Cloudflare Rilis Studi Baru tentang Keamanan Siber di Asia Pasifik Tahun 2024

AKURAT.CO Cloudflare, Inc. (NYSE: NET) merilis studi terbaru berjudul "Menavigasi Lanskap Baru Keamanan: Survei Kesiapan Keamanan Siber Asia Pasifik".
Laporan ini memberikan wawasan terkini terkait kesiapan keamanan siber di Asia Pasifik, menyoroti bagaimana organisasi menangani ancaman perangkat pemeras, pelanggaran data, dan tantangan yang disebabkan oleh kecerdasan buatan (AI).
Laporan ini mengungkapkan kekhawatiran yang meningkat di Indonesia terkait serangan perangkat pemeras (ransomware).
Baca Juga: Viral Video Guru Madrasah Lakukan Asusila pada Muridnya di Gorontalo, Kemenag Beri Sanksi Berat
Sebanyak 65 persen organisasi yang menjadi korban serangan ransomware dalam dua tahun terakhir mengaku telah membayar tebusan, meski sebelumnya 80 persen dari mereka telah berjanji secara publik untuk tidak melakukannya.
Secara umum, server Remote Desktop Protocol (RDP) dan Virtual Private Network (VPN) yang berhasil diretas (65 persen) menjadi metode serangan paling umum.
Studi ini juga mengungkapkan bahwa 81% responden di Indonesia khawatir kecerdasan buatan akan memperparah pelanggaran data.
Sebanyak 40 persen organisasi di Indonesia mengaku mengalami pelanggaran data dalam 12 bulan terakhir, dengan 38 persen di antaranya mengalami lebih dari 11 pelanggaran.
Baca Juga: DKPP Terima 514 Aduan Dugaan Pelanggaran Kode Etik Sepanjang 2024
Sektor yang paling banyak terkena dampak termasuk industri Perjalanan, Pariwisata, Perhotelan (67 persen), Pendidikan (60 persen), Pemerintahan (50 persen), serta TI dan Teknologi.
"Di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks, insiden keamanan siber dan pelanggaran data menjadi ancaman nyata. Para pemimpin keamanan siber harus berjuang di antara regulasi yang semakin ketat dan sumber daya yang terbatas," ujar Wakil Presiden ASEAN di Cloudflare, Kenneth Lai, Jumat (27/9/2024).
Selain itu, survei ini menunjukkan bahwa 61 persen responden mengalokasikan lebih dari 5 persen anggaran TI mereka untuk memenuhi persyaratan regulasi dan kepatuhan.
Baca Juga: Sakit, Vadel Badjideh Minta Pemeriksaan Dijadwalkan Ulang
Investasi ini berdampak positif pada privasi, integritas data, serta reputasi perusahaan. Menanggapi ancaman siber yang meningkat, 93 persen responden mengalokasikan lebih dari 10 persen anggaran TI mereka untuk keamanan siber.
Survei yang dilakukan pada bulan Juni 2024 ini melibatkan 3.844 pengambil keputusan dan pemimpin keamanan siber dari berbagai industri di Asia Pasifik, mencakup 14 negara, termasuk Indonesia.
Tujuannya adalah untuk memahami tantangan yang dihadapi oleh para Direktur Keamanan Informasi (CISO) terkait ancaman siber, kepatuhan, dan kelangkaan tenaga ahli.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










