Mengenal Starlink, Layanan Milik Elon Musk Yang Digadang-gadang Akan Bantu Gaza

AKURAT.CO - Nama Starlink sedang ramai diperbincangkan setelah orang terkaya di dunia Elon Musk menyebutnya untuk membantu warga Gaza.
Pada Minggu (29/10/2023) kemarin, melalui aplikasi X, Elon Musk mengumumkan niat baiknya untuk membantu penyelamatan di Gaza dengan menyediakan layanan Starlink.
Baca Juga: Israel Ancam Elon Musk Jika Bantu Gaza Dengan Starlink
"Starlink akan mendukung sambungan internet dan telepon untuk digunakan organisasi bantuan yang telah diakusi secara internasional di Gaza," tulis Elon Musk.
Setelahnya, Musk juga menuliskan cuitan mendukung PBB dan semua organisasi yang diakui secara internasional.
"Kami akan mendukung PBB, dan kelompok bantuan lain yang diakui secara internasional," tambahnya.
Apa itu layanan Starlink?
Starlink merupakan penyedia layanan internet berbasis satelit milik SpaceX, salah satu perusahaan Elon Musk. Diketahui, Starlink memanfaatkan satelit yang berada di orbit rendah Bumi.
Perusahaan milik Elon Musk itu mengeklaim mampu menawarkan layanan internet berkecepatan tinggi dengan low-latency di seluruh dunia.
Tidak heran jika layanan itu berfokus pada penyedia internet di daerah-daerah terpencil secara global.
Pendirian Starlink pertama kali diumumkan pada 2015, walau belum memiliki nama. Layanan itu menjadi bagian dari rencana Elon Musk untuk mencapai visi kolonisasi Mars.
Pada 2019, SpaceX mulai meluncurkan 60 satelit Starlink dan hingga kini memiliki lebih dari 4.000 satelit.
Untuk versi salelit V2 Starlink saat ini memiliki berat sekitar 800 kilogram, lebih berat dari versi lama yakni 260 gram
Diketahui, Starlink dapat memberikan kecepatan unduh 50 Megabyte per second (Mbps) hingga 200 Mbps dan kecepatan unggah sekitar 30 Mbps.
Baca Juga: Niat Baik Elon Musk Bantu Koneksi Internet Dan Telepon Di Gaza Dengan Starlink
Latensinya sekitar 20 milidetik, setara dengan internet berbasis darat. SpaceX lalu berencana untuk meningkatkan kecepatan unduh hingga 300 Mbps. Namun, beberapa pengguna dilaporkan menghadapi masalah kemacetan.
Tujuan jangka panjang perusahaan Elon Musk tersebut yakni mengoperasikan ribuan satelit, membuka jalan bagi kecepatan pengunduhan pada 1 Gigabyte per second (Gbps) hingga 10 Gbps. Di Indonesia sendiri, layanan Starlink telah dimanfaatkan oleh Telkom Group.
Pada pertengahan 2022 lalu, Kementerian Kominfo sudah memberikan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO) pada PT Telkom Satelit Indonesia sebagai pengguna korporat backhaul dalam penyelenggaraan jaringan tertutup satelit Starlink.
Selain itu, saat membuka Availibity Map atau peta ketersediaan di laman resmi Starlink, wilayah Indonesia dilabeli Starling in 2024 atau mulai pada tahun 2024.
Untuk harga yang ditawarkan, Starlink meminta uang deposit sebesar USD9 atau sekira Rp140 ribu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









