Akurat

19 September Peringati Hari Diseksi Aorta, Begini Peran Teknologi Canggih dalam Dunia Medis

Petrus C. Vianney | 19 September 2025, 18:30 WIB
19 September Peringati Hari Diseksi Aorta, Begini Peran Teknologi Canggih dalam Dunia Medis

AKURAT.CO Hari Diseksi Aorta (Aortic Dissection Awareness Day) diperingati tiap 19 September untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit berbahaya akibat robekan pada dinding aorta. Kondisi ini bisa memicu aliran darah masuk ke dinding pembuluh dan berakibat fatal bila tidak segera ditangani.

Di era sekarang, teknologi medis modern berperan besar dalam membantu penanganan diseksi aorta. Inovasi ini mendukung proses diagnosis, perawatan, hingga pemantauan kondisi pasien secara lebih cepat dan akurat.

Apa itu Diseksi Aorta dan Kenapa Penting?

Diseksi aorta adalah kondisi darurat medis yang membutuhkan diagnosis secepat mungkin. Gejala yang paling umum muncul antara lain nyeri dada tiba-tiba yang terasa seperti robekan serta perbedaan tekanan darah pada kedua lengan.

Dikutip dari Mayo Clinic, Jumat (19/9/2025), pasien yang mengalami tanda-tanda tersebut harus segera mendapatkan pemeriksaan pencitraan. Hal ini penting agar penanganan bisa dilakukan tepat waktu dan risiko fatal dapat dicegah.

Pedoman dari American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) menegaskan bahwa penanganan diseksi aorta harus dilakukan cepat dan tepat. Langkahnya meliputi evaluasi klinis, pencitraan, intervensi bedah atau endovaskular, serta pemantauan jangka panjang.

Peran Teknologi Medis Canggih

Salah satu teknologi utama untuk mendiagnosis diseksi aorta adalah CT angiografi. Dengan bantuan kontras, CT dapat memberikan gambaran detail kondisi aorta hanya dalam hitungan menit.

Menurut studi yang dipublikasikan di ScienceDirect, sensitivitas CT angiografi sangat tinggi. Akurasi metode ini bahkan dilaporkan bisa mencapai lebih dari 95 persen.

Selain itu, MRI atau Magnetic Resonance Angiography (MRA) digunakan karena mampu memberi detail tinggi tanpa radiasi. Menurut Medscape, metode ini efektif untuk tindak lanjut pascaoperasi meski pemeriksaannya lebih lama.

Teknologi ekokardiografi transesofageal (TEE) sering digunakan terutama di ruang gawat darurat. Berdasarkan ulasan medis di Medscape, TEE efektif mendeteksi robekan atau intimal flap pada aorta dekat jantung dalam waktu singkat.

Dalam prosedur lanjutan, dokter kerap menggunakan intravaskular ultrasound (IVUS) untuk memastikan stent graft terpasang di posisi yang tepat. Teknik ini dipakai dalam intervensi endovaskular karena mampu menampilkan gambaran real-time dari lumen pembuluh darah.

Perkembangan terbaru dalam dunia medis datang dari pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini mulai diterapkan untuk membantu deteksi dini kasus diseksi aorta.

Menurut Aidoc, sistem AI mampu menganalisis hasil CT scan dan memberi peringatan cepat kepada tim medis. Inovasi ini diharapkan dapat mempercepat diagnosis sekaligus meningkatkan peluang keselamatan pasien.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski teknologi medis berkembang pesat, tantangan besar tetap ada. Akses ke CT atau MRI canggih di daerah terpencil masih terbatas, sementara biaya dan kebutuhan tenaga ahli juga menjadi kendala.

Di sisi lain, adopsi AI dalam radiologi menjanjikan diagnosis yang lebih cepat dan akurat. Namun, teknologi ini masih memerlukan validasi klinis serta regulasi yang ketat sebelum dapat diterapkan secara luas.

Peringatan Hari Diseksi Aorta pada 19 September menjadi pengingat pentingnya kesadaran publik. Dukungan fasilitas kesehatan dan pemanfaatan teknologi medis modern sangat krusial untuk menekan angka kematian akibat penyakit ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.