Trump Pasang Badan Buat Google Cs, Pedang Bermata Dua?
Demi Ermansyah | 22 Februari 2025, 23:13 WIB

AKURAT.CO Kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump yang terbaru bisa menjadi pedang bermata dua bagi raksasa teknologi AS.
Di satu sisi, kebijakan ini bertujuan melindungi perusahaan-perusahaan seperti Google, Meta, dan Amazon dari pajak digital yang dikenakan negara lain.
Namun di sisi lain, langkah ini bisa justru memperumit bisnis mereka yang sangat bergantung pada pasar global.
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (22/2/2025), Trump beberapa waktu lalu menandatangani memorandum yang memungkinkan AS memberlakukan tarif balasan kepada negara-negara yang mengenakan pajak digital pada perusahaan teknologi asal AS.
Dimana langkah tersebut didorong oleh anggapan bahwa pajak tersebut bersifat diskriminatif dan lebih banyak merugikan perusahaan AS dibandingkan negara lain.
Namun, jika tarif ini benar-benar diberlakukan, justru perusahaan teknologi AS yang akan merasakan dampaknya lebih dulu.
Sebagian besar raksasa teknologi ini memiliki rantai pasokan global, dimana produk dan layanan mereka bergantung pada berbagai komponen dari berbagai negara.
Jika perang tarif meletus, harga produk bisa melonjak, daya saing mereka bisa menurun, dan ekspansi ke pasar luar negeri bisa terhambat.
Perusahaan-perusahaan ini juga menghadapi tekanan dari regulasi yang semakin ketat di Eropa. Beberapa aturan baru di Uni Eropa menuntut transparansi lebih besar dari platform digital dalam menangani misinformasi serta perlindungan data pengguna.
Trump dan sekutunya menganggap regulasi ini sebagai upaya untuk membungkam suara konservatif, tetapi bagi perusahaan teknologi, ini adalah tantangan besar yang bisa memengaruhi operasional mereka di luar AS.
Selain itu, kebijakan tarif ini datang di saat yang tidak tepat. Saat ini, perusahaan teknologi sedang berusaha mempertahankan hubungan baik dengan pemerintahan Trump.
Beberapa CEO teknologi besar bahkan dikabarkan mengunjungi Trump di Mar-a-Lago dan menghadiri pelantikannya. Mereka berharap bisa mendapatkan perlindungan lebih baik dari kebijakan luar negeri AS yang dianggap merugikan industri teknologi.
Namun, dengan adanya ancaman tarif baru ini, posisi mereka semakin sulit. Jika perang dagang semakin meluas, bukan hanya mereka yang terkena dampaknya, tetapi juga para pengguna dan bisnis yang mengandalkan layanan mereka.
Kenaikan tarif bisa membuat layanan digital lebih mahal, dan perusahaan-perusahaan teknologi harus mencari cara untuk tetap bertahan di tengah tekanan dari berbagai pihak.
Bagi Trump, kebijakan ini adalah bagian dari strategi besarnya untuk membentuk ulang hubungan dagang AS dengan dunia. Ia ingin lebih banyak perusahaan memindahkan produksinya ke AS dan mengurangi ketergantungan pada pasar luar negeri.
Namun, bagi perusahaan teknologi, kebijakan ini bisa menjadi mimpi buruk baru yang mengancam model bisnis mereka yang selama ini bertumpu pada skala global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








