Keutamaan Tarawih bagi Anak yang Belum Baligh

AKURAT.CO Shalat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang memiliki kedudukan istimewa di bulan Ramadan. Meskipun kewajiban syariat belum berlaku bagi anak yang belum baligh, para ulama sepakat bahwa membiasakan anak mengikuti ibadah sejak dini merupakan bagian penting dari pendidikan keimanan.
Dalam konteks ini, Tarawih menjadi sarana efektif untuk menanamkan kecintaan kepada masjid, Al-Qur’an, dan suasana ibadah Ramadan.
Secara prinsip, anak yang belum baligh tidak terbebani kewajiban syariat. Rasulullah ﷺ bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ: عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
“Diangkat pena (tidak dicatat dosa) dari tiga golongan: dari anak kecil sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sadar.”
Hadis ini menegaskan bahwa anak belum memikul kewajiban. Namun, bukan berarti ia tidak boleh atau tidak dianjurkan beribadah. Justru fase sebelum baligh adalah masa pembiasaan (ta’dib) dan latihan ruhani.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”
Meskipun hadis ini berbicara tentang shalat wajib, para ulama menjadikannya dasar anjuran pendidikan ibadah secara umum, termasuk shalat sunnah seperti Tarawih. Artinya, Tarawih bagi anak bukan kewajiban, tetapi bagian dari proses pembentukan karakter spiritual.
Baca Juga: Keutamaan Tarawih yang Tidak Dimiliki oleh Amalan Selainnya
Pembentukan Karakter dan Kecintaan pada Ibadah
Keutamaan Tarawih bagi anak yang belum baligh terletak pada dampak pendidikannya. Ketika anak diajak ke masjid di malam Ramadan, ia menyaksikan atmosfer ibadah yang khusyuk, mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, serta merasakan kebersamaan umat Islam. Pengalaman ini membentuk memori spiritual yang kuat dan berkesan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. at-Tahrim: 6)
Ayat ini menjadi dasar tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak. Mengajak anak mengikuti Tarawih adalah bagian dari upaya menjaga dan membimbing mereka menuju jalan kebaikan. Dalam praktiknya, anak yang terbiasa Tarawih sejak kecil cenderung lebih mudah mencintai shalat ketika telah baligh.
Latihan Disiplin dan Ketahanan Ruhani
Tarawih juga melatih kesabaran dan ketahanan diri. Berdiri lebih lama dari biasanya, mendengarkan bacaan Al-Qur’an, serta mengikuti rangkaian rakaat hingga selesai merupakan latihan kedisiplinan yang berharga. Bagi anak, ini menjadi proses pembentukan mental ibadah secara bertahap.
Selain itu, Tarawih memperkenalkan anak pada nilai kebersamaan umat. Ia belajar tertib dalam saf, mengikuti imam, serta menghormati jamaah lain. Nilai-nilai ini tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga pada pembentukan akhlak sosial.
Namun demikian, para orang tua tetap perlu mempertimbangkan kondisi fisik dan psikologis anak. Jika anak kelelahan atau mengganggu kekhusyukan jamaah, pendekatan yang bijak dan proporsional harus diutamakan. Tujuan utama adalah menumbuhkan cinta, bukan beban.
Baca Juga: Niat Salat Idulfitri sebagai Makmum, Lengkap dengan Tata Caranya
QnA Seputar Tarawih bagi Anak
-
Apakah anak yang belum baligh wajib Tarawih?
Tidak wajib. Ia dianjurkan sebagai latihan dan pendidikan ibadah. -
Apakah sah jika anak ikut Tarawih berjamaah?
Sah. Shalatnya bernilai ibadah dan menjadi pahala latihan baginya. -
Apakah boleh anak tidak menyelesaikan seluruh rakaat?
Boleh. Orang tua dapat menyesuaikan dengan kemampuan anak agar tidak memberatkan. -
Apakah orang tua mendapat pahala saat mengajak anak Tarawih?
Insya Allah mendapat pahala karena termasuk mendidik dan membimbing keluarga dalam kebaikan.
Dengan demikian, keutamaan Tarawih bagi anak yang belum baligh bukan terletak pada kewajiban hukum, melainkan pada nilai pendidikan, pembiasaan, dan pembentukan karakter spiritual sejak dini. Ia menjadi investasi iman jangka panjang yang dampaknya akan terasa ketika anak tumbuh dewasa dan memikul tanggung jawab syariat sepenuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










