Akurat Logo

Jelang Muktamar NU 2026, Nama Nasaruddin Umar Menguat, Muncul Bocoran Formasi PBNU Baru

Lufaefi | 27 Juni 2026, 05:41 WIB
Jelang Muktamar NU 2026, Nama Nasaruddin Umar Menguat, Muncul Bocoran Formasi PBNU Baru
Susunan Pengurus PBNU Bermunculan Jelang Muktamar NU (NU Online)

AKURAT.CO Dinamika menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mulai menunjukkan arah baru. Di tengah belum ditetapkannya lokasi muktamar, wacana mengenai komposisi kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 mulai mengemuka.

Salah satu usulan datang dari Tokoh Muda Nahdliyin Jawa Timur sekaligus Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, yang menyebut peta kandidat Ketua Umum PBNU mulai mengerucut dan mengarah pada nama Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

“Dukungan terhadap Menteri Agama Nasaruddin Umar terus menguat dari berbagai kalangan,” kata Gus Lilur, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: PCNU Pekalongan Dukung Lirboyo Jadi Lokasi Muktamar ke-35 NU

Pernyataan tersebut muncul setelah sebelumnya Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut Nasaruddin Umar sebagai salah satu figur yang memiliki peluang memimpin PBNU pada periode mendatang karena rekam jejak organisasinya di lingkungan NU.

Menurut Gus Lilur, NU saat ini membutuhkan pola kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada otoritas keagamaan, tetapi juga mampu menjawab perubahan sosial dan tantangan global.

“NU membutuhkan kombinasi antara kedalaman ilmu para kiai dan energi pembaruan dari generasi intelektual muda. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Justru harus dipadukan agar NU tetap menjadi penuntun umat sekaligus relevan menghadapi perubahan global,” ujarnya.

Dalam skema yang diusulkan, posisi Rais Aam disebut ideal diisi oleh KH Said Aqil Siradj. Sementara Wakil Rais Aam diusulkan diisi KH Afifuddin Muhajir dan KH Marzuki Mustamar. Untuk posisi Katib Aam, nama KH Abdussalam Shohib masuk dalam rancangan tersebut.

Pada jajaran tanfidziyah, Gus Lilur mengusulkan Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU, didampingi Nusron Wahid dan Alissa Wahid sebagai Wakil Ketua Umum. Posisi Sekretaris Jenderal diusulkan untuk KH Yusuf Chudlori dan Bendahara Umum untuk KH Imam Jazuli.

Gus Lilur menegaskan bahwa formulasi tersebut bukan disusun atas dasar popularitas semata, melainkan mempertimbangkan keseimbangan antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan kemampuan membaca perubahan zaman.

“NU tidak cukup hanya menjaga tradisi. NU juga harus mampu memimpin transformasi. Karena itu, kami mengusulkan kepemimpinan yang memadukan kearifan ulama dengan perspektif intelektual yang adaptif terhadap perkembangan zaman,” katanya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Akui Belajar Politik kepada Nahdlatul Ulama

Ia menambahkan bahwa Muktamar NU mendatang seharusnya dipahami bukan sekadar momentum pergantian figur, tetapi penentuan arah organisasi untuk lima tahun ke depan.

“Yang paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana NU tetap menjadi rumah besar umat Islam yang mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa,” ujarnya.

Meski demikian, usulan tersebut disebut sebagai aspirasi dan kontribusi pemikiran dari kalangan NBI. Penentuan resmi struktur PBNU periode 2026–2031 tetap akan diputuskan melalui mekanisme organisasi dan forum Muktamar NU ke-35.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi