Akurat Logo

Outlook Pasar Modal 2024: Menadah Prospek Harga Komoditas Yang Membaik

M. Rahman | 21 Desember 2023, 15:56 WIB
Outlook Pasar Modal 2024: Menadah Prospek Harga Komoditas Yang Membaik

AKURAT.CO Kinerja pasar modal RI di tahun 2024 mendatang diprediksi membaik. Setidaknya prospek harga komoditas yang lebih baik akibat low base effect bakal menjadi katalis positis, berdasarkan riset Schroders Indonesia dan BNI Sekuritas.

Dalam catatan Schroders, pasar saham Indonesia cukup baik sepanjang tahun 2023, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memberikan return sebesar 3,4% YTD (Year-to-Date) November. Sementara itu, indeks saham blue chip seperti LQ45 dan IDX80 memberikan return masing-masing sebesar -0,8% dan -1,6% YTD November.

Karenanya, dapat terlihat bahwa saham-saham non-blue chip mulai mengungguli kinerja pada tahun 2023. Berdasarkan data dari Bloomberg market mover, saham-saham seperti AMMN dan BREN menjadi salah satu penggerak terbesar di IHSG dengan kapitalisasi pasar yang mendekati bank-bank besar seperti BBCA dan BBRI, meskipun likuiditasnya rendah.

Baca Juga: Selain Di Pasar Modal, KPEI Bakal Perluas Peran Ke Pasar Suku Bunga Dan Valas

Kinerja ini sejalan dengan aliran keluar modal asing sebesar Rp14 triliun YtD November, karena investor asing mulai mengurangi risiko pada paruh kedua tahun 2023 ketika nilai tukar Rupiah melemah menyusul Federal Reserve yang mengindikasikan kecenderungan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).

Dilihat dari sisi valuasi, IHSG diperdagangkan dengan Price-to-Earnings (PE) ratio 2024 sebesar 13,4x, yang lebih murah dibandingkan dengan pasar seperti Thailand, India, Jepang, atau Amerika Serikat, namun masih lebih mahal dibandingkan dengan China.

Pasar Saham Indonesia masih tertinggal per November. Sumber: Bloomberg, per November 2023

Menuju tahun 2024, Schroders mengekpektasikan narasi yang seharusnya mendukung pasar saham dengan pertumbuhan PDB yang solid mendekati 5% dan pertumbuhan laba perusahaan yang sehat. Beberapa narasi pendukungnya antara lain sebagi berikut.

Pertama, kebijakan yang lebih dovish dari Federal Reserve AS dapat menstimulasi pertumbuhan yang lebih baik dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi Indonesia dan pasar-pasar negara berkembang lainnya. Kedua, pertumbuhan ekonomi China dimulai dari basis rendah (low base) dengan stimulus yang cukup, sehingga dapat mendorong pemulihan ekonomi mereka lebih baik di tahun 2024.

"Ketiga, prospek harga komoditas yang lebih baik karena efek basis yang rendah setelah koreksi di tahun 2023. Stimulus dari China dapat memberikan dukungan untuk komoditas berbasis logam pada tahun 2024," tulis riset Schroders Indonesia dikutip Kamis (21/12/2023).

Keempat, meski akan ada adanya kebisingan dari sisi politik karena tahun 2024 adalah tahun pemilu. Namun setelah pemilu, pasar seharusnya kembali fokus pada faktor fundamental. Kelima, neraca perusahaan-perusahaan di Indonesia tetap sehat. Terakhir, aspek likuiditas domestik yang perlu tetap dipantau. Bank Indonesia telah mengetatkan likuiditas pada paruh kedua tahun 2023, oleh karena itu, likuiditas akan menjadi perhatian investor pada tahun 2024 sebagai stimulus pertumbuhan.

Sentimen The Fed

Sementara itu, BNI Sekuritas memperkirakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) bakal bergerak di kisaran 6.600 hingga 8.400 di tahun depan, bergantung pada dua hasil keputusan dari Federal Reserve (Fed) terkait suku bunga. IHSG bakal anjlok tidak ada penurunan suku bunga, dan sebaliknya akan melejit jika terjadi penurunan suku bunga yang berhasil mencegah terjadinya resesi di Amerika Serikat.

BNI Sekuritas juga melihat IHSG akan hijau meski ada gejolak politik dengan adanya pesta demokrasi pada Februari 2024. Selama ini dampak politik dan pemilu Indonesia memberikan hasil positif, sehingga pasar dipercaya juga akan positif tapi penuh kehati-hatian. Di samping itu, fondasi yang kokoh dalam struktur negara serta dorongan global yang kuat menuju energi terbarukan dan/atau kendaraan listrik telah mengakibatkan banyak perusahaan yang berfokus pada tema tersebut mencari pendanaan dengan tepat waktu.

BNI Sekuritas berharap akan ada pemulihan dalam konsumsi dan dorongan investasi, bersama dengan pandangan bahwa pendapatan per kapita negara telah melampaui USD5.000 juga telah meningkatkan prospek pertumbuhan secara keseluruhan. Oleh karena itu, BNI Sekuritas percaya bahwa kegiatan seperti IPO dan upaya penggalangan dana lainnya akan terus berlangsung dengan semangat tinggi pada tahun 2024.

"Investor perlu menentukan pilihan tahun depan. Misalnya saham versus obligasi, obligasi mungkin akan terus mendominasi saham dengan proyeksi total return sekitar 9% berdasarkan imbal hasil 10 tahun yang stabil di 6,65%. Saham seperti BBCA, TLKM, dan JSMR mungkin menjadi pilihan yang baik sebagai proxy obligasi," tulis riset BNI Sekuritas.

Earnings yield berusaha mengejar yield obligasi, karenanya pasar saham diharapkan mengikuti pergerakan pasar obligasi. Sumber: Bloomberg, per November 2023

Kemudian di sektor komoditas, meskipun terdapat risiko pada laba, valuasi dan arus kas yang kuat di sektor komoditas menawarkan keseimbangan risiko reward yang menguntungkan. Pilihan seperti ADRO & UNTR menjadi pilihan utama.

Investor juga perlu menimang aspek pemulihan konsumsi dan sektor keuangan. Dalam konteks yang lebih luas, ASII juga masuk ke dalam pandangan positif jangka panjang mengenai prospek permintaan mobil dalam negeri. Dukungan fiskal yang lebih baik dan perbaikan prospek pekerjaan diharapkan mendukung pemulihan konsumsi domestik. Sektor keuangan dan konsumen seperti KLBF, LPPF, HMSP, dan BBRI diperkirakan juga akan terdampak positif.

 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa