Akurat

Bitcoin Turun Tipis Imbas Ancaman Tarif Trump ke Kanada

Hefriday | 28 Juni 2025, 21:03 WIB
Bitcoin Turun Tipis Imbas Ancaman Tarif Trump ke Kanada

AKURAT.CO Pasar kripto global mencatat kenaikan tipis dalam 24 jam terakhir, meski diwarnai oleh ketegangan geopolitik baru akibat pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan memberlakukan tarif impor baru terhadap Kanada.

Di tengah situasi tersebut, harga Bitcoin (BTC) justru mengalami penurunan, sementara beberapa aset kripto lainnya menunjukkan penguatan moderat.

Dikutip berdasarkan data dari Coinmarketcap, Sabtu (28/6/2025), kapitalisasi pasar kripto global naik tipis sebesar 0,06% menjadi USD3,28 triliun.
 
Namun, harga Bitcoin sebagai kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar justru turun 0,22% dalam 24 jam terakhir ke level USD107.247 per koin atau setara Rp1,73 miliar dengan asumsi kurs Rp16.179 per USD.
 
Pelemahan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) turun 0,89% menjadi US2.421 per koin, Binance Coin (BNB) terkoreksi 0,13% menjadi US644, dan Dogecoin (DOGE) melemah 0,26% ke level US0,161.
 
 
Namun demikian, sejumlah altcoin utama justru mencatat kenaikan. XRP melesat 3,66% menjadi USD2,18 per koin, sementara Solana (SOL) turut menguat 1,27% ke posisi USD143.
 
Penguatan ini mencerminkan optimisme investor terhadap potensi proyek berbasis blockchain yang lebih terdesentralisasi di tengah ketidakpastian global.
 
Kondisi pasar kripto yang relatif stabil ini mencerminkan ketahanan investor terhadap sentimen negatif yang dipicu oleh ancaman Trump. 
 
Dikutip dari CoinDesk, Presiden AS tersebut mengumumkan bahwa AS akan mengenakan tarif baru kepada Kanada dalam waktu tujuh hari, sebagai tanggapan atas rencana negara tersebut menerapkan pajak layanan digital yang menyasar perusahaan teknologi asal Amerika.
 
“Kami akan memberitahu Kanada tentang tarif yang harus mereka bayar untuk berdagang dengan Amerika Serikat dalam tujuh hari ke depan,” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
 
Meski begitu, pasar belum menunjukkan respons reaktif. Analis dari Coinbase dalam laporannya menyebut bahwa risiko ekonomi dari ancaman tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam data ekonomi.
 
Pasar sejauh ini cenderung "mengabaikan" ancaman tersebut karena belum menunjukkan efek konkret dalam neraca perdagangan atau tingkat inflasi.
 
Saham-saham perusahaan kripto mencatat performa yang lebih variatif. Saham Coinbase (COIN) tercatat anjlok hingga 6%, sementara saham Circle (CRCL), penerbit stablecoin ternama, jatuh lebih dalam hingga 16%. Bahkan saham Circle telah kehilangan 40% nilainya sejak menyentuh puncaknya di awal pekan.
 
Di sisi lain, saham perusahaan penambang kripto seperti Core Scientific (CORZ) mengalami lonjakan lebih dari 30% pada hari sebelumnya, setelah muncul laporan bahwa perusahaan AI CoreWeave tengah mempertimbangkan akuisisi.
 
Namun, saham Hut 8 (HUT) justru turun 6,5%, mencerminkan volatilitas tinggi yang masih membayangi sektor ini.
 
Menanggapi perkembangan ini, para analis memperkirakan sikap hati-hati investor akan terus berlanjut. Meskipun ancaman tarif dari Trump berpotensi menambah tekanan geopolitik, para pelaku pasar belum melihat dampaknya akan sebesar kebijakan tarif pada masa-masa sebelumnya yang sempat memicu inflasi dan gejolak pasar secara luas.
 
Tenggat waktu penting saat ini ditandai dengan 9 Juli 2025, yaitu batas akhir penghentian sementara kebijakan tarif AS yang sebelumnya ditetapkan untuk memberi waktu negosiasi dengan mitra dagang utama.
 
Jika tidak ada perpanjangan atau solusi diplomatik, potensi tarif besar-besaran dapat memicu dampak lanjutan terhadap pasar, termasuk sektor kripto.
 
Meski demikian, kestabilan harga aset digital di tengah gejolak ini memberi sinyal bahwa investor kripto mulai memandang pasar sebagai alternatif lindung nilai dari ketidakpastian kebijakan perdagangan global.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa