Akurat

Disinggung Roy Suryo Saat Kecelakaan Bus Subang, Apa Itu Perangkat LIDAR?

Leo Farhan | 13 Mei 2024, 20:09 WIB
Disinggung Roy Suryo Saat Kecelakaan Bus Subang, Apa Itu Perangkat LIDAR?

 

AKURAT.CO Bus pariwisata Putera Fajar mengalami kecelakaan di Subang, Jawa Barat pada Sabtu (11/5/2024) malam. Sebanyak 11 orang yang merupakan rombongan SMK Lingga Kencana asal Depok dipastikan meninggal dunia. 

Pembina Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) Roy Suryo ikut berkomentar atas tragedi nahas tersebut. Hal itu menyusul hasil pengamatan sementara dari petugas kepolisian yang mencermati aspal jalan tempat kejadian menyatakan tidak terdapat bekas-bekas pengereman. "Padahal kontur jalan menurun dan sewajarnya harus ada penurunan kecepatan yang signifikan," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Roy menjelaskan sebagaimana sudah sering dilakukan, hasil analisis lengkap dan terinci nantinya akan didapatkan setelah dilakukan olah TKP secara Traffic Accident Analysis (TAA) menggunakan perangkat berbasis Light Detection and Ranging (LIDAR).

"Hasil TAA ini memang akurat dan bisa diandalkan untuk mencari prima causa penyebab awal kejadian memilukan ini setelah digabungkan dengan hasil penyelidikan lainnya, misalnya wawancara dengan saksi-saksi korban selamat yang ada, termasuk Sopir," terang mantan Menpora.

Lantas, apa itu LIDAR yang disebut bisa membantu dalam olah TKP kecelakaan? LIDAR dapat membuat citra video analisis 3D berbasis pindaian sinar laser ke berbagai arah di lokasi kejadian. 

Baca Juga: Sudah Tersedia, Pemetaan Daerah Penangkapan Ikan dengan Penginderaan Jauh

Melansir laman resmi IBM, LIDAR ialah singkatan dari “light detection and ranging" atau deteksi cahaya dan jangkauan, yakni teknologi penginderaan jauh yang menggunakan sinar laser untuk mengukur jarak dan pergerakan yang tepat di suatu lingkungan secara real time.

Data LIDAR dapat digunakan untuk menghasilkan segala sesuatu, mulai dari peta topografi yang mendetail hingga model 3D yang dinamis dan tepat yang diperlukan untuk memandu kendaraan otonom dengan aman melalui lingkungan yang berubah dengan cepat dan terus-menerus. Teknologi LIDAR juga digunakan untuk menilai bahaya dan bencana alam seperti aliran lahar, tanah longsor, tsunami dan banjir.

LIDAR bekerja dengan prinsip yang sama dengan radar (deteksi dan jangkauan radio, sistem lokasi yang sering digunakan oleh kapal dan pesawat terbang) dan sonar (navigasi sonik dan jangkauan, sistem yang biasanya digunakan oleh kapal selam). Ketiga teknologi tersebut memancarkan gelombang energi untuk mendeteksi dan melacak objek.

Perbedaannya adalah radar menggunakan gelombang mikro dan sonar menggunakan gelombang suara, sedangkan LIDAR menggunakan cahaya yang dipantulkan, yang dapat mengukur jarak dengan lebih cepat, dengan ketepatan yang lebih besar dan resolusi yang lebih tinggi daripada radar atau sonar.

Instrumen LIDAR umumnya terdiri dari beberapa komponen:  

  • pemindai laser yang dengan cepat memancarkan getar sinar laser inframerah dekat
  • sensor LIDARyang digunakan untuk mendeteksi dan mengumpulkan getar cahaya yang kembali, dan
  • prosesor untuk menghitung waktu dan jarak serta untuk membangun dataset yang dihasilkan, yang disebut dengan point cloud LIDAR. 

Agar penginderaan jarak jauh menjadi akurat, pengukuran waktu dan ruang harus tepat, maka sistem LIDARjuga akan menggunakan elektronik pencatat waktu, unit pengukuran inersia (IMU), dan GPS.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.