OJK: Pasar Modal Tetap Solid Sepanjang 2025 Meski Global Tak Pasti

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja Pasar Modal Indonesia tetap solid, berintegritas, dan berdaya tahan sepanjang 2025, meski dihadapkan pada ketidakpastian global.
Tantangan tersebut antara lain berasal dari dinamika kebijakan moneter dunia, tensi geopolitik, serta tekanan dan sentimen perdagangan yang mengemuka sejak awal tahun.
Ketahanan pasar tercermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pertumbuhan kapitalisasi pasar, peningkatan aktivitas transaksi dan penghimpunan dana, hingga lonjakan jumlah investor domestik. Peran generasi muda dinilai semakin signifikan dalam menopang basis investor nasional.
Baca Juga: Sengketa Indodax dan Pemilik BotXcoin Masuk Pemeriksaan OJK Usai Mediasi Buntu
Hal itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, dalam sambutan Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2025 di Jakarta.
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari sinergi erat antara OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), pelaku industri, serta seluruh pemangku kepentingan pasar modal.
"Resiliensi pasar modal Indonesia terus teruji di tengah berbagai tantangan global. Penguatan daya saing dan fondasi pasar modal yang berkelanjutan merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi kolektif, bukan capaian yang terjadi secara kebetulan," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Acara penutupan perdagangan BEI 2025 turut dihadiri Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono, jajaran direksi dan komisaris SRO, serta perwakilan pimpinan pelaku industri pasar modal.
Dalam konferensi pers penutupan perdagangan, Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap, memaparkan kinerja pasar modal hingga 19 Desember 2025. IHSG tercatat tumbuh 22,10% secara year to date (ytd) dan ditutup di level 8.644,26.
Baca Juga: Rasio Klaim Asuransi Kredit Sentuh 85 Persen, OJK Serukan Disiplin Underwriting
Kapitalisasi pasar juga menembus Rp15.810 triliun atau meningkat 28,16% ytd. Angka ini melampaui target Roadmap Pasar Modal dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dengan rasio kapitalisasi pasar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2024 mencapai 71,41%. Sementara itu, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat 12,10% ytd ke level 440,19.
Dari sisi industri pengelolaan investasi, dana kelolaan tercatat mencapai Rp1.039 triliun atau tumbuh 24,16% ytd. Penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp268,14 triliun dari 210 penawaran umum, termasuk 18 emiten saham baru dan dua emiten efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), melampaui target Rp220 triliun.
Sementara itu, Securities Crowdfunding (SCF) mencatatkan penghimpunan dana secara akumulatif sebesar Rp1,808 triliun dari 968 penerbit. Di sektor perdagangan karbon, volume transaksi akumulatif sejak September 2023 hingga akhir 2025 mencapai 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen dengan nilai Rp80,75 miliar.
Pertumbuhan investor ritel juga mencetak rekor baru. Sepanjang 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) bertambah 5,34 juta, sehingga total mencapai 20,2 juta SID. Sebanyak 79% investor tersebut berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun, menegaskan kuatnya momentum inklusi dan pendalaman pasar domestik.
Untuk menjaga integritas pasar, OJK sepanjang 2025 melakukan ratusan pemeriksaan atas dugaan pelanggaran. OJK juga menjatuhkan berbagai sanksi administratif, termasuk denda dengan total nilai Rp123,3 miliar, sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan perlindungan investor.
Di sisi regulasi, OJK menerbitkan sejumlah peraturan strategis, termasuk aturan terkait derivatif keuangan berbasis efek, dematerialisasi efek ekuitas, serta pemeringkatan reksa dana dan manajer investasi. OJK juga mendorong transformasi layanan dan pengembangan keuangan berkelanjutan, termasuk penguatan ekosistem perdagangan karbon.
Memasuki 2026, OJK menetapkan agenda strategis yang mencakup pendalaman pasar, peningkatan integritas, penguatan kelembagaan pelaku industri, serta pengembangan keuangan berkelanjutan.
OJK bersama SRO pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









