Begini Pendidikan Profesi Guru yang Sesuai dengan Nilai-Nilai Islam

AKURAT.CO Dalam pandangan Islam, pendidikan profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah amanah yang mengandung dimensi spiritual, moral, dan sosial. Guru bukan hanya pengajar ilmu, tetapi juga pembimbing akhlak dan penjaga peradaban.
Karena itu, pendidikan profesi guru dalam perspektif Islam tidak cukup hanya menekankan kompetensi pedagogis dan akademik, tetapi juga harus berlandaskan nilai-nilai keislaman yang menumbuhkan kesadaran tauhid, keikhlasan, dan tanggung jawab moral.
Islam memuliakan guru karena kedudukannya yang tinggi dalam proses pencerdasan umat. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa derajat orang berilmu berada di atas yang lain, sebagaimana dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah [58]: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dan keimanan harus berjalan seiring. Seorang guru tidak cukup hanya pandai, tetapi juga harus beriman dan berakhlak mulia. Pendidikan profesi guru yang berlandaskan nilai Islam menuntut adanya integrasi antara ilmu, iman, dan amal. Ketiganya menjadi fondasi dalam membentuk guru yang tidak hanya profesional secara teknis, tetapi juga religius dan beretika.
Baca Juga: Ungkapan Tabayyun Jadi Viral Usai Kasus TRANS7 dan Ponpes Lirboyo Kediri, Ini Makna dan Hikmahnya
Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, guru atau mu’allim memiliki peran ganda: sebagai murabbi (pendidik jiwa) dan muaddib (pembentuk adab). Rasulullah SAW sendiri merupakan teladan utama dalam profesi keguruan. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai, menumbuhkan kesadaran, dan mencontohkan adab. Nabi bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pengajar.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menegaskan bahwa misi kerasulan Nabi Muhammad SAW memiliki dimensi pendidikan yang sangat kuat. Seorang guru dalam Islam hendaknya meneladani cara Nabi mendidik: lembut, penuh kasih sayang, tidak menghina murid, dan menumbuhkan semangat belajar.
Metode pendidikan beliau menyeimbangkan antara targhīb (motivasi dengan janji kebaikan) dan tarhīb (peringatan dengan ancaman keburukan), serta menekankan pada proses internalisasi nilai, bukan sekadar transfer pengetahuan.
Pendidikan profesi guru yang sesuai dengan nilai-nilai Islam harus berorientasi pada pembentukan karakter spiritual. Dalam konteks modern, kurikulum pendidikan profesi sering kali menekankan aspek kognitif—bagaimana mengajar dengan efektif, menggunakan teknologi, atau menilai hasil belajar.
Padahal, Islam menuntut dimensi ruhani yang lebih dalam: mengajar dengan niat ibadah, berorientasi pada keridhaan Allah, dan memandang murid sebagai amanah, bukan objek.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Guru yang menanamkan nilai kebaikan akan terus mendapatkan pahala jariyah dari ilmu yang diajarkan. Inilah motivasi spiritual dalam pendidikan profesi guru menurut Islam. Guru tidak mengajar untuk mendapatkan penghargaan atau status sosial, melainkan untuk mengantarkan manusia pada kebenaran dan keberkahan.
Selain itu, prinsip keadilan dan kasih sayang menjadi nilai pokok dalam pendidikan guru Islam. Seorang guru dituntut untuk adil terhadap semua murid tanpa membeda-bedakan latar belakang ekonomi, sosial, atau kecerdasan. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl [16]: 90)
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah nilai dasar dalam segala urusan, termasuk pendidikan. Guru yang profesional dalam perspektif Islam tidak hanya kompeten dalam mengajar, tetapi juga adil dalam menilai, sabar dalam membimbing, dan tulus dalam mengasihi murid-muridnya.
Dalam konteks institusional, pendidikan profesi guru yang islami idealnya mencakup tiga pilar utama:
Pertama, integrasi ilmu dan iman. Kurikulum tidak boleh sekadar memproduksi tenaga pengajar yang terampil, tetapi juga membangun kesadaran spiritual tentang makna mengajar sebagai ibadah.
Kedua, etika profesi berbasis adab Islam. Guru harus dibekali adab ilmiah seperti rendah hati, menghargai guru sebelumnya, dan tidak sombong dengan ilmunya.
Ketiga, penguatan akhlak dan niat. Tujuan akhir pendidikan guru bukan hanya sertifikasi profesi, melainkan menjadi insan berilmu yang membawa maslahat bagi umat.
Dalam sejarah Islam, lembaga seperti madrasah dan pesantren telah berhasil menanamkan nilai-nilai ini secara turun-temurun.
Di sana, proses pembentukan guru tidak hanya dilakukan melalui pelatihan metodologi mengajar, tetapi juga melalui pembiasaan ibadah, keteladanan guru senior, dan kehidupan kolektif yang beradab.
Tradisi ini sejatinya dapat dihidupkan kembali dalam pendidikan profesi guru kontemporer agar tidak tercerabut dari akar nilai-nilai keislaman.
Baca Juga: Mengenal Mediasi dalam Islam: Apa yang Boleh dan yang Tidak Boleh dalam Perdamaian
Dengan demikian, pendidikan profesi guru yang sesuai dengan nilai-nilai Islam harus menempatkan guru sebagai agen peradaban, bukan sekadar pelaksana kurikulum. Guru berperan membangun generasi yang beriman, berilmu, dan beradab. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:
العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ
“Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.”
Guru yang berilmu tetapi tidak mengamalkan nilai Islam akan kehilangan esensi keilmuannya. Namun, guru yang berilmu dan beramal akan menjadi sumber cahaya bagi umat—menerangi generasi dengan pengetahuan dan menuntun mereka pada kebenaran.
Inilah visi pendidikan profesi guru yang sejati dalam Islam: mengajarkan ilmu dengan cinta, menanamkan adab dengan teladan, dan menumbuhkan iman dengan kesadaran spiritual yang mendalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









