Akurat

IHSG dan Rupiah Terjepit Sentimen Negatif

Yosi Winosa | 26 Juni 2024, 15:21 WIB
IHSG dan Rupiah Terjepit Sentimen Negatif

AKURAT.CO Pasar keuangan Indonesia menunjukkan pergerakan beragam pada perdagangan Selasa (25/6/2024). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan Surat Berharga Negara (SBN) kembali menarik minat investor.

Pada penutupan perdagangan Selasa, IHSG berakhir di zona merah, mematahkan tren penguatan tiga hari beruntun, dengan penurunan 0,09% dan ditutup pada 6.882,7. Total transaksi mencapai Rp27,18 triliun dengan 23,47 juta lembar saham berpindah tangan. Sebanyak 241 saham menguat, 308 saham turun, dan 234 saham stagnan.

Menurut Chief Investment Officer di Independent Advisor Alliance, Chris Zaccarelli pasar keuangan masih akan bergerak cukup volatil pada hari ini, Rabu (26/6/2024), dengan berbagai sentimen yang telah dirilis kemarin dan agenda hari ini.

Baca Juga: Sepekan, IHSG Anjlok 1,04 Persen ke 6.897,95

Pasar saham AS juga mengalami pergerakan variatif pada perdagangan Selasa. Indeks S&P 500 dan Nasdaq menguat masing-masing 0,39% dan 1,26%, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,76%. Saham Nvidia memimpin penguatan di Wall Street dengan kenaikan sekitar 6,7% setelah penurunan besar sebelumnya. "Teknologi kembali memimpin, dan Nvidia dibeli kembali setelah penurunan," ujar Chris dikutip Rabu (26/6/2024).

Sentimen dari AS termasuk pernyataan pejabat bank sentral AS (The Fed) dan indeks keyakinan konsumsi AS yang tetap tinggi. Sementara itu, di dalam negeri terdapat kekhawatiran mengenai kekuatan perekonomian Indonesia pada 2025 dan pelemahan rupiah.

Kemudian, Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada 2025 diperkirakan akan meningkat signifikan dengan utang jatuh tempo yang mencapai Rp800,33 triliun. Pemerintah harus menerbitkan obligasi dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pendanaan ini, yang dapat menekan harga SBN dan nilai tukar rupiah.

Selanjutnya, perusahaan teknologi GOTO menunjukkan perbaikan kinerja setelah pengunduran diri para founder dan penunjukan komisaris baru. Komisaris Utama GOTO, Agus Martowardojo, mengatakan bahwa perusahaan berhasil mencapai EBITDA positif di kuartal keempat 2023, melampaui target yang telah ditetapkan.

Di sisi lain, Gubernur Federal Reserve Lisa Cook menyatakan bahwa The Fed siap memangkas suku bunga jika kinerja ekonomi sesuai dengan ekspektasi, namun belum ada kepastian kapan hal itu akan dilakukan. Sementara itu, pejabat The Fed lainnya, Michelle Bowman, menyatakan kesiapan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tidak terkendali.

Indeks Kepercayaan Konsumen AS sedikit menurun pada Juni 2024 menjadi 100,4 dari 101,3 pada Mei 2024, namun tetap berada dalam rentang yang stabil selama dua tahun terakhir. 

"Kepercayaan konsumen mengalami penurunan pada bulan Juni tetapi tetap berada dalam rentang yang sempit yang telah bertahan selama dua tahun terakhir, karena kekuatan pandangan terhadap pasar tenaga kerja saat ini terus mengalahkan kekhawatiran tentang masa depan," menurut laporan The Conference Board.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo meminta program restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 diperpanjang hingga 2025. Hal ini menimbulkan reaksi beragam dari berbagai pihak, termasuk kekhawatiran tentang moral hazard yang bisa timbul jika kebijakan tersebut diberlakukan secara umum. Ekonom Senior Indef Aviliani menyebut bahwa kebijakan restrukturisasi seharusnya tidak untuk umum, melainkan ditujukan bagi yang memang membutuhkan dan memiliki prospek yang baik. 

"Biarkanlah bank yang memberikan justifikasi. Kebijakan itu secara keseluruhan saya rasa tidak masalah," ujarnya.

Beberapa agenda penting pada hari ini meliputi konferensi pers RUPST PT Bursa Efek Indonesia, data produksi industri Singapura, dan penjualan rumah baru di AS. Emiten dalam negeri yang mengadakan RUPST antara lain ACRO, ADMG, dan AKKU. Indikator ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan ekonomi 5,11% YoY pada kuartal I-2024, inflasi 2,84% YoY pada Mei 2024, dan cadangan devisa sebesar USD139 miliar pada Mei 2024.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.