Arab Saudi Beralih dari Minyak ke Pariwisata, Targetkan 150 Juta Wisatawan pada 2030

AKURAT.CO Setelah lama dikenal sebagai negara penghasil minyak terbesar di dunia, Arab Saudi kini mulai mengubah haluan ekonominya. Negeri gurun itu serius mengembangkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan baru, sejalan dengan visi besar reformasi nasionalnya.
Transformasi ini dimulai sejak 2019, ketika Arab Saudi pertama kali membuka akses visa bagi wisatawan internasional. Sebelumnya, kunjungan ke negara tersebut terbatas hanya untuk urusan ibadah, bisnis, atau keluarga.
“Kami sedang membuka nilai besar dari negara ini. Arab Saudi punya banyak hal untuk ditawarkan kepada dunia,” ujar Menteri Pariwisata Arab Saudi, HE Ahmed Al Khateeb, dikutip dari Fortune, Minggu (2/11/2025).
Ia menambahkan, “Kami ingin wisatawan datang dan merasakan keramahan khas Saudi, menikmati kopi dan makanan kami, serta mempelajari budaya Arab.”
Baca Juga: Arab Saudi Pangkas Masa Berlaku Visa Umrah dari 3 Bulan Jadi 30 Hari
Langkah ini merupakan bagian dari Visi Saudi 2030 yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman sejak 2016. Tujuannya untuk mendiversifikasi ekonomi dan memodernisasi wajah Arab Saudi tanpa meninggalkan akar budayanya.
Hasilnya mulai terlihat. Pada 2024, Arab Saudi mencatat 116 juta kunjungan wisatawan, naik signifikan dari 80 juta pada 2019. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 150 juta kunjungan per tahun pada 2030.
Menariknya, sekitar separuh dari wisatawan itu datang untuk tujuan keagamaan seperti haji dan umrah. Namun, Al Khateeb meyakini jumlah wisatawan umum akan terus bertambah seiring dengan terbukanya berbagai destinasi baru di seluruh negeri.
Untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi global, Arab Saudi tengah bersiap menjadi tuan rumah sejumlah ajang besar dunia, seperti Asian Games Musim Dingin 2029, Piala Dunia FIFA 2034, hingga Sidang Umum Pariwisata PBB yang akan digelar di Riyadh.
“Negara kami ingin menjadi destinasi global. Karena itu, kami sedang membangun infrastruktur yang kuat,” ujar Al Khateeb.
Sejumlah proyek besar pun tengah dikerjakan. Di antaranya peluncuran maskapai nasional baru, Riyadh Air, pada 2023, pembangunan Bandara Internasional Raja Salman, serta penambahan lebih dari 300 ribu kamar hotel baru hingga 2030.
Maskapai Delta Air Lines asal Amerika Serikat bahkan akan membuka rute langsung Atlanta–Riyadh mulai Oktober 2026, menjadi penerbangan non-stop pertama antara kedua negara tersebut.
Meski ambisius, pemerintah Saudi menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. “Keberlanjutan sangat penting bagi setiap negara. Karena itu, kami memastikan semua destinasi kami tetap terjaga—baik pegunungan di selatan maupun pulau-pulau indah di Laut Merah,” kata Al Khateeb.
Baca Juga: Berapa Masa Tinggal Jemaah Haji 2026 di Arab Saudi? Ini Kesepakatan Pemerintah dan DPR RI
Sebagai bentuk keseriusan, Arab Saudi juga mendirikan Global Center for Sustainable Tourism pada 2021, sebuah inisiatif global untuk mendorong industri pariwisata menuju target emisi nol bersih.
Dengan langkah-langkah besar tersebut, Arab Saudi menegaskan tekadnya untuk bertransformasi dari negara minyak menjadi destinasi wisata kelas dunia—tanpa meninggalkan nilai budaya dan spiritual yang menjadi identitas utamanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









