya bepergian yang menjadi lebih mahal," ujarnya.

Selain itu, penguatan JPY juga berdampak negatif pada sektor industri Jepang serta carry traders yang meminjam yen dengan suku bunga rendah. "Penguatan JPY dapat menyebabkan carry traders menjual aset mereka karena khawatir tidak dapat membayar kewajiban," tambah Imam.

Tindakan ini kemudian menyebabkan koreksi di bursa Wall Street, yang dipengaruhi oleh kekhawatiran mengenai posisi carry traders. Faktor kedua adalah ekspansi ekonomi China, yang menunjukkan peningkatan pada neraca dagang dengan pertumbuhan impor sebesar 7% (yoy), lebih tinggi dari konsensus 3,5%.

“Walaupun inflasi China berada di level 0,5% (yoy), lebih tinggi dari periode sebelumnya, data ini menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat," jelas Imam.

Data tenaga kerja AS juga menunjukkan perbaikan, dengan Initial Jobless Claims turun ke 233.000, lebih rendah dari konsensus 240.000. "Data ini mengurangi kekhawatiran mengenai resesi dan didukung oleh data ISM Services PMI yang kembali ekspansif di 51,4 poin," tambahnya.

Selain itu, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid dengan pertumbuhan GDP sebesar 5,05% (yoy), melampaui konsensus 5%. "Pertumbuhan ini didorong oleh sektor akomodasi dan makanan-minuman, serta sektor otomotif yang mulai bangkit. Data penjualan mobil dan sepeda motor menunjukkan tren positif," kata Imam.

Menjelang HUT Ke-79 Kemerdekaan RI, Imam merekomendasikan beberapa saham dan produk investasi untuk trading minggu ini. Serta, beli ASII pada pullback dengan support di 4.590 dan resistance di 4.880, serta BBNI pada breakout dengan support di 5.000 dan resistance di 5.500.

"Kami menyarankan untuk membeli ITMG dengan support di 26.250 dan resistance di 27.450, mengingat kenaikan harga batu bara yang mencapai level tertinggi dalam 3 bulan terakhir. Ekonomi yang solid mendukung kinerja sektor perbankan dan sektor otomotif. BBNI, khususnya, mendapat perhatian dari investor dengan net buy asing sebesar Rp36,9 miliar," imbuhnya.

Terakhir, ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid, bersama dengan potensi penurunan suku bunga di akhir tahun, menjadikan reksa dana sektor infrastruktur sebagai pilihan menarik bagi investor.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid serta potensi penurunan suku bunga di akhir tahun menjadikan reksa dana ini sebagai pilihan menarik untuk investor yang mencari eksposur ke sektor infrastruktur," tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.