Tertekan Data Ekonomi AS, Bitcoin Melemah
Hefriday | 2 Februari 2025, 22:54 WIB

AKURAT.CO Pasar kripto mengalami pelemahan dalam 24 jam terakhir pada Sabtu (1/2/2025) akibat meningkatnya perhatian investor terhadap kondisi makroekonomi Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Coinmarketcap per Sabtu (1/2/2025), kapitalisasi pasar kripto global turun 0,9% menjadi USD3,51 triliun.
Harga Bitcoin (BTC) sebagai aset kripto dengan kapitalisasi terbesar mengalami penurunan 2% dalam sehari terakhir. Saat ini, BTC diperdagangkan di level USD102.221 per koin atau sekitar Rp1,67 miliar (kurs Rp16.355).
Sebaliknya, Ethereum (ETH) justru mengalami kenaikan 1,92% menjadi USD3.287 per koin, sementara Binance Coin (BNB) naik 0,25% menjadi USD676 per kdigital
Menurut trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, kondisi makroekonomi AS menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin. Salah satu indikator yang diperhatikan adalah tingkat pengangguran.
Analis kuantitatif Benjamin Cowen menilai bahwa jika angka pengangguran tetap dalam kisaran 4,1%-4,2%, Bitcoin kemungkinan akan melanjutkan tren kenaikan hingga Februari-Maret.
Namun, jika data tenaga kerja menunjukkan perubahan drastis, baik naik maupun turun, maka volatilitas Bitcoin dapat meningkat karena ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) akan berubah.
Data terbaru pada 10 Januari 2025 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran AS turun sedikit menjadi 4,1% dari 4,2% di bulan sebelumnya. Selain itu, penciptaan lapangan kerja mencapai 256 ribu, jauh melampaui perkiraan 153 ribu, yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup kuat.
Kondisi pasar tenaga kerja yang solid membuat The Fed memiliki alasan untuk tetap mempertahankan suku bunga yang tinggi. Menurut Fyqieh, jika The Fed tidak memangkas suku bunga dalam waktu dekat, maka harga Bitcoin berpotensi terus tertekan.
Sebaliknya, jika data tenaga kerja dalam beberapa pekan ke depan menunjukkan pelemahan lebih lanjut, investor bisa mulai memperkirakan kebijakan pelonggaran moneter yang lebih agresif. Secara historis, kondisi ini biasanya menguntungkan bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Dalam pertemuan kebijakan 29 Januari 2025, The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50%, meskipun telah melakukan pemangkasan total 100 basis poin sejak September 2024. Namun, bank sentral AS mengakui bahwa inflasi masih relatif tinggi, sehingga kebijakan suku bunga ke depan masih belum pasti.
Data klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 25 Januari 2025 menunjukkan angka 207 ribu, lebih baik dari proyeksi 220 ribu. Rendahnya angka PHK di AS menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih kuat.
Namun, perlambatan dalam perekrutan karyawan baru bisa menjadi indikasi awal bahwa ekonomi AS mulai melemah. Jika tren ini terus berlanjut, pasar akan semakin berharap bahwa The Fed akan melonggarkan kebijakan moneter lebih cepat, yang bisa menjadi katalis positif bagi Bitcoin.
Selain faktor ekonomi, tekanan politik juga berperan dalam pergerakan pasar kripto. Mantan Presiden Donald Trump mengkritik The Fed karena dianggap tidak cukup agresif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Trump mendorong kebijakan deregulasi energi dan menuding bank sentral terlalu fokus pada isu sosial dan lingkungan, yang menurutnya berkontribusi terhadap inflasi yang tinggi. Ketidakpastian kebijakan ini turut mempengaruhi sentimen pasar kripto, terutama bagi investor yang menjadikan Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Data terbaru menunjukkan bahwa imbal hasil obligasi AS mengalami penurunan setelah pertumbuhan ekonomi kuartal keempat lebih rendah dari ekspektasi. Imbal hasil obligasi 10 tahun turun ke 4,526%, sementara obligasi 2 tahun turun ke 4,213%.
Pertumbuhan PDB AS yang hanya mencapai 2,3%, di bawah perkiraan 2,5%, membuat investor mulai memperkirakan kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter yang lebih besar. Jika tren ini berlanjut, Bitcoin dan aset kripto lain bisa mendapatkan keuntungan dari meningkatnya likuiditas di pasar keuangan.
Menurut Fyqieh, volatilitas Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada data tenaga kerja AS. Jika angka pengangguran terus meningkat secara moderat, BTC bisa kembali memasuki tren bullish seperti yang terjadi tahun sebelumnya.
Namun, jika terjadi lonjakan atau penurunan tajam dalam data ekonomi, pasar kripto bisa mengalami ketidakpastian yang lebih besar. Investor perlu waspada terhadap potensi fluktuasi harga, terutama jika The Fed memberikan sinyal yang lebih hawkish mengenai kebijakan suku bunga ke depan.
Meskipun harga Bitcoin saat ini mengalami tekanan, kondisi makroekonomi AS tetap menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan pasar kripto dalam waktu dekat. Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan makroekonomi dan kenijakan the fed.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










