OJK Cabut Izin Usaha 4 Pinjol di 2024, Ada Tanifund hingga Investree

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) semakin memperketat pengawasan terhadap industri fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol).
Sepanjang tahun 2024, OJK telah menjatuhkan 661 sanksi administratif serta mencabut izin usaha 4 penyelenggara pinjol.
Dari 4 penyelenggara yang dicabut izinnya, dua di antaranya, TaniFund dan Investree, terbukti tidak memenuhi ketentuan ekuitas minimum serta mengabaikan rekomendasi pengawasan dari OJK.
Sementara itu, dua penyelenggara lainnya mengembalikan izin usaha secara sukarela.
Plt. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, menyampaikan bahwa pencabutan izin terhadap TaniFund dan Investree merupakan bagian dari upaya penegakan hukum di sektor fintech.
Setelah izin usahanya dicabut, TaniFund telah dibubarkan dan pengumuman pembubarannya telah dimuat di beberapa surat kabar pada 1 Agustus 2024 serta dalam Berita Negara Republik Indonesia (BNRI) Nomor 062 pada 2 Agustus 2024.
Masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban dengan TaniFund dapat menghubungi tim likuidasi yang telah dibentuk. Selain itu, OJK juga telah melaporkan dugaan tindak pidana di TaniFund kepada aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangan.
Sementara itu, Investree menghadapi lebih banyak laporan pengaduan dari masyarakat. Sejak izin usahanya dicabut, OJK menerima 85 pengaduan terkait perusahaan tersebut.
Tak hanya itu, OJK juga melakukan Penilaian Kembali Pihak Utama (PKPU) terhadap AAG, Direktur Utama Investree, sesuai dengan Peraturan OJK (POJK) Nomor 34 Tahun 2018 yang telah diperbarui dalam POJK Nomor 14 Tahun 2021. Hasil penilaian ini menetapkan bahwa AAG dinilai tidak layak dan bertanggung jawab atas pengelolaan Investree.
Bahkan, mantan CEO Investree tersebut kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
"OJK dan Polri berupaya menghadirkan tersangka guna melanjutkan proses hukum. Harapannya, kasus ini dapat memberikan kepastian bagi para investor yang dirugikan," ujar Ismail.
Sebagai bentuk penguatan pengawasan terhadap industri fintech, OJK telah meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) 2023-2028.
Ke depan, OJK juga tengah menyusun perubahan Surat Edaran OJK (SEOJK) Nomor 19 Tahun 2023 guna memperkuat pemahaman risiko pendanaan dan analisis kredit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai









