Perlu-nya Etika Digital di Tengah Ramainya Doxing hingga Aksi Hacker Bjorka

AKURAT.CO Interaksi di ruang digital memungkinkan pertemuan budaya yang berbeda dan menciptakan standar baru etika, yakni hubungan yang melintasi geografis dan budaya. Oleh sebab itu segala aktivitas bermedia digital memerlukan etika digital.
Diketahui pengguna internet dari tahun ke tahun terus meningkat dan kini menyentuh angka 4,7 miliar di seluruh dunia, di antaranya sebanyak 204,7 juta yang setara dengan 73,7% dari populasi penduduk Indonesia. Dapat dibayangkan berapa banyak perbedaan kuktural yang ada di dalamnya bisa berbenturan jika tidak ada etika.Â
Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Reny Yuliati mengatakan terkait dengan etika, orang Indonesia yang berbudi luhur memerlukan etika digital pada setiap aktivitas di dunia digital. Beberapa kompetensi yang harus dimiliki saat berada di dunia digital antara lain kompetensi dalam mengakses informasi, menyeleksi dan menganalisis informasi, serta membentengi diri dari dampak negatif internet.Â
"Kompetensi dalam memproduksi dan mendistribusikan informasi di platform digital tak kalah penting untuk memverifikasi pesan sesuai standart netiket, serta berkolaborasi data dan informasi dengan aman dan nyaman," kata Reny saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, pada Sabtu (10/9/2022).
Berkaitan dengan hal tersebut etika digital juga memiliki ruang lingkup berupa kesadaran penggunanya, integritas dalam menerapkan kejujuran untuk tidak melakukan plagiarisme. Perasaan bertanggung jawab akan setiap unggahan dan komentar, serta memerhatikan nilai kemanfaatan, kemanusiaan dan kebaikan saat menggunakan media digital.Â
Adapun respons dari perkembangan perkembangan Teknologi Informasi Komputer (TIK), Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.
Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Madiun, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.
Kini hadir para pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya antara lain Enterpreneur dan Founder of Coffee Meets Stock Billy Tanhadi, Dosen Praktisi UPN Veteran dan Owner Hidroponiksurabaya.com, Agus Gunawan dan Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Reny Yuliati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 4Diduga Singgung Status Pendatang Shin Tae-yong, Direktur Teknik Java United Lakukan Rasisme?
- 5Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 6Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 7Bantah Tuduhan Konspirasi Wasit, Presiden La Liga Sebut Real Madrid Hidup di 'Dunia Lain'
- 8Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 9BGN Hentikan Permanen Operasional Empat Dapur MBG
- 10KPK Buka Peluang Penyidikan Baru Usut Dugaan Aliran Uang ke Pimpinan dan Anggota Komisi VIII DPR



