Akurat

Ini Dia 15 Pemimpin Muslim di Amerika, Ada Gubernur hingga Kepala Polisi

Fajar Rizky Ramadhan | 11 November 2025, 07:00 WIB
Ini Dia 15 Pemimpin Muslim di Amerika, Ada Gubernur hingga Kepala Polisi

AKURAT.CO Fenomena baru sedang terjadi di panggung politik dan birokrasi Amerika Serikat. Negeri yang lama dikenal dengan sekularisme ketat dan sejarah panjang diskriminasi terhadap minoritas, kini mulai membuka ruang bagi para pemimpin Muslim untuk mengambil peran strategis.

Dari wali kota hingga jaksa agung, dari senator hingga kepala kepolisian, wajah-wajah Muslim kian mewarnai peta kepemimpinan Amerika.

Gelombang ini menandai babak baru inklusivitas politik di negeri Paman Sam. Nama-nama seperti Zohran Mamdani, Ghazala Hashmi, Abdullah Hammoud, dan Keith Ellison menjadi simbol perubahan sosial dan politik yang tak bisa diabaikan.

Mereka bukan hanya hadir sebagai representasi minoritas, tetapi juga menjadi katalis transformasi menuju politik yang lebih beragam dan humanis.

Zohran Mamdani, politisi muda Partai Demokrat berusia 34 tahun, menorehkan sejarah sebagai Muslim pertama yang terpilih menjadi Wali Kota New York City. Kemenangan Mamdani bukan sekadar simbol, melainkan pesan kuat tentang perubahan kesadaran publik Amerika terhadap pluralitas dan keadilan sosial.

Dengan latar belakang keluarga akademisi dan seniman asal Uganda-India, Mamdani membawa agenda sosial yang progresif: redistribusi kekayaan, layanan publik yang setara, dan kota yang berpihak pada kaum tertindas.

Baca Juga: Wanti-wanti Trump ke Zohran Mamdani: Harusnya Dia Bersikap Baik sama Saya

Di Virginia, Ghazala Hashmi juga mencatatkan sejarah dengan terpilih sebagai Wakil Gubernur Muslim perempuan pertama di negara bagian itu. Hashmi adalah cerminan mobilitas sosial kaum imigran yang berhasil menembus batas-batas politik tradisional. Dari senator negara bagian hingga kursi wakil gubernur, Hashmi memperjuangkan isu pendidikan, kesetaraan gender, dan hak-hak imigran.

Sementara itu, di Dearborn, Michigan—wilayah dengan komunitas Muslim terbesar di Amerika—Abdullah Hammoud mempertahankan posisinya sebagai Wali Kota. Hammoud, keturunan Lebanon, menjadi ikon pemimpin muda yang memperjuangkan reformasi lingkungan dan keadilan sosial. Ia menolak politik identitas yang sempit, dan lebih menonjolkan kerja konkret di lapangan.

Nama lain yang mencuri perhatian adalah Amer Ghalib, Wali Kota Hamtramck, Michigan. Ia lahir di Yaman dan dulu bekerja sebagai buruh pabrik mobil. Kini, Ghalib menjadi simbol kesuksesan diaspora Muslim di Amerika, bahkan sempat ditunjuk sebagai calon duta besar AS untuk Kuwait.

Begitu pula Sadaf Jaffer, mantan Wali Kota Montgomery, New Jersey, yang kini menjadi anggota DPR negara bagian. Ia dikenal gigih memperjuangkan representasi perempuan dan minoritas di politik lokal.

Tak hanya di jabatan politik, sejumlah Muslim juga sukses menembus posisi penting di sektor keamanan dan hukum. Ibrahim Baycora, imigran asal Turki, mencetak sejarah sebagai Kepala Kepolisian Muslim pertama di Paterson, New Jersey. Ia dikenal tegas namun humanis dalam membangun hubungan antara polisi dan warga.

Dalam bidang hukum, Keith Ellison menjadi figur paling berpengaruh. Sebagai Muslim pertama yang duduk di Kongres AS, Ellison kini menjabat sebagai Jaksa Agung Minnesota. Perannya semakin dikenal saat ia memimpin proses hukum kasus pembunuhan George Floyd yang mengguncang dunia. Ellison membuktikan bahwa nilai keadilan universal bisa berjalan seiring dengan spiritualitas Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Andre Carson, Rashida Tlaib, dan Ilhan Omar memperkuat barisan politisi Muslim di level nasional. Ketiganya menjadi wajah progresif Partai Demokrat yang vokal memperjuangkan hak-hak sosial dan menentang Islamofobia.

Rashida Tlaib dan Ilhan Omar bahkan kerap menjadi target serangan politik karena keberanian mereka mengkritik kebijakan luar negeri AS yang bias terhadap dunia Muslim. Namun keduanya tetap konsisten dengan suara nurani dan prinsip kemanusiaan global.

Di tingkat lokal, muncul pula Nadia Mohamed, Wali Kota St. Louis Park, Minnesota; Amir Omar, Wali Kota Richardson, Texas; dan Mohammed Hameeduddin, mantan Wali Kota Teaneck, New Jersey. Ketiganya menunjukkan bahwa Muslim tak lagi hanya menjadi minoritas pasif, tetapi pelaku aktif dalam membentuk arah kebijakan publik.

Gelombang para pemimpin Muslim ini bukan sekadar hasil dari politik elektoral semata. Ia adalah buah dari perjuangan panjang generasi imigran yang bertahan di tengah diskriminasi, bekerja keras di akar rumput, dan akhirnya diakui sebagai bagian integral dari bangsa Amerika.

Baca Juga: Geger! Wali Kota Muslim New York Zohran Mamdani Terancam Dideportasi dari AS

Fenomena ini juga menandakan perubahan persepsi masyarakat Amerika terhadap Islam. Bila pada awal 2000-an pasca tragedi 9/11, Islam identik dengan ancaman, maka kini Islam mulai dilihat sebagai bagian dari kekayaan moral dan sosial bangsa. Para pemimpin Muslim menunjukkan wajah Islam yang moderat, toleran, dan berorientasi pada pelayanan publik.

Mereka tidak datang dengan misi politik agama, melainkan dengan semangat etis Islam yang menekankan amanah, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Di tengah polarisasi politik dan krisis moral global, kehadiran mereka membawa napas segar dan memberi teladan bahwa iman dan rasionalitas bisa berjalan berdampingan.

Kini, generasi muda Muslim Amerika memiliki lebih banyak panutan. Dari ruang kelas hingga ruang publik, dari kampus hingga kantor pemerintahan, suara mereka mulai didengar dan diperhitungkan. Mereka bukan lagi sekadar warga negara, tetapi juga arsitek masa depan Amerika yang lebih inklusif dan adil.

Kebangkitan pemimpin Muslim di Amerika menjadi bukti nyata bahwa Islam dan demokrasi tidak bertentangan. Justru dalam ruang demokrasi, nilai-nilai Islam tentang keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial menemukan bentuknya yang paling nyata.

Dan barangkali, inilah momen ketika Amerika — negeri yang dibangun atas nama kebebasan — sedang belajar kembali arti kebebasan itu sendiri: bahwa ia hanya sempurna ketika setiap suara, termasuk dari Muslim, mendapat tempat yang layak di dalamnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.