Hari Literasi Internasional: dari Buku Fisik ke Platform Digital, Literasi Kian Mudah

AKURAT.CO Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap 8 September tahun ini mengusung tema 'Promoting Literacy in the Digital Era'. Tema tersebut menekankan perubahan signifikan dari media cetak menuju platform digital.
Dikutip dari UNESCO, Senin (8/9/2025), pergeseran ini menunjukkan bagaimana teknologi mempermudah akses literasi di seluruh dunia. Kini, membaca dan belajar bisa dilakukan lebih fleksibel tanpa batas ruang dan waktu.
Literasi Digital: Peluang dan Tantangan
Digitalisasi memberi peluang besar untuk menjangkau kelompok marjinal yang sebelumnya sulit tersentuh program literasi tradisional. Kehadiran teknologi membuka akses baru bagi mereka untuk belajar dan meningkatkan kemampuan membaca.
Namun, tantangan muncul ketika akses terhadap teknologi tidak merata. Kondisi ini dapat memicu double marginalisation, yakni keterpinggiran ganda dari literasi konvensional sekaligus literasi digital.
Peran Teknologi dalam Mempermudah Literasi
Teknologi seperti e-book, aplikasi membaca dan pembelajaran daring mampu mengurangi hambatan geografis serta biaya cetak. Hal ini membuat lebih banyak orang, terutama generasi muda, bisa mengakses bacaan kapan saja dan di mana saja.
UNESCO menekankan bahwa literasi digital melibatkan kemampuan untuk mengakses, memahami dan mengevaluasi konten. Selain itu, juga mencakup kemampuan membuat serta berinteraksi dengan konten secara aman di ranah digital.
Transformasi Pendidikan: Digital Literacy sebagai Pilar Pendidikan Dasar
Dalam laporan OECD Education Outlook 2024, literasi digital dinilai sama pentingnya dengan kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Tanpa keterampilan ini, anak-anak berisiko mengalami ketertinggalan serupa dengan yang tidak bisa membaca sama sekali.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa pendidikan modern harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Keterampilan digital perlu dimasukkan sebagai bagian dari pondasi belajar agar generasi muda siap menghadapi era digital.
Literasi AI: Kunci Masa Depan
Definisi literasi digital terus berkembang seiring hadirnya teknologi AI. Sejak 2025, menjadi 'melek komputer' saja tidak cukup karena dibutuhkan literasi yang lebih mendalam, termasuk navigasi AI, evaluasi kritis konten digital, serta kolaborasi dengan sistem pintar.
Menuju tahun 2030, keterampilan baru juga semakin dibutuhkan. Prompt engineering, pemikiran kritis, etika digital dan kreativitas dengan AI diprediksi menjadi kompetensi inti yang wajib dikuasai generasi mendatang.
Sasaran SDGs: Literasi Universal
Pandangan global mengenai literasi sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goal (SDG) 4.6, yakni memastikan semua pemuda dan sebagian besar orang dewasa memiliki kemampuan literasi dan numerasi pada 2030. Upaya ini menjadi bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan dunia.
Meski terdapat kemajuan, masih ada ratusan juta orang yang belum melek huruf. Digitalisasi diharapkan mampu mempercepat pencapaian target tersebut dengan memperluas akses belajar secara lebih merata.
Perjalanan literasi dari buku fisik menuju platform digital bukan hanya soal kemudahan akses, tetapi juga soal adaptasi cara berpikir. Literasi kini bukan sekadar membaca teks, melainkan juga cakap berinteraksi dengan informasi digital dan AI.
Hari Literasi Internasional 2025 mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan utama. Keterampilan berpikir kritis, kreativitas dan etika digital tetap menjadi fondasi penting dari literasi sejati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









