IAW Akan Serahkan Bukti Transfer ke KPK Terkait Kasus Dugaan Korupsi Impor di Bea Cukai

AKURAT.CO Pendiri sekaligus Sekretaris Indonesia Audit Watch (IAW), Iskandar HP Sitorus, menyatakan akan menyerahkan dokumen tambahan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penyidikan kasus dugaan korupsi pengurusan impor di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Dokumen yang akan diserahkan berupa bukti transfer perbankan yang disebut ditemukan Iskandar saat menjalankan tugas berdasarkan kuasa nonlitigasi dari pemilik PT Blueray Cargo, John Field.
Iskandar mengatakan penyerahan dokumen tersebut dijadwalkan berlangsung di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, pada Rabu (17/6/2026) pukul 11.30 WIB.
"Saya akan menyerahkan bukti-bukti transfer melalui Bank BCA dari bagian manajemen Blueray Cargo kepada seseorang berinisial A yang disebut-sebut sebagai ajudan AD. Ini sebagai bentuk ketaatan kepada hukum karena saya mengetahui adanya bukti tersebut, yang diharapkan dapat melengkapi proses penyidikan KPK terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi di Bea dan Cukai," kata Iskandar kepada Akurat.co, Selasa (16/6/2026) malam.
Penyerahan dokumen itu merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan Iskandar sebagai saksi oleh penyidik KPK pada Jumat (12/6/2026).
Dalam pemeriksaan tersebut, Iskandar dimintai keterangan mengenai informasi yang diperolehnya saat mendampingi PT Blueray Cargo dalam urusan nonlitigasi pascaoperasi tangkap tangan (OTT) KPK.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, sebelumnya membenarkan bahwa penyidik telah memeriksa Iskandar dan mendalami sejumlah informasi yang berkaitan dengan pengembangan perkara.
Baca Juga: Pembubaran Diskusi di UGM Dinilai Bertentangan dengan Tradisi Akademik
"Saksi IHS bertindak sebagai konsultan dari PT BR. Dalam materi pemeriksaan, saksi IHS juga menyampaikan sejumlah keterangan yang dibutuhkan oleh penyidik," kata Budi.
Menurut Budi, setiap keterangan yang diberikan saksi akan digunakan untuk menelusuri pihak-pihak lain yang diduga memiliki keterkaitan dengan perkara dugaan suap pengurusan impor tersebut.
"Keterangan setiap saksi, termasuk IHS, tentunya membantu proses penyidikan untuk terus menelusuri pihak-pihak lain yang juga diduga terkait," ujarnya.
Kasus ini merupakan pengembangan perkara dugaan suap dan gratifikasi terkait pengurusan impor barang di lingkungan DJBC yang bermula dari operasi tangkap tangan KPK pada Februari 2026.
Dalam perkembangannya, sejumlah nama pejabat Bea dan Cukai maupun pihak swasta disebut dalam proses penyidikan dan persidangan yang hingga kini masih berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November









