Akurat

Kredit Program Perumahan Jadi Pendorong Lonjakan Pendapatan Bunga BTN Tahun 2025

Idham Nur Indrajaya | 9 Februari 2026, 19:59 WIB
Kredit Program Perumahan Jadi Pendorong Lonjakan Pendapatan Bunga BTN Tahun 2025
 
AKURAT.CO PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN kembali mencuri perhatian pada awal 2026. Di usia ke-76 tahun, bank spesialis pembiayaan perumahan ini mencatat lonjakan kinerja sepanjang 2025, mulai dari aset, laba bersih, hingga penyaluran kredit. Salah satu sorotan utamanya adalah pendapatan bunga BTN yang melonjak tajam—menjadi motor penggerak pertumbuhan laba di tengah dinamika ekonomi nasional.

Lantas, apa yang sebenarnya mendorong kenaikan pendapatan bunga BTN? Siapa yang paling diuntungkan? Dan bagaimana strategi bank pelat merah ini ke depan? Berikut ulasan lengkapnya.


Kinerja BTN 2025 Menguat di Tengah Tantangan Ekonomi

Sepanjang 2025, BTN membukukan total aset konsolidasian sebesar Rp527,8 triliun, tumbuh 12,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini sejalan dengan lonjakan laba bersih konsolidasian yang mencapai Rp3,5 triliun atau naik 16,4% secara tahunan.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menilai kinerja tersebut sebagai buah dari transformasi bisnis yang konsisten.

“BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini. Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin,” ujar Nixon di Jakarta, Senin, 9 Februari 2026.

Di balik pertumbuhan laba tersebut, pendapatan bunga menjadi salah satu penopang terkuat.


Pendapatan Bunga BTN Naik Tajam, Ini Angkanya

BTN mencatat pendapatan bunga sebesar Rp36,3 triliun hingga akhir 2025, melonjak 23% dibandingkan 2024 yang berada di level Rp29,6 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga relatif stagnan di sekitar Rp17,9 triliun.

Kombinasi ini membuat pendapatan bunga bersih melonjak 57,5% menjadi Rp18,4 triliun dari sebelumnya Rp11,7 triliun. Dampaknya terasa langsung pada margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BTN yang naik signifikan ke level 4,2%, dari 2,9% pada tahun sebelumnya.


Faktor Pendorong Lonjakan Pendapatan Bunga BTN

Kenaikan pendapatan bunga BTN tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa strategi kunci yang dijalankan manajemen sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Masuk ke Segmen Kredit dengan Yield Lebih Tinggi

BTN mulai memperluas portofolio pembiayaan ke segmen dengan tingkat imbal hasil yang lebih besar. Salah satunya lewat Kredit Program Perumahan (KPP) yang diluncurkan pemerintah pada Oktober 2025.

Nixon menjelaskan:

“Pendapatan bunga naik karena beberapa faktor. Pertama, kita memang menaikkan tingkat suku bunga kredit — bukan karena suku bunga acuan naik, tapi karena kita mulai masuk ke segmen-segmen dengan yield yang lebih tinggi. Misalnya pada KPP (Kredit Program Perumahan), itu sekitar 11,5–12%, di mana sekitar 6% berasal dari konsumen dan sisanya ditopang oleh pemerintah.”

Selain KPP, BTN juga memperluas pembiayaan ke sektor lain seperti Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) serta pembiayaan komersial yang memberikan imbal hasil lebih menarik dibanding portofolio tradisional.

Agresif di KPP, Target Tembus Rp17 Triliun

Pada 2025, BTN menjadi bank penyalur terbesar dalam program KPP dengan total realisasi Rp2,6 triliun—hampir separuh dari penyaluran nasional.

Ke depan, bank ini semakin agresif. Pemerintah menyiapkan alokasi KPP sekitar Rp30–35 triliun, sementara BTN sudah memperoleh porsi awal Rp10 triliun.

“Target kita, porsi ini dihabiskan di semester pertama. Jika ada tambahan alokasi, totalnya bisa naik menjadi Rp15–17 triliun, yang cukup signifikan dari sisi pendapatan,” ujar Nixon.

Langkah ini diproyeksikan menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama pendapatan bunga BTN sepanjang 2026.


Cost of Fund Turun, Laba Makin Terdongkrak

Selain meningkatkan yield kredit, BTN juga berhasil menekan biaya dana atau cost of fund. Pada Desember 2025, angka ini turun ke kisaran 3% dari sebelumnya sekitar 4,3%.

Nixon menambahkan:

“Yang paling besar dampaknya ke laba adalah penurunan cost of fund. Di Desember, cost of fund kita sudah turun ke sekitar 3% dari sebelumnya sekitar 4,3%. Kalau ini bisa dijaga stabil di level 3%, maka laba bisa naik sekitar 2,2%.”

Penurunan biaya dana ini erat kaitannya dengan pertumbuhan dana murah yang bersumber dari digitalisasi layanan BTN, terutama melalui superapp Bale by BTN.


Digitalisasi Jadi Mesin Dana Murah BTN

Kepercayaan masyarakat yang meningkat tercermin dari lonjakan dana pihak ketiga (DPK) BTN yang tumbuh 14,6% menjadi Rp437,4 triliun pada akhir 2025.

Kontributor pentingnya datang dari Bale by BTN. Jumlah pengguna aplikasi ini naik 66,1% menjadi 3,7 juta, sementara jumlah transaksi melonjak hampir dua kali lipat menjadi 2,2 miliar transaksi. Nilai transaksinya menembus Rp103,6 triliun.

Saldo nasabah Bale by BTN juga meningkat menjadi Rp22,8 triliun, naik 15,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Dana inilah yang membantu BTN menjaga struktur pendanaan tetap efisien.


Kredit Tumbuh Double Digit, Fokus Tetap di Perumahan

Di sisi penyaluran, BTN mencatat kredit dan pembiayaan konsolidasian sebesar Rp400,6 triliun atau tumbuh 11,9% sepanjang 2025. Mayoritas masih disalurkan ke sektor perumahan yang mencapai Rp328,4 triliun.

Untuk segmen KPR:

  • KPR Subsidi tumbuh 10% menjadi Rp191,2 triliun

  • KPR Non-Subsidi naik 6,7% menjadi Rp113,0 triliun

Meski tetap mengandalkan sektor perumahan, BTN mulai membuka ruang lebih besar untuk pembiayaan turunan seperti renovasi rumah dan fasilitas pendukung lainnya.


Risiko Terkendali, Modal Makin Kuat

Pertumbuhan agresif tersebut diiringi dengan perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun ke 3,1%, sementara pencadangan meningkat dengan NPL Coverage mencapai 123,9%.

Di sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 20,9% per 31 Desember 2025, mempertebal buffer risiko untuk ekspansi berikutnya. BTN bahkan memproyeksikan NPL bisa turun di bawah 3% pada akhir 2026.


Ekspansi Syariah Lewat BSN Tambah Sumber Pertumbuhan

BTN juga memperluas sumber pendapatan melalui pendirian anak usaha Bank Syariah Nasional (BSN). Sepanjang 2025, BSN mencatat aset Rp73 triliun, pembiayaan Rp55 triliun, serta DPK Rp59 triliun—seluruhnya tumbuh dua digit.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar BTN dalam memperluas peran sebagai bank konsumer.

“Dengan langkah Beyond Mortgage, BTN terus memantapkan aspirasinya untuk menjadi consumer bank yang memberikan solusi finansial terintegrasi bagi seluruh kebutuhan nasabah,” tutur Nixon.


Kesimpulan: Strategi Yield Tinggi dan Dana Murah Jadi Kunci

Lonjakan pendapatan bunga BTN sepanjang 2025 ditopang oleh kombinasi strategi masuk ke segmen kredit ber-yield tinggi seperti KPP, ekspansi pembiayaan non-perumahan, serta penurunan cost of fund lewat penguatan dana murah dan digitalisasi.

