Bocoran Target Dividen BTN: Payout Ratio Dinaikkan, ROE Ditargetkan Tembus 14 Persen

AKURAT.CO PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) kembali mencuri perhatian pasar setelah memaparkan kinerja solid sepanjang 2025. Namun kali ini, sorotan investor bukan hanya tertuju pada lonjakan aset dan laba, melainkan juga proyeksi dividen BTN untuk tahun mendatang.
Dalam sesi tanya jawab dengan media di paparan kinerja BTN Tahun 2025 di Jakarta, Senin, 9 Februari 2026, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkap bahwa manajemen tengah mengkaji potensi peningkatan rasio pembagian dividen seiring target profitabilitas yang lebih tinggi. Sinyal ini langsung memicu antusiasme pasar, terutama bagi investor ritel yang memburu saham perbankan dengan potensi imbal hasil menarik.
BTN Bahas Proyeksi Dividen Bersama Danantara
Menjawab pertanyaan soal rencana pembagian dividen, Nixon menyebut bahwa BTN masih melakukan pembahasan internal bersama pemegang saham.
“Untuk dividen, kami sedang berdiskusi dengan Danantara. Arahnya kami ingin menjaga ROE tetap di atas 12%, bahkan bisa 14%. Karena itu kemungkinan dividend payout ratio akan sedikit dinaikkan, di kisaran 25–30%, untuk memaksimalkan return on equity tahun depan.”
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa dividen BTN berpotensi lebih besar dibandingkan periode sebelumnya, seiring strategi perseroan menjaga profitabilitas dan efisiensi.
Bagi investor, dividend payout ratio 25–30% berarti BTN membuka peluang membagikan seperempat hingga hampir sepertiga laba bersihnya kepada pemegang saham—tentu dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan ekspansi bisnis dan penguatan modal.
Kinerja BTN 2025 Jadi Fondasi Proyeksi Dividen
Optimisme soal dividen tidak datang tanpa dasar. Sepanjang 2025, BTN mencatatkan pertumbuhan signifikan di hampir seluruh indikator utama.
Total aset konsolidasian perseroan mencapai Rp527,8 triliun, naik 12,4% secara tahunan. BTN juga membukukan laba bersih Rp3,5 triliun, tumbuh 16,4% dibandingkan 2024.
Kinerja ini diperkuat oleh lonjakan pendapatan bunga yang mencapai Rp36,3 triliun, serta peningkatan margin bunga bersih (NIM) menjadi 4,2%. Efisiensi biaya dana dan perbaikan proses bisnis membuat pendapatan bunga bersih BTN melesat hingga Rp18,4 triliun.
Dengan profitabilitas yang menguat, ruang untuk meningkatkan pembagian dividen pun semakin terbuka.
Target ROE BTN Jadi Kunci Strategi Dividen
Dalam industri perbankan, return on equity (ROE) menjadi indikator penting untuk menilai seberapa efektif bank menghasilkan laba dari modal yang dimiliki.
BTN menargetkan ROE tetap berada di atas 12%, bahkan didorong hingga 14% pada tahun depan. Target ini selaras dengan rencana peningkatan dividend payout ratio, yang tetap dijaga agar tidak menggerus kemampuan bank dalam berekspansi.
Strategi ini menunjukkan bahwa BTN mencoba menyeimbangkan tiga kepentingan utama:
-
Memberikan imbal hasil menarik bagi pemegang saham
-
Menjaga kekuatan permodalan
-
Mendukung pertumbuhan kredit, khususnya di sektor perumahan
Ekspansi Kredit dan Digitalisasi Tetap Jalan
Di luar isu dividen, BTN juga terus menancap gas di sektor inti bisnisnya. Penyaluran kredit konsolidasian pada 2025 mencapai Rp400,6 triliun, tumbuh 11,9% yoy, dengan porsi terbesar berasal dari pembiayaan perumahan sebesar Rp328,4 triliun.
KPR Subsidi meningkat menjadi Rp191,2 triliun, sementara KPR Non-Subsidi mencapai Rp113,0 triliun.
BTN juga mendapat dorongan dari program pemerintah melalui Kredit Program Perumahan (KPP), di mana perseroan menjadi bank penyalur terbesar dengan total pembiayaan Rp2,6 triliun hingga akhir 2025.
Di sisi digital, superapp Bale by BTN menjadi motor pertumbuhan dana murah. Jumlah pengguna melonjak menjadi 3,7 juta, transaksi menembus 2,2 miliar, dan nilai transaksi mencapai Rp103,6 triliun. Saldo pengguna Bale menyumbang Rp22,8 triliun terhadap total DPK BTN.
