Akurat

Bukukan Kinerja Apik di Kuartal III-2023, BTPN Berencana Rights Issue dan Treasury Stock

M. Rahman | 8 Desember 2023, 13:54 WIB
Bukukan Kinerja Apik di Kuartal III-2023, BTPN Berencana Rights Issue dan Treasury Stock

AKURAT.CO PT Bank BTPN Tbk (BTPN) membukukan pertumbuhan positif dengan meningkatnya pendapatan bunga, pendapatan bunga bersih, dan margin  bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) pada periode Januari – September 2023.

Tercatat, pendapatan bunga tumbuh sebesar 23% secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi Rp14,05 triliun. Sementara pendapatan bunga bersih tercatat sebesar Rp8,99 triliun atau naik 4% di tengah tren kenaikan suku bunga. Adapun NIM tercatat sebesar 6,44%, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar 6,36%.

Direktur Utama Bank BTPN, Henoch Munandar mengatakan sepanjang 2023 banyak tantangan yang dihadapi industri perbankan Indonesia dengan meningkatnya suku bunga dan ketidakpastian global lainnya.

"Namun kami bersyukur Bank BTPN tetap mampu mencatatkan hasil kinerja positif sepanjang tahun 2023 ini. Hal ini dapat diraih melalui penerapan strategi dan keputusan  bisnis dengan prinsip kehati-hatian, demi menunjang pertumbuhan perusahaan maupun setiap unit bisnis yang dinaungi oleh perseroan," ungkap Henoch dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat (8/12/2023).

Di sisi lain, Bank BTPN memutuskan untuk menambah pencadangan kredit pada tahun 2023 sebagai  bagian dari antisipasi Bank terkait proses restrukturisasi nasabah korporasi dan sebagai bagian dari upaya mitigasi dari berakhirnya kebijakan stimulus COVID-19 dari pemerintah.

Baca Juga: Porsi Penyaluran Kredit Mikro Hampir 60 Persen, BTPN Bidik Pertumbuhan Double Digit

Dengan adanya penambahan pencadangan ini, biaya kredit meningkat sebesar Rp608 miliar, yang kemudian mempengaruhi laba bersih setelah pajak perseroan. Laba bersih setelah pajak Bank BTPN (konsolidasi) yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat di level Rp2,09 triliun hingga kuartal III-2023, lebih rendah 13% yoy.

Dari sisi pertumbuhan kredit, total kredit yang disalurkan oleh Bank BTPN per akhir  September 2023 meningkat sebesar 3,2% YtD di posisi Rp150,8 triliun. Segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan syariah tercatat masing masing meningkat sebesar 21% yoy dan 5% yoy. 

Adapun total aset mencapai Rp195,84 triliun. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) berada di level Rp4,97 triliun meningkat dibandingkan periode tahun lalu yaitu Rp4,91 triliun.

“Pertumbuhan kredit sejatinya sudah ditargetkan oleh masing-masing bank sesuai arahan dari regulator, baik Bank Indonesia maupun OJK. Bank BTPN berharap agar di tahun 2024 Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap bertumbuh sebagai salah satu faktor menunjang pertumbuhan kredit di perbankan, mengimbangi persentase yang telah ditetapkan regulator,” imbuh Henoch. 

Lebih lanjut, Bank BTPN senantiasa berkomitmen menjaga kualitas kredit agar tetap baik. Hal itu terlihat  dari rasio gross non-performing loan (NPL) Bank yang berada di level 1,47%, lebih rendah dibandingkan  rata-rata industri yang tercatat sebesar 2,4% pada akhir September 2023.

Bank BTPN juga berhasil menjaga rasio likuiditas dan pendanaan untuk berada di tingkat yang sehat,  dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 210,80% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) di 120,31% pada 30 September 2023. Perseroan mencatat rasio kecukupan modal (Capital Adequacy  Ratio/CAR) berada di level yang kuat yakni 29,8%.

Treasury Stock dan Rights Issue

Bank BTPN lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 7 Desember 2023 juga menyepakati rencana penarikan saham-saham Perseroan hasil pembelian kembali atau treasury stock dan rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau Right Issue, sesuai dengan ketentuan Anggaran  Dasar Perseroan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

Bank BTPN berencana melakukan penarikan sejumlah 92.292.198 treasury stock. Merujuk pada POJK No.2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan (POJK 2/2013), Bank BTPN melakukan pembelian kembali saham sampai dengan total  95.198.900 saham dalam kurun waktu antara tanggal 23 Februari sampai 23 Mei 2016. 

Selanjutnya untuk memenuhi POJK 2/2013 tersebut, Bank BTPN telah melakukan beberapa upaya  terkait kewajiban pengalihan saham sesuai dengan peraturan, di antaranya dengan menggunakan sejumlah 2.633.202 saham untuk Material Risk Takers berdasarkan Keputusan RUPST pada tanggal 22 April 2021 dan mengalihkan 92.565.698 saham dengan cara dijual melalui BEI.

Namun, dalam kondisi pasar yang fluktuatif karena dampak dari COVID-19 dan ketidakpastian global lainnya, jumlah Treasury Stock sampai dengan 30 September 2023 adalah sejumlah 92.314.998, artinya hanya sebanyak 250.700 saham atau 0,27% dari total Treasury Stock Perseroan yang berhasil dialihkan ke publik melalui penjualan di BEI.

Mengingat batas waktu pengalihan akan berakhir pada tahun 2024, perseroan bermaksud untuk menarik Treasury Stock ke dalam modal dalam simpanan perseroan, sebagai upaya pengalihan saham lainnya yang diatur dalam POJK 2/2013.

“Dengan pelaksanaan penarikan Treasury Stock ini, modal ditempatkan dan disetor akan berkurang,  namun modal dalam simpanan (portepel) akan bertambah dan total saham yang dimiliki oleh masing masing pemegang saham tidak akan berkurang. Penarikan Treasury Stock ini pun tidak berdampak  pada kinerja keuangan Perseroan, karenanya tidak akan mengganggu pemenuhan kewajiban Perseroan  kepada pihak ketiga,” jelas Henoch. 

Adapun terkait rencana rights issue, Bank BTPN mengungkapkan rencana untuk  Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue, yang akan menawarkan sebanyak-banyaknya 3.095.000.000 saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp20 (dua puluh Rupiah) per saham atau setara Rp61,9 miliar.

Perseroan berencana untuk menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari PMHMETD II (setelah  dikurangi dengan biaya emisi), untuk pembiayaan proyek Perseroan yang akan datang untuk  pertumbuhan inorganic (termasuk melakukan akuisisi di perusahaan lain).

“Saham baru tersebut akan diterbitkan dari portepel Perseroan dan akan dicatatkan di BEI sesuai  dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Saham baru tersebut pun akan memiliki hak  yang sama dan sederajat dalam segala aspek dengan seluruh saham lama Perseroan, termasuk hak atas  dividen,” ungkap Henoch.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa