RedNote, Pelarian Bagi Pengguna TikTok di AS yang Berujung Jembatan Budaya

AKURAT.CO RedNote—versi global dari Xiaohongshu, platfirm media sosial asal China yang menggabungkan fitur Instagram dan Pinterest, menjadi salah satu aplikasi pilihan warga Amerika Serikat.
Kehebohan soal potensi pelarangan TikTok di Amerika Serikat awal tahun ini telah mendorong banyak penggunanya mencari alternatif lain.
Dalam sekejap, RedNote menjadi rumah baru bagi para “pengungsi TikTok” asal AS, menciptakan gelombang interaksi budaya yang unik.
Salah satu dampak dari fenomena ini adalah semakin populernya film animasi China Ne Zha 2 di bioskop Amerika.
Rekomendasi dari pengguna RedNote asal China membuat film ini menarik perhatian para penonton di AS, meskipun sebelumnya tak banyak dikenal di sana.
Keunikan cerita yang diangkat dari mitologi China ternyata dapat diterima dengan baik oleh penonton Amerika.
Baca Juga: Pramono Anung Jembatani Komunikasi PDIP dan Pemerintah Soal Retret Akmil
Tony Oswald, seorang filmmaker asal New York, adalah salah satu pengguna AS yang tetap aktif di RedNote setelah migrasi besar-besaran ini.
Dalam sebuah video yang viral dengan lebih dari 2.500 likes dan 700 komentar, ia membagikan pengalamannya menonton Ne Zha 2 dan mengungkapkan bahwa meskipun ada beberapa elemen budaya China yang mungkin sulit dipahami oleh audiens AS, namun emosi, humor, dan animasi yang memukau berhasil menjadikannya tontonan universal.
Tak hanya soal film, kehadiran warganet AS di RedNote juga membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan pengguna asal China.
Awalnya hanya sebagai "tempat perlindungan" sementara, RedNote kini berkembang menjadi platform yang mempererat hubungan budaya lintas negara.
Percakapan seputar kehidupan sehari-hari, resep makanan, hingga foto-foto pemandangan khas China dan AS kini menjadi bagian dari interaksi harian di platform tersebut.
Namun, ketika larangan TikTok akhirnya ditunda pada akhir Januari, sebagian besar pengguna AS mulai kembali ke aplikasi asal mereka.
Baca Juga: Trump Pasang Badan Buat Google Cs, Pedang Bermata Dua?
Meski begitu, banyak yang tetap bertahan di RedNote karena menyukai suasana komunitasnya yang lebih positif dan hangat.
“Saya lebih nyaman di sini. RedNote punya atmosfer yang lebih ramah dan menenangkan,” kata seorang pengguna AS dengan nama akun finnfinndog.
Sementara itu, pengguna lain bernama Inspiration menambahkan bahwa RedNote memberikan pengalaman bersosial yang lebih sehat dibandingkan platform lain.
Sejumlah pengguna bahkan membentuk jaringan profesional lintas negara. Kevin, seorang teknisi listrik dari Florida, kini memiliki lebih dari 13.000 pengikut setelah ia mulai membagikan praktik kerja di AS dan berdiskusi dengan rekan-rekan teknik dari China.
Sementara itu, Ruthie, seorang mahasiswa asal Florida, membagikan rencananya untuk melanjutkan studi di Shenzhen, yang kemudian mendapat sambutan hangat dari pengguna RedNote asal kota tersebut.
Baca Juga: EPA Liga 1: Persita Tangerang Juara U-20, PSM Makassar Kampiun U-18, Borneo U-16 Back-to-Back
“Jangan khawatir, Shenzhen itu Miami-nya China! Ada pantai, pohon palem, dan suasana yang luar biasa sepanjang hari,” tulis seorang warganet dari Guangdong.
Yang lain bahkan menawarkan untuk mentraktir Ruthie teh boba sebagai sambutan.
Daya tarik RedNote tidak hanya terletak pada fiturnya, tetapi juga bagaimana platform ini berhasil menciptakan ruang bagi pengguna dari dua negara untuk bertukar pengalaman dan membangun pemahaman lebih dalam tentang budaya masing-masing.
Dari fenomena migrasi digital ini, RedNote telah menjadi lebih dari sekadar media sosial—ia kini berfungsi sebagai jembatan budaya yang mempererat hubungan antara masyarakat AS dan China di tingkat akar rumput.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










