Kasus Penyiraman Aktivis KontraS, Eks Kabais Dorong Pembentukan Tim Gabungan Militer-Sipil

AKURAT.CO Berbagai elemen masyarakat mendesak pengusutan tuntas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang diduga melibatkan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.
Mantan Kepala BAIS TNI, Soleman B. Ponto, mendorong pembentukan tim penyidik koneksitas sebagai langkah untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan perkara tersebut.
Menurutnya, tim koneksitas merupakan mekanisme gabungan antara unsur militer dan sipil yang bertugas menangani kasus yang melibatkan kedua pihak.
“Bentuk tim penyidik koneksitas, nanti tim inilah yang bekerja. Karena dalam hukum acara, mekanisme untuk kasus pelaku militer dengan korban sipil belum diatur secara spesifik,” ujar Soleman saat dihubungi Akurat.co, Rabu (18/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam skema koneksitas, proses peradilan dapat dilaksanakan di peradilan umum atau militer, tergantung pada keputusan Mahkamah Agung. Namun, komposisi hakim tetap menggabungkan unsur sipil dan militer.
Baca Juga: Perkuat Sinergi, Prabowo Gelar Diskusi dengan Pengamat hingga Jurnalis di Hambalang
“Peradilannya bisa di peradilan umum, tergantung Mahkamah Agung. Tapi komposisi hakimnya satu dari militer dan dua dari sipil,” jelasnya.
Soleman menilai kehadiran unsur militer penting untuk menjangkau pihak-pihak di lingkungan militer, terutama dalam proses pemanggilan dan penyidikan.
Ia merujuk pada ketentuan dalam KUHAP, khususnya Pasal 89 hingga Pasal 94, yang mengatur mekanisme koneksitas dalam perkara yang melibatkan pelaku dari unsur sipil dan militer.
“Penuntut militer memiliki kewenangan untuk memanggil pihak-pihak di lingkungan militer. Jika hanya aparat sipil yang memanggil, belum tentu efektif,” ujarnya.
Meski belum ada aturan khusus yang secara eksplisit mengatur kasus dengan pelaku militer dan korban sipil, Soleman menilai mekanisme koneksitas yang ada tetap dapat dimanfaatkan.
“Memang belum ada aturan khusus, tetapi kita bisa menggunakan mekanisme yang tersedia untuk memastikan proses hukum berjalan,” katanya.
Ia pun menegaskan bahwa jika terbukti terjadi pelanggaran, proses hukum harus dilakukan secara terbuka tanpa tebang pilih.
Pembentukan tim koneksitas diharapkan dapat menjadi solusi untuk memastikan penanganan kasus berjalan transparan serta menjamin akuntabilitas dalam perkara yang melibatkan unsur militer dan sipil.
Baca Juga: CORE Dorong Pemerintah Perkuat Diplomasi Hadapi Kebijakan EUDR
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit









