Keutamaan Tarawih yang Tidak Dimiliki oleh Amalan Selainnya

AKURAT.CO Shalat Tarawih merupakan salah satu syiar agung dalam bulan Ramadan yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi ibadah umat Islam. Ia bukan sekadar shalat sunnah malam biasa, melainkan qiyam yang secara khusus disyariatkan pada bulan Ramadan.
Para ulama menegaskan bahwa keistimewaan Tarawih terletak pada momentum waktunya, dorongan langsung dari Nabi, serta pahala yang dijanjikan secara eksplisit dalam hadis sahih.
Keutamaan paling mendasar dari Tarawih adalah jaminan ampunan dosa bagi mereka yang melaksanakannya dengan iman dan penuh harap kepada Allah. Dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang menegakkan (shalat malam) pada bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadis ini menunjukkan bahwa qiyam Ramadan—yang oleh para sahabat dipraktikkan dalam bentuk Tarawih—memiliki keutamaan pengampunan dosa secara khusus. Tidak semua amalan memiliki redaksi janji ampunan dengan formula sedemikian tegas dan langsung.
Selain itu, Tarawih memiliki dimensi kolektif yang memperkuat ukhuwah Islamiyah. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, shalat Tarawih dikumpulkan dalam satu jamaah di bawah satu imam, yakni Ubay bin Ka‘ab.
Peristiwa ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan menunjukkan legitimasi praktik berjamaah dalam Tarawih. Sejak saat itu, Tarawih menjadi syiar publik Ramadan yang membedakannya dari qiyamullail di bulan-bulan lain.
Dimensi Spiritual dan Pendidikan Ruhani
Keutamaan Tarawih tidak hanya terletak pada pahala individual, tetapi juga pada pembentukan spiritualitas kolektif. Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. al-Baqarah: 185)
Karena itu, Tarawih secara tradisional diisi dengan bacaan Al-Qur’an yang panjang, bahkan dikhatamkan selama satu bulan. Praktik ini menjadikan Tarawih sebagai sarana interaksi intensif umat dengan Al-Qur’an. Amalan lain mungkin mengandung tilawah, tetapi tidak memiliki keterkaitan struktural dan kolektif dengan pembacaan Al-Qur’an seperti Tarawih.
Dari sisi pendidikan ruhani, Tarawih melatih konsistensi (istiqamah). Ia dilakukan hampir setiap malam selama sebulan penuh. Konsistensi ini menumbuhkan disiplin spiritual yang sulit ditemukan dalam amalan sunnah lainnya yang sifatnya sporadis.
Baca Juga: Bacaan Doa setelah Salat Tarawih Pendek dan Artinya, Lengkap Keutamaannya
Keistimewaan dari Segi Momentum dan Syiar
Tarawih hanya ada di bulan Ramadan. Ia menjadi identitas ibadah malam Ramadan yang tidak tergantikan oleh amalan lain. Jika puasa adalah ibadah siang hari, maka Tarawih adalah pelengkap malamnya. Kombinasi keduanya membentuk kesempurnaan ibadah Ramadan secara menyeluruh.
Lebih jauh, suasana masjid yang hidup di malam Ramadan, lantunan ayat-ayat suci, serta doa-doa yang dipanjatkan bersama menjadikan Tarawih sebagai pengalaman spiritual yang komunal dan transformatif. Ia membangun kesadaran bahwa ibadah bukan sekadar hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga keterikatan horizontal sesama mukmin.
QnA Seputar Tarawih
-
Apakah Tarawih wajib?
Tidak. Tarawih adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan. -
Apakah harus berjamaah di masjid?
Boleh berjamaah di masjid dan itu lebih utama menurut banyak ulama, namun boleh juga dilakukan sendiri di rumah. -
Apakah jumlah rakaat harus 20?
Terdapat perbedaan pendapat. Ada yang melaksanakan 8 rakaat, ada pula 20 rakaat. Keduanya memiliki dasar dalam praktik para sahabat dan ulama. -
Apakah wanita boleh Tarawih di masjid?
Boleh, selama menjaga adab dan ketentuan syariat.
Baca Juga: Potret Masjid Negara IKN Gelar Salat Tarawih Pertama Kali pada Ramadan 1447 H
Dengan demikian, Tarawih memiliki keutamaan yang khas: janji ampunan dosa secara eksplisit, dimensi kolektif yang kuat, keterkaitan erat dengan Al-Qur’an, serta momentum spiritual yang hanya hadir di bulan Ramadan. Ia bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan mahkota malam Ramadan yang menghadirkan limpahan rahmat dan pembinaan jiwa secara menyeluruh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










