Akurat

BRIN dan Google Arts Hadirkan Platform Digital Gambar Cadas Prasejarah Indonesia

Leo Farhan | 11 Juni 2025, 19:05 WIB
BRIN dan Google Arts Hadirkan Platform Digital Gambar Cadas Prasejarah Indonesia

 

AKURAT.CO Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Google Arts & Culture meluncurkan sebuah platform digital yang menampilkan dokumentasi gambar cadas dari berbagai situs prasejarah di Indonesia.

Lebih dari 100 situs gua di pulau-pulau mulai dari Sumatera hingga Papua telah didokumentasikan selama 2,5 tahun. Gambar-gambar ini merekam jejak warisan budaya yang telah ada lebih dari 50.000 tahun lalu.

Indonesia memiliki peran penting dalam kajian arkeologi, khususnya terkait gambar cadas (rock art), yang menjadi bagian dari studi tentang kehidupan prasejarah dan proses migrasi manusia modern awal (Homo sapiens) dari paparan Sunda ke Sahul melalui Wallacea. Temuan gambar cadas tertua di dunia dalam satu dekade terakhir di Indonesia memperkuat posisi negara ini dalam peta arkeologi global.

Beberapa hasil riset kolaboratif peneliti Indonesia dan Australia telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi seperti Nature dan Science Advances. Temuan dari Sulawesi Selatan (Aubert et al. 2014, 2019; Brumm et al. 2021) serta Kalimantan Timur (Aubert et al. 2018) mengungkap keberadaan gambar figuratif, seperti gambar hewan dan makhluk therianthropik dan cap tangan yang telah ada sejak setidaknya 45.000 tahun lalu.

Temuan-temuan ini telah didokumentasikan dalam dua publikasi ilmiah utama: Pleistocene cave art from Sulawesi, Indonesia dan Earliest hunting scene in prehistoric art. Keduanya masuk dalam daftar 10 terobosan ilmiah terbaik versi majalah Science pada tahun 2014 dan 2020.

Namun, pengetahuan ini tidak hanya dimaksudkan untuk kalangan ilmuwan semata. BRIN dan Google Arts & Culture berupaya agar kekayaan budaya dan sejarah kepulauan Indonesia ini bisa dijangkau publik luas melalui platform digital yang inklusif.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menjelaskan bahwa peluncuran ini adalah bentuk nyata dari komitmen tersebut. “Ini adalah tentang bagaimana kita menggunakan inovasi teknologi, dalam hal ini platform Google Arts & Culture, untuk menghidupkan kembali narasi-narasi kuno, serta membuatnya relevan dan menarik bagi generasi masa kini dan mendatang,” ujarnya.

Kesadaran akan kerentanan gambar cadas terhadap ancaman lingkungan dan aktivitas manusia membuat upaya konservasi menjadi sangat penting. Dokumentasi digital beresolusi tinggi dan pembuatan tur virtual yang dilakukan dalam proyek ini menjadi pelengkap krusial dalam pelestarian.

“Di dalam platform ini diabadikan kondisi situs pada suatu waktu, menyediakan data berharga untuk penelitian lebih lanjut, dan memungkinkan pengalaman virtual yang mengurangi tekanan kunjungan fisik ke situs-situs yang rapuh,” terang Handoko.

Kolaborasi ini menyoroti berbagai temuan luar biasa, termasuk seni gua naratif tertua, adegan perburuan paling awal, hingga bukti tertua praktik pembedahan di dunia. Temuan-temuan ini memperkaya dan sekaligus menantang pemahaman global tentang sejarah manusia, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat penting peradaban masa lalu.

Dengan menampilkan situs-situs prasejarah dan seni yang terkandung di dalamnya secara digital, platform ini tidak hanya menegaskan posisi Indonesia dalam diskursus arkeologi dunia, tetapi juga membantu membentuk ulang pemahaman kita tentang migrasi manusia, kehidupan sosial awal, dan asal-usul kreativitas serta inovasi umat manusia.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.