Wall Street Menguat Usai MA AS Batalkan Tarif Resiprokal Trump
Esha Tri Wahyuni | 21 Februari 2026, 18:11 WIB

AKURAT.CO Indeks saham Amerika Serikat (AS) kembali menguat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian kebijakan tarif dagang yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump.
Sentimen pasar global langsung merespons putusan tersebut dengan kenaikan indeks S&P 500, sementara dolar AS dan obligasi pemerintah (US Treasury) justru melemah.
Dinamika ini menjadi perhatian investor karena berkaitan langsung dengan arah kebijakan tarif AS, defisit anggaran, serta prospek ekonomi Amerika ke depan.
Di tengah ketidakpastian fiskal dan geopolitik, pelaku pasar cenderung memanfaatkan volatilitas jangka pendek secara taktis tanpa mengubah strategi investasi jangka panjang.
S&P 500 Catat Kinerja Mingguan Terbaik Sejak Januari
Setelah sempat terkoreksi, indeks S&P 500 ditutup naik 0,7% pada Jumat dan mencatatkan kinerja mingguan terbaik sejak 9 Januari. Kenaikan ini memperkuat optimisme investor terhadap saham AS, meski ketidakpastian kebijakan masih membayangi.
Di saat yang sama, ETF pasar negara berkembang menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik dua basis poin (bps) menjadi 4,08%. Di sisi lain, indeks dolar AS justru melemah 0,2%.
Kombinasi penguatan saham dan pelemahan dolar menunjukkan pergeseran sentimen risiko (risk appetite) di kalangan investor global.
Putusan MA AS dan Dampaknya ke Pasar Keuangan
Putusan Mahkamah Agung AS membatalkan penggunaan wewenang darurat International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) dalam penerapan tarif. Namun, tidak semua tarif otomatis gugur.
Tom Garretson dari RBC Wealth Management menilai bahwa guncangan kebijakan kini telah menjadi bagian dari lanskap investasi.
Ia mengatakan, “Pada titik ini, guncangan kebijakan seharusnya dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari lanskap investasi — tetapi dalam beberapa tahun terakhir, guncangan tersebut seringkali terbukti berumur pendek sehingga mungkin tidak perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan jangka panjang, melainkan dimanfaatkan secara taktis.”
Michael O’Rourke dari JonesTrading menyebut investor masih menunggu kejelasan detail kebijakan lanjutan. Senada, Gennadiy Goldberg dari TD Securities mengatakan, pasar masih kurang yakin dikarenakan hal ini masih kurang jelas.
Michael O’Rourke dari JonesTrading menyebut investor masih menunggu kejelasan detail kebijakan lanjutan. Senada, Gennadiy Goldberg dari TD Securities mengatakan, pasar masih kurang yakin dikarenakan hal ini masih kurang jelas.
“Pasar tidak yakin bagaimana harus bereaksi mengingat kurangnya kejelasan tentang detail pasti dari perintah eksekutif yang akan datang,” ujarnya dikutip dari Bloomberg, Sabtu (21/2/2026).
Tarif Trump: Risiko Politik Lebih Dominan dari Ekonomi?
Neil Dutta dari Renaissance Macro Research melihat isu ini lebih bernuansa politis ketimbang ekonomis dalam jangka pendek.
“Jika Trump kembali mengaktifkan kebijakan perdagangan, kita akan menghadapi lebih banyak ketidakpastian. Jika dia memutuskan untuk menyerah, maka pada dasarnya dia akan kalah secara politik,” ujarnya.
Bret Kenwell dari eToro memperkirakan kebijakan tarif kemungkinan besar akan dikalibrasi ulang, bukan dicabut sepenuhnya. Ia menyebut hasil terbaik adalah terciptanya kerangka kebijakan yang lebih konsisten dan minim gejolak akibat sentimen berita.
Strategi TD Securities juga menegaskan tidak merevisi proyeksi ekonomi AS karena memperkirakan tarif tetap berjalan melalui jalur alternatif.
Bret Kenwell dari eToro memperkirakan kebijakan tarif kemungkinan besar akan dikalibrasi ulang, bukan dicabut sepenuhnya. Ia menyebut hasil terbaik adalah terciptanya kerangka kebijakan yang lebih konsisten dan minim gejolak akibat sentimen berita.
Strategi TD Securities juga menegaskan tidak merevisi proyeksi ekonomi AS karena memperkirakan tarif tetap berjalan melalui jalur alternatif.
Risiko Defisit dan Lonjakan Penerbitan Obligasi
Ian Lyngen dari BMO Capital Markets menyoroti implikasi fiskal dari pembatalan sebagian tarif IEEPA. Menurutnya, jika dampak penyempitan defisit dari tarif tersebut hilang, pemerintah AS berpotensi meningkatkan pinjaman, yang dapat mendorong kenaikan ukuran lelang obligasi jangka panjang.
Ia mengatakan pasar terbuka terhadap kemungkinan kenaikan ukuran lelang kupon, meski dinamika pasar suku bunga bisa berubah seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan jangka panjang.
Will Compernolle dari FHN Financial menilai investor obligasi telah dengan cepat mengidentifikasi implikasi perkembangan terbaru, dan sebagian besar sudah memperhitungkannya dalam harga pasar.
Respons Donald Trump dan Potensi Bea Masuk 10 Persen
Presiden AS Donald Trump menegaskan Mahkamah Agung tidak sepenuhnya membatalkan tarif, melainkan hanya membatasi penggunaan IEEPA.
“Mahkamah Agung tidak membatalkan tarif, mereka hanya membatalkan penggunaan khusus tarif IEEPA,” ujar Trump.
Trump juga menyatakan akan mengambil pendekatan berbeda, termasuk kemungkinan menerapkan bea masuk global 10% terhadap mitra dagang. Ketika ditanya soal langkah melalui Kongres, ia menjawab bahwa dirinya tidak perlu, karena merasa memiliki otoritas yang telah disetujui.
Sebelumnya, Trump memperingatkan bahwa pembatasan kewenangan tarif dapat menghilangkan potensi triliunan dolar penerimaan negara untuk membantu melunasi utang publik AS.
Trump juga menyatakan akan mengambil pendekatan berbeda, termasuk kemungkinan menerapkan bea masuk global 10% terhadap mitra dagang. Ketika ditanya soal langkah melalui Kongres, ia menjawab bahwa dirinya tidak perlu, karena merasa memiliki otoritas yang telah disetujui.
Sebelumnya, Trump memperingatkan bahwa pembatasan kewenangan tarif dapat menghilangkan potensi triliunan dolar penerimaan negara untuk membantu melunasi utang publik AS.
Potensi Refund USD170 Miliar dan Strategi 2026
Ribuan perusahaan dan importir kini bersiap mengajukan klaim pengembalian tarif yang diperkirakan mencapai USD170 miliar. Ini berpotensi menjadi sengketa panjang antara pelaku usaha dan pemerintah AS.
Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan pendapatan tarif pada 2026 akan “hampir tidak berubah.” Ia menambahkan pemerintah akan memanfaatkan mekanisme lain, termasuk kewenangan Bagian 122, 232, dan 301 yang telah disetujui Kongres.
Di tengah pertumbuhan ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan dan tekanan inflasi yang masih tinggi, pasar kini memantau apakah kebijakan perdagangan akan memperbesar defisit atau justru memperkuat posisi fiskal jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