Modal Kuat Jadi Penopang Pembagian Dividen
Rencana peningkatan dividen juga ditopang oleh kondisi permodalan yang solid. Hingga 31 Desember 2025, BTN mencatatkan capital adequacy ratio (CAR) 20,9%, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kualitas kredit turut membaik, tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) gross yang turun menjadi 3,1%, serta pencadangan risiko yang meningkat dengan NPL Coverage 123,9%.
Dengan struktur modal yang kuat dan risiko kredit yang terkendali, BTN memiliki ruang lebih longgar untuk mengalokasikan laba—baik untuk ekspansi maupun dividen.
Anak Usaha Syariah Ikut Perkuat Prospek BTN
Langkah strategis BTN melalui pendirian Bank Syariah Nasional (BSN) juga menambah optimisme pasar terhadap kinerja jangka panjang perseroan.
BSN mencatatkan aset Rp73 triliun, pembiayaan Rp55 triliun, serta DPK Rp59 triliun sepanjang 2025. Pertumbuhan double digit ini memperluas sumber pendapatan BTN sekaligus memperkuat posisinya di segmen perbankan syariah.
Penutup
Proyeksi dividen BTN dengan payout ratio 25–30% menjadi sinyal kuat bahwa perseroan ingin memberikan nilai tambah bagi pemegang saham di tengah kinerja yang terus membaik. Dengan target ROE hingga 14%, ekspansi kredit yang konsisten, digitalisasi lewat Bale by BTN, serta modal yang semakin kokoh, BTN memasuki 2026 dengan fondasi bisnis yang solid.
Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan saham perbankan BUMN dan strategi dividen emiten besar seperti BTN, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Kinerja BTN 2025 Moncer: Aset Rp527,8 Triliun, Laba Naik 16,4 Persen, Kredit Perumahan Tetap Ngebut
Baca Juga: BTN Festiversary 2026 Resmi Digelar: Promo KPR Mulai 2,65 Persen hingga Diskon Kuliner Rp76
FAQ
1. Berapa proyeksi dividen BTN untuk tahun depan?
BTN membuka peluang menaikkan dividend payout ratio ke kisaran 25–30%, seiring target peningkatan profitabilitas perseroan.
2. Apa yang dimaksud dividend payout ratio?
Dividend payout ratio adalah persentase laba bersih perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.
3. Siapa yang menyampaikan proyeksi dividen BTN?
Proyeksi tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam sesi tanya jawab dengan media.
4. Dengan siapa BTN membahas rencana dividen?
BTN sedang berdiskusi dengan Danantara terkait arah kebijakan pembagian dividen ke depan.
5. Apa target return on equity (ROE) BTN?
BTN menargetkan ROE tetap berada di atas 12%, bahkan didorong hingga 14%.
6. Mengapa target ROE penting dalam strategi dividen BTN?
ROE mencerminkan kemampuan bank menghasilkan laba dari modalnya. Target ROE yang tinggi memberi ruang bagi BTN untuk meningkatkan dividen sekaligus menjaga kekuatan permodalan.
7. Berapa laba bersih BTN sepanjang 2025?
BTN membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun, tumbuh 16,4% yoy dibandingkan 2024.
8. Bagaimana kinerja aset BTN pada 2025?
Total aset BTN mencapai Rp527,8 triliun, meningkat 12,4% secara tahunan.
9. Apakah kondisi modal BTN mendukung pembagian dividen?
Ya. BTN memiliki capital adequacy ratio (CAR) sebesar 20,9%, yang menunjukkan permodalan berada di level kuat.
10. Bagaimana kualitas kredit BTN saat ini?
Rasio kredit bermasalah (NPL) gross BTN berada di 3,1%, disertai pencadangan risiko (NPL Coverage) sebesar 123,9%.
11. Apakah ekspansi kredit BTN tetap berlanjut meski ada rencana peningkatan dividen?
BTN tetap melanjutkan ekspansi kredit, khususnya di sektor perumahan, serta mendorong pertumbuhan digital melalui Bale by BTN.
12. Berapa total kredit BTN pada 2025?
Penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian BTN mencapai Rp400,6 triliun, tumbuh 11,9% yoy.
13. Apa peran Bale by BTN dalam kinerja keuangan?
Superapp Bale by BTN berkontribusi besar pada pertumbuhan dana murah dengan saldo mencapai Rp22,8 triliun hingga akhir 2025.
14. Apa itu Bank Syariah Nasional (BSN)?
BSN adalah anak usaha BTN di sektor perbankan syariah yang berdiri pada 2025 sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia.
15. Bagaimana kinerja BSN sepanjang 2025?
BSN mencatatkan aset Rp73 triliun, pembiayaan Rp55 triliun, serta DPK Rp59 triliun, seluruhnya tumbuh double digit.
16. Apakah proyeksi dividen BTN sudah final?
Belum. Manajemen masih melakukan pembahasan dengan pemegang saham, sehingga keputusan final akan ditetapkan kemudian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