Dengan rencana agresif di semester pertama 2026 dan fokus menjaga likuiditas, BTN berpeluang melanjutkan tren pertumbuhan positif.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan sektor perbankan dan pembiayaan perumahan nasional, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Bocoran Target Dividen BTN: Payout Ratio Dinaikkan, ROE Ditargetkan Tembus 14 Persen

Baca Juga: Kinerja BTN 2025 Moncer: Aset Rp527,8 Triliun, Laba Naik 16,4 Persen, Kredit Perumahan Tetap Ngebut

FAQ

Apa yang membuat pendapatan bunga BTN naik tajam pada 2025?

Pendapatan bunga BTN meningkat karena masuk ke segmen kredit dengan imbal hasil lebih tinggi seperti Kredit Program Perumahan (KPP), ekspansi ke pembiayaan komersial dan KPA, serta turunnya biaya dana (cost of fund).


Berapa nilai pendapatan bunga BTN sepanjang 2025?

BTN mencatat pendapatan bunga sebesar Rp36,3 triliun hingga akhir 2025, naik 23% dibandingkan tahun sebelumnya.


Apa itu Kredit Program Perumahan (KPP) BTN?

KPP adalah program pembiayaan perumahan pemerintah yang diluncurkan pada Oktober 2025. BTN menjadi bank penyalur terbesar dengan realisasi Rp2,6 triliun hingga akhir 2025.


Mengapa KPP penting bagi pertumbuhan BTN?

KPP memiliki tingkat yield lebih tinggi dibanding KPR subsidi, sehingga memberi kontribusi signifikan terhadap pendapatan bunga dan profitabilitas BTN.


Berapa target penyaluran KPP BTN pada 2026?

BTN menargetkan penyaluran awal sekitar Rp10 triliun pada semester pertama 2026, dengan potensi meningkat menjadi Rp15–17 triliun jika mendapat tambahan alokasi.


Apa peran penurunan cost of fund terhadap laba BTN?

Turunnya cost of fund ke sekitar 3% membuat margin bunga meningkat, sehingga laba BTN berpotensi naik lebih tinggi jika kondisi likuiditas pasar tetap longgar.


Bagaimana peran Bale by BTN terhadap kinerja keuangan?

Superapp Bale by BTN membantu BTN menghimpun dana murah lewat pertumbuhan pengguna dan transaksi digital, yang berkontribusi besar pada kenaikan dana pihak ketiga.


Berapa jumlah pengguna Bale by BTN hingga akhir 2025?

Jumlah pengguna Bale by BTN mencapai 3,7 juta, tumbuh lebih dari 66% dibandingkan tahun sebelumnya.


Apakah BTN masih fokus pada pembiayaan perumahan?

Ya. Mayoritas kredit BTN tetap disalurkan ke sektor perumahan, terutama KPR subsidi dan non-subsidi, meski BTN juga mulai memperluas pembiayaan ke renovasi dan sektor komersial.


Bagaimana kualitas kredit BTN saat ini?

Kualitas kredit membaik dengan rasio NPL gross turun menjadi 3,1% pada akhir 2025, sementara NPL Coverage meningkat menjadi 123,9%.


Berapa rasio permodalan BTN terbaru?

Rasio kecukupan modal (CAR) BTN berada di level 20,9% per 31 Desember 2025, naik dari 18,5% pada tahun sebelumnya.


Apa itu Bank Syariah Nasional (BSN) milik BTN?

BSN adalah anak usaha BTN di bidang perbankan syariah yang resmi berdiri pada 2025 dan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru perseroan.


Bagaimana kinerja BSN sepanjang 2025?

BSN mencatat aset Rp73 triliun, pembiayaan Rp55 triliun, serta dana pihak ketiga Rp59 triliun, semuanya tumbuh dua digit secara tahunan.


Apa strategi utama BTN pada 2026?

BTN akan mendorong pertumbuhan kredit di semester pertama, menjaga dana murah, memperbesar penyaluran KPP, serta menyesuaikan strategi di semester kedua sesuai kondisi likuiditas pasar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.