Gara-gara Ponsel Hilang, Founder GYPEM Dicatut Penipuan Miliaran Rupiah

AKURAT.CO Pengusaha muda dan Founder Global Youth and Peace Education Movement (GYPEM), Ahmad Qomaruddin, mengklarifikasi terhadap isu pencemaran nama baik dan dugaan penipuan yang melibatkan namanya.
Dia menegaskan bahwa dirinya adalah korban kejahatan siber terstruktur, yang sengaja dirancang untuk merusak integritasnya sebagai tokoh pendidikan perdamaian.
Serangan ini berawal dari hilangnya telepon seluler (HP) milik Ahmad pada Agustus lalu, yang kemudian data-data pribadi, KTP, dan arsip komunikasi dicuri. Dia langsung menyoroti bahaya pencatutan nama untuk modus penipuan bernilai miliaran rupiah yang beredar di masyarakat.
Baca Juga: Waspada, Penipuan via WhatsApp Catut Foto Wali Kota Agustina untuk Kepentingan Pribadi
"Saya menegaskan bahwa saya tidak bertanggung jawab atas segala bentuk hutang-piutang atau penipuan miliaran rupiah yang mengatasnamakan saya. Identitas saya dicuri dari HP yang hilang, dan nomor yang digunakan pelaku bukan nomor saya," tegas Ahmad, Kamis (4/12/2025).
Untuk itu, dia mengimbau masyarakat agar tidak terperdaya, sebab pelaku menggunakan teknologi Deepfake Audio (AI) yang memanipulasi suara aslinya dari arsip WhatsApp untuk membuat narasi penipuan.
Selain itu, terkait screenshot percakapan tidak senonoh yang viral, Ahmad meluruskan bahwa itu murni rekayasa total.
"Nomor telepon yang tertera di screenshot itu dipastikan bukan nomor saya. Pelaku hanya melampirkan video dokumentasi perjalanan dan aktivitas harian saya, yang dicuri dari arsip chat pribadi, ke dalam chat palsu tersebut," jelasnya.
Dia menambahkan, tujuan pelaku memanipulasi video perjalanan yang netral ini adalah untuk memvalidasi kebohongan mereka di mata pembaca, seolah-olah percakapan itu terjadi secara nyata.
Baca Juga: Singapura Minta Apple dan Google Cegah Penipuan Berkedok Pemerintah di Layanan Pesan
Ahmad yang sedang menempuh studi di Yogyakarta, menjelaskan bahwa pelaku memanfaatkan fitur lokasi (geo-tagging) Instagram, untuk memetakan rutinitasnya (kos, hotel) dan melakukan pengintaian digital (cyber stalking).
"Pelaku sengaja menyerang dengan narasi yang tidak bermoral untuk menghancurkan marwah saya sebagai pendidik di GYPEM. Ini adalah bentuk teror psikologis," ujarnya.
Namun, upaya pembelaan dirinya sempat digagalkan karena akun media sosialnya hingga milik keluarganya diretas (hack) secara masif oleh pelaku, saat dia mencoba klarifikasi. "Saya adalah korban kejahatan siber, bukan pelaku," tutup Ahmad.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









